Satgas Sektor 4 Sosialisasi Limbah Industri Rumahan Penyebab Pencemaran Sungai Cipalemahan di Desa Sukamantri

Bandung Side, Paseh – Satgas Sektor 4 Citarum Harum melakukan sosialisasi limbah industri rumahan yang terdapat di Desa Sukamantri, Paseh serta dampaknya terhadap lingkungan dan pencemaran Sungai Cipalemahan, Selasa (17/3/2020).

Industri rumahan di Desa Sukamantri terdata sebagai usaha mandiri warga yang sudah berjalan hampir 10 tahun namun belum mengetahui bahwa terdapat dampak lingkungan pada hasil proses produksinya menghasilkan limbah cair dan limbah padat yang dapat mencemari Sungai Cipalemahan. Hal tersebut diketahui oleh Satgas Sektor 4 bahwa proses pembuatan industri rumahan seperti pengrajin makanan ringan tempe, tahu dan ikan pindang masih membuang olahan limbah cairnya langsung ke Sungai Cipalemahan yang merupakan anak Sungai Citarum.

Industri rumahan pembuat tempe di Desa Sukamantri, Paseh, Selasa (17/3/2020).

Menurut Komandan Kompi (Danki) Sektor 4 Citarum Harum, Letda Arh Dwi Iswantoro bahwa dalam industri tempe menghasilkan limbah cair dan limbah padat, dari 1000 gram atau 1 kg kedelai limbah yang dihasilkan limbah sebesar 21,9 % yang terdiri dari 8 % kulit, 12,2 % larut dalam proses perebusan dan 1,7 % hilang pada proses inkubasi atau waktu tunggu/masa tunggu saat proses fermentasi.

“Produsen tempe, tahu dan ikan pindang sering membuang limbah cair ke aliran sungai, padahal limbah cair dari olahan tersebut termasuk dalam limbah yang biodegradable yaitu merupakan limbah yang dapat dihancurkan oleh bakteri atau mikroorganisme. Senyawa organik yang terkandung didalamnya akan dihancurkan oleh bakteri yang menguntungkan meskipun prosesnya lambat sehingga sering dibarengi dengan keluarnya bau busuk. Dampak dari pembuangan limbah cair langsung ke sungai ini adalah terganggunya biota dan ekosistem di sepanjang aliran sungai dikarenakan bakteri yang tadinya menguntungkan menjadi tidak menguntungkan bila tidak dikelola dengan baik,”jelas Letda Dwi Iswantoro.

“Untuk mengatasi masalah pencemaran yang disebabkan oleh limbah cair tersebut diperlukan suatu langkah yang cermat, sehingga limbah cair dapat dibuang ke lingkungan sekitarnya dengan aman apalagi dapat dikelola menjadi barang yang lebih bermanfaat seperti pupuk cair yang dapat meningkatkan hasil pertanian. Jika pencemaran itu tidak dapat dihindari setidaknya harus diupayakan untuk meminimalisasi dampak yang mungkin terjadi,”ungkap Letda Dwi.

Limbah cair hasil olahan tempe yang langsung dibuang ke Sungai Cipalemahan, Selasa (17/3/2020).

Pembuatan limbah cair menjadi pupuk cair, lanjut Letda Dwi, ada beberapa metode seperti penambahan EM4 (Effective Microorganisme 4) atau dengan cara fermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Tanaman yang diberikan pupuk cair dari limbah tempe jika pemberiannya tidak berlebihan ternyata tanaman tersebut akan merespon dengan baik dan memberikan hasil yang optimal, karena air hasil perendaman kedelai mengandung unsur N (nitrogen), P (phospor), dan K (kalium) yang baik.

“Banyak potensi sumber daya terdapat disekitar kita, akan tetapi terkadang kita tidak tahu memanfaatkannya dan akhirnya dibuang begitu saja dan menjadi pencermaran lingkungan bahkan pencemaran air sungai. Dibutuhkan tambahan wawasan dan kreatifitas untuk bisa menemukan pemikiran inovasi dari yang dianggap tidak penting dapat dijadikan sumber penghasilan lainnya,”pungkas Danki Sektor 4, Letda Arh Dwi Iswantoro.

Menurut rencana, dalam program kerja Satgas Sektor 4 akan ada pertemuan pengusaha industri rumahan dalam waktu dekat untuk mencari solusi terbaik dari permasalahan yang ada, ungkap Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamantri, Serka Engkus.

“Menimbang bahwa limbah industri pangan dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan, karena mengandung sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak, garam-garam, mineral, dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan proses pembersihan. Air buangan atau limbah buangan dari pengolahan pangan mengandung Biological Oxygen Demand (BOD) tinggi yang menjadi parameter air baku mutu dan mengandung polutan seperti tanah, larutan alkohol, panas dan insektisida berbahaya. Apabila air buangan proses produksinya dibuang langsung ke sungai akibatnya akan menganggu seluruh keseimbangan ekologi dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya,”papar Serka Engkus.

“Seperti yang terjadi di Sungai Cipalemahan, kondisi air sungai berubah menjadi keruh dan berbau yang mengakibatkan menjadi tidak steril sebagai sarang penyakit. Tanpa disadari oleh kita kehidupan makhluk hidup di sungai menjadi terganggu seperti ikan. Bila berlarut dibiarkan kondisi tersebut, bagi masyarakat yang memanfaatkan air sungai yang terkontaminasi air limbah akan sakit dan sangat rentan terhadap penyakit,”pungkas Serka Engkus.***

Facebook Comments

Leave a Reply