Perubahan Tata Bahasa Ditengarai dari Media Sosial

Perubahan Tata Bahasa Ditengarai dari Media Sosial

Bandung Side, Kota Bekasi – Perubahan tata bahasa tidak tercermin dari 700 bahasa yang dimiliki Bangsa Indonesia, tak ada di negara lain yang mempunyai bahasa sebanyak ini.

Namun ditengarai banyaknya perubahan tata bahasa berasal dari media sosial sebagai fungsi komunikasi di era digital.

Pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi untuk mengungkapkan perasaan emosi dan ide serta mengirimkan informasi, sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.

Bahasa yang baik harus disesuaikan dengan atau kepada siapa berbicara, selain itu tujuannya lebih untuk fungsi komunikatif.

Sementara bahasa yang benar mengikuti kaidah tata bahasa normatif dengan penerapan pola kalimat baku, memiliki susunan SPOK dan menggunakan kalimat aktif, ejaan resmi dan penggunaan kalimat secara efektif.

Sebanyak 175,4 juta masyarakat Indonesia telah menggunakan dan sebanyak 160 juta sudah menggunakan media sosial, di antara 59% aktif di media sosial.

Media sosial saat ini ikut memunculkan fenomena pergeseran penggunaan bahasa Indonesia.

“Bahasa lisan jadi tulisan, pengguna sering mengabaikan kaidah penggunaan bahasa dengan menyingkatnya atau menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam kalimat. Penyingkatan kata juga digunakan agar kalimat lebih pendek,” kata Irma Nawangwulang, Lecture IULI saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, Jum’at (16/7/2021).

Irma mengatakan, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bisa membuat citra seseorang di mata publik baik.

Apalagi kini media sosial kini digunakan sebagai sarana bisnis, jualan, hingga branding dengan segala tujuan itu. Di samping itu, saat berjualan membalas pesan konsumen juga harus dengan bahasa yang baik dan benar.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Henry V Herlambang CMO Kadobox, Golda Siregar Senior Consultant at Power Character, dan Roky R. Tampubolon seorang Praktisi Hukum.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan