Sertu Tumijo: Maggot Beri Solusi Tangani Sampah Organik

Bandung Side, Majalaya – Sampah rumah tangga sampai hari ini menjadi pekerjaan rumah bagi warga, terutama bagi yang mendambakan lingkungan bersih. Pengelolahan sampah berbasis serangga tengah dikembangkan dewasa ini, yakni dengan menggunakan maggot sebagai solusi tangani sampah organik yang berasal dari rumah tangga, Kamis (2/4/2020).

“Maggot merupakan larva Lalat Tentara Hitam atau disebut Black Soldier Fly (BSF) jenis lalat yang bersih dan bersahabat dengan manusia. Berbeda dengan lalat hijau atau lalat sampah yang hinggap dan makan pada tumpukan sampah lalu masuk ke rumah-rumah dan hinggap pada makanan kita sehingga menjadi sumber penyakit,”kata Sertu Tumijo, satgas Sektor 4 Citarum Harum Sub Desa Wangisagara saat dikunjungi Bandung Side di Pos Sektor 4 Desa Wangisagara.

Maggot, Larva Lalat Tentara Hitam atau Black Soldier Fly (BSF) menjadi solusi mengatasi sampah organik, Kamis (2/4/2020).

“BSF dewasa memiliki fase hidup yang singkat, hanya sekitar 7 hari sampai 14 hari saat menginjak masa Pupa. Ditilik dari ukuran, panjang lalat (*BSF) berkisar antara 15-20 mm dengan karakter sayap masih terlipat kemudian mulai mengembang sempurna hingga menutupi bagian torak kepalanya. Saat BSF dewasa, baik jantan maupun betina tidak memiliki bagian mulut yang fungsional untuk makan, sehingga BSF dewasa hanya beraktivitas untuk kawin dan bereproduksi sepanjang hidupnya yang singkat tersebut, karena setelah itu mati,”jelas Sertu Tumijo.

Setelah BSF kawin dan reproduksi, lanjut Sertu Tumijo, yang jantan mati, sedangkan yang betina dalam waktu 2-3 hari akan bertelur hingga 500-1.500 buah dan menetas dalam waktu 3-4 hari. Bayi-bayi BSF yang berbentuk larva itulah yang disebut Maggot. Larva atau Maggot akan menjadi dewasa dalam usia 18-21 hari dengan kondisi berwarna putih kecoklatan, setelah itu mengalami masa Prepupa dengan kondisi warna hitam mencari tempat kering untuk menjadi Pupa dalam masa 7 hari. Masa Pupa 7 hari hinga 1 bulan sudah tidak bergerak sampai menetas menjadi Lalat Tentara Hitam atau BSF kembali.

Satgas Sektor 4 Citarum Harum sedang membersihkan kandang maggot yang akan mengalami masa Prepupa, Kamis (2/4/2020).

“Selama masa hidupnya larva Lalat Tentara Hitam atau maggot ini memakan makanan yang bersifat organik, dan ini dapat dimanfaatkan untuk menekan limbah atau sampah organik yang sudah lama menjadi masalah serius bagi kita termasuk pemerintah,”ungkap Sertu Tumijo.

Menurut teori dari hasil penelitian, kemampuan Maggot dalam melahap makanan organik ini sangat fantastis, dari jumlah 10.000 larva dapat menghabiskan 1Kg (satu kilo gram) makanan organik dalam waktu 24 jam. Jika satu ekor BSF betina dapat menghasilkan minimal 500 telur, maka hanya dibutuhkan 20 ekor BSF betina yang bertelur untuk menghasilkan 10.000 larva untuk mereduksi 1Kg sampah organik setiap hari.

Memilah kotoran Maggot untuk dijadikan pupuk, Kamis (2/4/2020).

Maggot BSF ini memiliki nutrisi yang baik, kandungan protein tinggi dan asam amino yang lengkap sehingga digunakan sebagai sumber pakan alternatif yang baik untuk sejumlah hewan ternak seperti jenis unggas ayam petelur, ayam pedaging, burung puyuh dan ikan, serta sejumlah binatang peliharaan seperti iguana, burung berkicau. Sehingga Maggot yang sudah berbentuk tepung dapat mengurangi ketergantungan peternak pada protein dari tepung ikan dan tepung kedelai yang harganya semakin mahal dan terbatas ketersediaannya.

“Selain keuntungan dapat mengurai sampah organik, menjadi pupuk dan sebagai pakan ternak dari Maggot, bila dalam lingkungan terdapat populasi lalat BSF mampu mengurangi populasi lalat rumah atau lalat hijau yang merugikan. Apabila dalam sampah organik telah didominasi oleh Maggot, maka lalat rumah atau lalat hijau tidak akan bertelur di tempat tersebut. Secara alamiah, Maggot akan mengeluarkan senyawa kimia yang mencegah lalat rumah untuk bertelur di tempat sampah organik tersebut berada,”ungkap kembali Sertu Tumijo.

Maggot yang akan mengalami masa Prepupa, Kamis (2/4/2020).

Dapat disimpulkan bahwa dengan membudidayakan Maggot sebagai solusi dalam mengelolah sampah organik mempunyai keuntungan menjadi solusi menangani sampah organik berbasis serangga yang menguntungkan, sampah organik tidak menimbulkan bau, kotoran Maggot dapat dijadikan pupuk, Maggot dapat dijadikan alternatif makanan ternak yang mengandung protein tinggi dan Maggot menjadi solusi mengatasi sampah organik dengan biaya murah, tambah Sertu Tumijo.

Kandang Lalat Tentara Hitam tempat proses kawin dan reproduksi untuk menghasilkan Maggot, Kamis (2/4/2020).

“Dalam membudidayakan Maggot dengan skala ideal dapat memanfaatkan potensi wilayah desa yang ada, karena sebagai pengurai sampah organik yang handal bisa dibuat secara masal dan serentak tiap Kepala Keluarga. Dengan saling menularkan ilmu budidayanya pada tiap warga, sampah organik rumah tangganya dapat diatasi dengan solusi yang murah. Pemanfaatan barang bekas seperti ember, drum bekas atau kayu bekas sebagai kandang Maggot menjadi solusi juga. bahkan manfaat dan keuntungan dari Maggot juga menghasilkan uang jutaan bila dapat mengembangkan menjadi industri dalam skala rumahan,”pungkas Sertu Tumijo.***

Facebook Comments

Leave a Reply