Kesadaran Masyarakat Dalam Mengelola Limbah dan Sampah Sangat Minim

Bandung Side, Kabupaten Bandung – Memasuki wilayah Kecamatan Margaasih melalui jembatan Latanza yang menghubungkan komplek Taman Kopo Indah (TKI) dengan Desa Pameuntasan melipir di bantaran Sungai Citarum sisi selatan nampak asri pemandangan sekitar dengan tumbuhnya pohon kamboja.

Nampak juga pemandangan sisi kiri bantaran kesibukan penduduk bantaran dengan aktifitas bermacam-macam, ada yang sedang memilih dan memilah barang bekas berupa botol dan gelas plastik dari air kemasan, tas kresek, kardus hingga styrofoam, penggergajian kayu, cetak batu bata merah hingga tampak bangunan pagar dengan pintu lebar seperti pergudangan atau entah apap. Selain itu, banyak aktifitas lainnya yang dilakukan penduduk bantaran Sungai Citarum dari Desa Pameuntasan hingga Desa Daraulin sepanjang kurang lebih 4 km keberadaannya.

Asrinya wilayah bantaran dengan tumbuhnya pohon Kamboja kontradiksi saat cerobong asap mengepulkan asap hitam diwilayah Desa Gajah Mekar

Bantaran Sungai Citarum dengan segala aktifitas penduduknya menjadi penggerak ekonomi warganya dalam melakukan usaha entah sebagai pekerja atau sebagai pemilik usaha. Namun sejak keluarnya Perpres No. 15 Tahun 2018 Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum, bantaran Sungai Citarum menjadi fokus TNI Siliwangi dalam perbaikan ekologi Sungai Citarum yang rusak karena pencemaran limbah cair industri dan rumah tangga.

Tembok dan pagar besi berdiri angkuh seakan menghalangi pandangan dari aktifitas didalam gedungnya.

Perpres No 15 2018 yang di-sah kan oleh Presiden Joko Widodo dalam Bab VII tentang Partisipasi Masyarakat, Pasal 18, ayat 1 bahwa Masyarakat berpartisipasi dalam upaya pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan serta pemulihan DAS Citarum. Sedangkan ayat 2 mengatakan bahwa Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas individu, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, filantropi, pelaku usaha, akademisi dan pemangku kepentingan lainnya. Pasal tersebut menjadi subtansi dan roh atas keberhasilan Perpres No 15 Tahun 2018 dengan Program Citarum Harum.

Selalu tertutup, padahal aktifitas perecah sampah plastik ada didalamnya.

Namun dilapangan sungguh jauh berbeda, seperti tungku yang jauh dari kompornya, masakan tidak akan segera matang. Seperti yang disampaikan oleh slah satu warga Kecamatan Margaasih, sebut saja Muhammad (46th) mengatakan kepada Bandung Side bahwa pelaku usaha yang ada dibantaran Sungai Citarum sejak lama melakukan praktek pelanggaran dengan membuang limbah, sampah dan aktifitas kamar mandinya langsung ke Sungai Citarum. Tanpa dikelola dengan IPAL, tidak memiliki Tempat Pengelolahan Sampah dan septictank.

Limbah cair dari usaha pencucian pencacah plastik mengalir ke parit yang menuju anak sungai mati Desa Daraulin

Aktifitas usaha washing atau pencucian kain yang terdapat disepadan Sungai Citarum hampir 90% limbahnya keluar tanpa melalui pengelolahan IPAL terlebih dahulu ke Sungai Citarum. Dari Desa Pameuntasan, Gajah Mekar, Kutawaringin, Nanjung, Jelegong hingga desa Daraulin terdapat kurang lebih 12 pengusaha. Sedangkan usaha pengumpul sampah plastik yang memiliki mesin perajangan kurang lebih 9 pengusaha yang dalam prosesnya, setelah plastik dirajang akan dicuci dengan air. Limbah cucian rajang plastik tersebut menghasilkan limbah meskipun dalam mencucinya tidak menggunakan deterjen atau bahan kimia pembersih, selain ini ada beberapa rajangan plastik yang ikut terbuat dalam saluran pembuagan yang dialirkan ke parit-parit kecil menuju anak sungai dan Sungai Citarum. Sehingga, dari sirkulasi proses perlakuan perajangan bahan botol plastik tetap menghasilkan limbah cair yang berwarna coklat.

Recahan plastik yang tercecer ikut terbuang dengan limbah cairnya yang disebabkan tidak melalui pengelolahan IPAL

“Usaha washing yang dijalankan tidak melengkapi dengan pengelolahan IPAL nya, sehingga limbah yang dihasilkan hanya ditampung dikolam-kolam atau tanah galian dibelakang pabriknya yang memberi pencemaran bau menyengat dan tanaman disekitar pabrik mati dengan perlahan,”kata Muhammad dengan lugas.

Limbahcair hitam usaha washing yang dialirkan dibelakang tanah kosong bagian dari pabrik menimbulkan pencemaran

Muhammad bercerita cukup tragis, saat kisahnya mengungkap bahwa ada praktek-praktek jahat yang terorganisir dan sistematis pada sungai mati atau oxbow yang merupakan lahan sudetan dari Sungai Citarum di Desa Daraulin dimanfaatkan oleh oknum dijual atau disewa kepada pengusaha pengumpul rongsok. Pembiaran lahan atau tanah yang harusnya diurus oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS Citarum) mengakibatkan patok sebagai parameter ukur sepadan sungai banyak yang hilang dicabut oleh oknum dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Penyerobotan tanah oleh penduduk juga sering terjadi dengan menambah bangunan berupa pagar atau perluasan rumah dikarenakan patok dan batas parameter sepadan sungai hilang.

Sampah plastik tercecer keparit atau ke saluran irigasi sawah menuju anak sungai wilayah Desa Daraulin.

Memang bukan tugas Satgas Citarum Harum untuk mengetahui kejahatan teroganisir dan tersistematis berupa praktek sewa, jual-beli tanah negara dan penyerobotan tersebut, namun pemanfaat untuk usaha yang menghasilkan limbah terjadi tanpa adanya pembinaan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, maupun pemerintahan terkecil dari tingkat RT, RW, Kelurahan hingga Kecamatan mengindikasikan bahwa Program Citarum Harum tidak mendapatkan simpati dan partisipasi dari masyarakat.

Pemandangan yang sudah biasa di Desa Nanjung dengan bercecernya sampah plastik

Selain itu, praktek-praktek premanisme yang melindungi usaha yang tidak bertanggung jawab tersebut marak terjadi. Jadi bila ada warga sekitar yang melaporkan bau menyengat, tercemarnya sumur warga hingga sampah yang berserakan mengalami kemandegan atau terhenti baik di pemerintahan terkecil hingga Dinas Lingkungan Hidup. “Kabarnya sudah diselesaikan secara sepihak oleh pengusahanya, alias di “86” kan,”cerita Muhammad terbata-bata.

Praktek pembiaran pengusaha perajang sampah plastik dengan mengumpulkan saja sampahnya di oxbow Daraulin

Bahkan warga pelapor tersebut tidak jarang yang dilabrak, diteror oleh preman-preman suruhan pengusaha yang melanggar tersebut untuk mengintervensi agar tidak turut campur dengan usaha yang dijalankan. Sehingga hingga hari ini pun praktek pencemaran limbah cair di Sungai Citarum tidak akan bisa teratasi bila partisipasi masyarakat berbanding terbalik malah merestui dengan alasan ekonomi.

Usaha pengumpul barang bekas yang dapat menghidupi keluarga tapi limbahnya terlupakan

Satu sisi bila perut lapar harus diberi makan, tapi satu sisinya merugikan perut orang lain karena makanannya mengandung bakteri penyakit hasil dari limbah yang diciptakan pengusaha dengan alasan ekonomi tersebut. Seperti buah simalakama, tidak ada ujung dan tidak ada pangkalnya, yang pasti praktek membuang limbah cair tanpa di-ola dan dikelola dibuang langsung ke Sungai Citarum dapat merusak ekologi sungai tersebut sekaligus dapat merusak lingkungan.

Gerobak Kehidupan di desa Gajah Mekar

Muhammad pun berharap, permasalahan yang ada di sepadan Sungai Citarum dapat segera teratasi, karena memberi akibat tidak hanya saat ini namun perlahan tapi pasti generasi emas kita tidak bisa unggul sesuai harapan.***

Facebook Comments

Leave a Reply