Andil Besar Dari 15 Pengusaha Industri Rumahan Di Desa Sukamantri Untuk Mengelola Limbah Cairnya

Bandung Side, Paseh – Satgas Sektor 4 Citarum Harum bertemu dengan 15 pengusaha industri rumahan Desa Sukamantri, Paseh untuk sosialisasikan limbah cair yang memiliki andil besar dalam merevitalisasi Sungai Cipalemahan di Posko Satgas Desa Sukamantri jl. Olah Raga, Sukanegla, Kamis (19/3/2020).

Sosialisasi sekaligus silahturahim kepada pengusaha industri rumahan yang terdiri dari pengrajin tempe, tahu dan pembuatan ikan pindang bersama dengan Sekretaris Desa, Enjang Deni dan Kadus 3 orang menerima arahan dari Komandan Kompi (Danki) Sektor 4, Letda Arh. Dwi Iswantoro. Selain itu, sosialisasi tentang limbah cair juga disampaikan oleh Haris, Manajer IPAL PT Gunajaya Santosa, Majalaya sebagai nara sumber.

Menurut Danki Sektor 4 Letda Arh. Dwi iswantoro bahwa air limbah dari industri telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Sedangkan industri yang dimaksud oleh Permen tersebut terdapat pada Pasal 1 dan Pasal 3 yaitu kurang lebih 46 industri yang menghasilkan limbah.

Danki Sektor 4 Citarum Harum, Letda Arh. Dwi Iswantoro (tengah) sedang memberi arahan kepada 15 pengusaha industri rumahan, didampingi Sekdes Sukamantri, Enjang deni (kiri) dan Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamantri, Serka Engkus (kanan), Kamis (19/2/2020).

“Sedangkan parameter baku mutu air limbah pada industri tersebut terdapat pada pasal 14 dan pada lampiran Permen Nomor 5 Tahun 2014 telah dijelaskan. Mungkin sebagian besar hadirin belum mengetahui dan silahkan diricek melalui internet sebagai bahan ilmu pengetahuan,”kata Danki Sektor 4, Letda Dwi Iswantoro saat membuka acara sosialisasi.

Latar belakang diadakan sosialisasi kepada pengusaha industri rumahan di Desa Sukamantri, Kecamatan Paseh berawal dari temuan Satgas Sektor 4 Citarum Harum saat mengambil sampel air Sungai Cipalemahan beberapa waktu lalu untuk diuji laboratorium. Kami sempat kaget dengan hasil uji lab air Sungai Cipalemahan tersebut, yakni pada parameter menunjukkan Turbidity:785, TSS:677, Colour:+++(tidak terbaca), PH:+++(tidak terbaca), TDS:360, COD:+++(tidak terbaca), hal tersebut menunjukkan bahwa air Sungai Cipalemahan tercemar air limbah dan air nya tidak sesuai dengan baku mutu, lanjut Danki Letda Dwi.

“Temuan tersebut kami laporkan kepada Komandan Sektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin dan menjadi perhatian khusus, sehingga langsung memerintahkan Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamantri untuk segera melakukan sosialisasi secara personil kepada pengusaha atau industri yang ada disekitar Sungai Cipalemahan. Terdapat sekitar 15 pengusaha atau pengrajin tempe, tahu dan pengolahan ikan pindang yang paling dominan yang telah tercatat. Hal tersebut membuat kami, Satgas Citarum Harum ingin bertemu langsung dengan pengusaha atau pengrajin untuk memberi sosialisasi tentang air limbah yang berasal dari proses produksi telah mencemari Sungai Cipalemahan,”papar Danki Dwi.

Antusias 15 pengusaha industri rumahan mengikuti sosialisasi pengelolahan limbah cair di Posko Satgas Sektor 4 Desa Sukamantri jl. Olah Raga, Sukanegla, Kamis (19/3/2020).

Sungai Cipalemahan yang mengalir menuju Sungai Cikaroh kemudian bermuara ke Sungai Citarum secara berkelanjutan akan dialiri oleh air limbah secara terus menerus, tambah Danki Dwi, hal tersebut akan merusak ekosistem yang terdapat pada ke-3 sungai tersebut. Indikasinya yang paling dekat tidak adanya ikan yang hidup di sepanjang aliran Sungai Cipalemahan. Bahkan Sungai Citarum mendapatkan julukan sebagai Sungai Terkotor di Dunia karena pencemaran limbah.

“Satgas Citarum Harum tidak bisa bekerja sendiri untuk revitalisasi Sungai Cipalemahan atau memperbaiki sungai yang tercemar menjadi sungai yang bersih tanpa andil besar warga Desa Sukamantri, khususnya pengusaha atau pengrajin industri rumahan ini. Karena, bila tidak dimulai dari sekarang, revitalisasi 1 kubik air limbah membutuhkan waktu 30 tahun bila kita tidak melakukan apa-apa,”jelas Danki Dwi yang antusias diperhatikan hadirin dari penjelasannya.

Secara teknis dalam mengelola air limbah yang dihasilkan oleh industri rumahan disampaikan oleh Haris yang mengatakan bahwa limbah cair pada industri tempe, tahu, maupun pengolahan ikan pindang dapat dilakukan dengan penyaringan atau disaring, dapat ditempatkan pada media plastik atau media permanen untuk dijadikan biogas dan untuk pupuk tanaman. Sedangkan untuk limbah padatnya secara umum dan mungkin sudah diketahui yakni untuk pakan ternak.

“Namun untuk menyamakan persepsi kita, apakah bapak dan ibu setuju bila apa yang ibu hasilkan dalam dalam proses produksi sebelum menjadi produk jadi yang dibuang di sungai itu adalah limbah ?,”tanya Haris kepada pengusaha industri rumahan yang hadir.

Bila bapak dan ibu setuju kalau itu limbah, lanjut Haris, adakah kemauan untuk mengelola limbahnya sendiri ? Hal ini perlu sekali diketahui karena niat aja belum cukup, diperlukan waktu yang tidak lebih dari 2 jam dalam dalam mengelolanya. “Masa sich limbah dari usaha bapak dan ibu sebagai pengusaha, tapi tidak mau ngurusi bahkan diperlakukan tidak baik limbahnya ?,”ucap Haris menyentuh.

Andil besar dari 15 pengusaha industri rumahan dalam merevitalisasi Sungai Cipalemahan,”kata Danki Dwi Iswantoro, Kamis (19/3/2020).

“Bila bapak dan ibu tidak ada kemauan untuk mengelola limbahnya sendiri, akan mengakibatkan pencemaran sungai dan berdampak sangat luas. Dampak tersebut juga akan dirasakan oleh bapak dan ibu baik secara langsung maupun secara tidak langsung, bahkan yang lebih utama terdampak adalah warga yang mendiami sekitar aliran sungai. Entah dampak kesehatan, rusaknya kehidupan yang terdapat di air sungai atau dampak rusaknya lingkungan,”jelas Haris.

“Salah satu contoh bila air limbah yang dihasilkan dapat dikelola menjadi pupuk cair untuk tanaman sayuran, selain dapat menghasilkan panen yang berkualitas karena terhindar dari hama, juga dapat menyuburkan tanah. Dari hasil penelitian, bila menggunakan pupuk kimia dibandingkan dengan menggunakan pupuk alami, pada kondisi tanah dikedalaman 2 meter dapat mengeras seperti keramik. Hal tersebut dikarenakan menggunakan pupuk kimia dapat merusak unsur hara tanah, sedangkan bila menggunakan pupuk alami kondisi tanah tetap gembur dan subur,”terang Haris.

“Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh orang Belanda, bahwa produk tahu sumedang buatan orang Majalaya dan sekitarnya lah yang paling enak. Jadi Tahu Sumedang dulunya tidak dibuat di Sumedang tapi dibuat di Majalaya dan sekitarnya, mungkin juga buatan dari Desa Sukamantri dan Sumedang hanya tempat penggorengannya. Dapat dipastikan bahwa tahu tersebut dibuat dengan proses penggunaan air bersih sehingga menghasilkan tahu yang bercita rasa khas,”kata Haris.

Enjang Deni selaku Sekretaris Desa (Sekdes) Sukamantri sangat apresiasi kepada Satgas Sektor 4 Citarum Harum, karena sudah menginisiasi pertemuan 15 pengusaha industri rumahan dalam rangka mengembalikan keasrian sungai dan perbaikan lingkungan sesuai dengan Perpres No 15 tahun 2018. “Saya mewakili Kepala Desa sangat mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada Satgas Citarum yang ada di Sektor 4 dalam rangka mengembalikan lagi keasrihan Sungai Cipalemahan dan yang utama dalam menanggulangi masalah sampah di Desa Sukamantri,”ucap Enjang Deni.

Suasana silahturahmi Satgas Citarum Harum bersama 15 pengusaha industri rumahan di Posko Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamantri, Kamis (19/3/2020).

Bila kita bicara sampah atau kebersihan, maka secara langsung sudah bicara tentang peradaban dan pola pikir manusia. Islam mengajarkan “Kebersihan Sebagian Dari Iman”, semua sudah pada tahu, tapi dilapangan atau mengaplikasikannya yang berat karena berhubungan dengan peradapan dan pola pikir manusianya tersebut, lanjut Enjang.

“Semoga dengan pertemuan ini, warga dapat berkontribusi aktif khususnya 15 pengusaha yang hadir untuk mengembalikan Sungai Cipalemahan menjadi lebih baik kembali terutama Sungai Citarum. Permasalahan sampah juga terdapat di Desa Sukamantri yang dalam catatan sekitar 20% sudah dapat ditangani, namun yang 80% ini entah kemana belum ada laporan dari warga. Terima kasih sekali lagi kepada Satgas Sektor 4 yang telah mendorong warga untuk kembali sadar agar dapat menjaga lingkungan,”pungka Enjang. ****

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan