Beretika di Ruang Digital Punya Dampak Positif

beretika

Bandung Side, Kabupaten Ciamis – Beretika pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan, kini sudah ada 202,6 juta penduduk di Indonesia telah menggunakan internet, 170 juta di antaranya aktif di media sosial.

Tapi faktanya beretika penggunanya cukup mengkhawatirkan setelah adanya hasil survei Digital Civility Index Microsoft yang menyebut tingkat kesopanan masyarakat Indonesia paling rendah se-Asia Tenggara dan termasuk terendah ke-4 di dunia.

“Lebih dari setengah penduduk Indonesia yang sudah melek digital, sayangnya tidak diiringi etika bermedia digital yang sesuai norma kesopanan,” kata Monica Eveline, Digital Strategist Diana Bakery saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Kamis (30/9/2021).

Dia mengatakan pentingnya menerapkan etika di ruang digital, sebab kecakapan pemanfaatan teknologi digital tak sebatas hanya mengoperasikannya dan penggunaan media sosial saja.

Lebih dari itu beretika di ruang sama dibutuhkannya seperti etika di dunia nyata saat melamar pekerjaan maupun berkomentar walaupun tidak bertatap muka langsung.

Sebab ada banyak kasus hanya karena komentar dari jempol yang asal saja bisa menggangu dan menyebabkan seseorang menjadi tidak nyaman, merasa dilecehkan, hingga memicu stres dan gangguan mental, bahkan menyebabkan bunuh diri.

Adapun etika di ruang digital meliputi berkomunikasi sopan dan baik saat berinteraksi dengan pengguna lainnya, menghindari SARA dan cyberbullying, tidak mengumbar hal-hal pribadi, dan mewaspadai berita hoaks yang beredar di internet.
Secara kritis bisa memilah informasi mana yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama di masa pandemi Covid-19 begitu banyak informasi kesehatan yang beredar dan belum tentu benar.

Lebih jauh dia mengungkapkan, menerapkan etika saat menggunakan media digital pun memberikan nilai positif dan keuntungan bagi individu.

Hal tersebut sama saja seperti membangun personal branding dan membawa kredibilitas serta kepercayaan.

Termasuk membangun relasi dan membuat seseorang menjadi mudah untuk bisa melakukan kolaborasi misalnya dengan brand atau influencer.

Akan tetapi tetap berhati-hati supaya tidak tertipu atau termakan hoaks saat ingin berinteraksi dan berkolaborasi.

“Cek dulu track record, konten apa yang sering dibagikan, perhatikan etikanya di dunia digital, cek kolaborasi dengan siapa saja, dan perhatikan circle terdekatnya,” kata Monica Eveline.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hadir pula nara sumber seperti Aditya Nova Putra, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULI, Dee Rahma, Digital Marketing Strategist, dan Idayanti Sudiro, Certified Life & Wellness Coach.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan