Etika Berkomunikasi Hindari Jeratan UU ITE

Etika Berkomunikasi Hindari Jeratan UU ITE

Bandung Side, Kabupaten Bogor – Etika Berkomunikasi di ruang digital belum sepenuhnya memperhatikan tata bahasa yang sesuai norma, sopan santun dan berbudaya saat berkomentar.

Kini dengan berkembangnya teknologi dan perubahan interaksi sosial yang berpindah ke ruang digital, masyarakat bisa memiliki satu komunitas baru di media sosial di mana penggunanya saling berinteraksi menggunakan bahasa.

Indonesia memiliki 11 ribu bahasa daerah dan Bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa resmi nasional ada yang sifatnya formal dan informal.

Sehingga meskipun tengah ada di media sosial, etika berkomunikasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik non formal sebenarnya tetap bisa dilakukan.

Bahkan saat memberikan reaksi di kolom komentar penggunaan bahasa sopan, tanpa ada ujaran kebencian, maupun tata bahasa Indonesia yang baik semuanya akan memengaruhi pembuat konten untuk memproduksi konten bermanfaat lainnya.

“Penggunaan Bahasa Indonesia yang benar itu biar komen-komen yang terbaca bisa terserap baik,” kata Shandy Susanto, Dosen Podomoro University saat webinar Literasi Digital, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jum’at (16/7/2021).

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar juga dimaksudkan untuk menghindari salah tafsir atau terjadi kesalahpahaman di dunia maya.

Selain itu menurut Shandy reaksi berupa komentar yang memicu konflik di dunia maya karena kurang beretik dalam merespon konten bisa menjerat pengguna pada UU ITE dan berujung pidana.

Seperti pada pasal 27 yang menyebut untuk tidak mendistribusikan dokumen elektronik yang mengacu pada pelanggaran norma kesusilaan, pemerasan, hingga ancaman.

Lalu pasal 28 dan pasal 29 mengenai berita bohong, ujaran kebencian, hingga ancaman kekerasan.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Di webinar kali ini ada beberapa nara sumber lainnya yang ikut hadir di antaranya Indah Jiwandono, Brand Owner Cool Sugar Wax, Eko Juniarto, Co-Founder Mafindo, dan Diena Haryana, Founder SEJIWA.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan