STIMLOG Ikuti Workshop Pembelajaran Dengan Pendekatan PBL

Bandung Side, Pasteur – Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dari kehidupan suatu bangsa, sebab maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana pengelolaan masalah pendidikannya. Berlatar belakang hal tersebut, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan menggelar workshop yang bertemakan “Embracing E-Commerce Framework and its Challengers” di Holiday Inn Hotel Jl. Djunjunan No.96, Pasteur-Bandung, Selasa 25/6/2019.

Workshop yang dipresentasikan oleh Republic Polytechnic, Singapura merupakan tindak lanjut dari kerjasama yang dilakukan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Dikti dan PT Pos Indonesia (Persero) sebagai koordinator pelaksana program. Workshop diikuti diantaranya STIMLOG, Poltek Pos, Pos Log dan Pos Indonesia yang dapat dikatakan sebagai institusi pendidikan PT Pos Grup dalam naungan Yayasan Pendidikan Bhakti Pos.

Ismanto SE., M.M., salah satu peserta perwakilan STIMLOG sekaligus sebagai dosen Managemen Transportasi mengatakan,”Workshop yang dipresentasikan oleh Republic Polytechnic memasuki tahap 6 dengan tema “Embracing E-Commerce Framework and its Challengers” merupakan kelanjutan dari workshop sebelumnya dengan goal bahwa peserta dapat mempresentasikan suatu masalah Supply Chain Management dengan pendekatan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang disajikan dalam E-Commerce”.

“Dengan kata lain, peserta workshop dilatih sebagai trainer dengan pendekatan metode pembelajaran PBL yang telah diterapkan pada Republic Polytechnic, Singapura dalam proses mengajarnya,”ungkap Ismanto.

“Dalam mentransfer pengetahuan Managemen Rantai Pasok atau Supply Chain Management (SCM) yang telah disajikan dengan E-Commerce melalui pendekatan PBL, memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam memecahkan suatu masalah, solusinya dapat menggunakan berbagai macam pendekatan. Sehingga saat dilakukan praktek diperusahaan akan memberikan solusi diantaranya dapat diketahui biaya informasi supplay chain lebih murah, diakses 24 jam, kesempatan perluasan sistem informasi terbuka, menurunkan biaya penciptaan program; proses; distribusi; penyimpanan barang, mengurangi biaya komunikasi konvensional, pengiriman secara digital untuk produk seperti gambar, dokumen, software dan meningkatkan fleksibilitas lokasi,”kata Ismanto memberi gambaran.

Dalam proses pengajaran dengan pendekatan PBL biasanya mahasiswa dibagi menjadi kelompok-kelompok, lanjut Ismanto, dosen dalam hal ini bukan sekedar mentransfer ilmu secara konvensional juga, yang biasanya satu arah saat menyampaikan materi kuliah tetapi sudah secara aktif mahasiswa memecahkan suatu masalah dengan berdiskusi mencari pendekatan yang lebih baik, sehingga dosen berfungsi sebagai fasilitator, memberi arahan dan sebagai “gaet” bagi mahasiswa.

Ditambahkan oleh Irayanti Adriant, S.Si.,MT peserta workshop dari STIMLOG bahwa dengan pengajaran model PBL, memacu mahasiswa untuk mengambil suatu keputusan dalam memecahkan suatu masalah dengan berbagai macam pendekatan sebagai solusinya. Peran dosen dalam pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Hal tersebut dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual, serta mendapatkan pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pembelajar yang mandiri.

“Mencari solusi untuk memecahkan suatu masalah dengan pendekatan PBL akan membuat mahasiswa lebih kreatif, meningkatkan kemampuan mahasiswa yang tidak sama setiap mahasiswa dalam menangkap materi yang diajarkan dosen menjadi saling memahami, dan mahasiswa dapat mencari narasumber yang benar-benar menjadi landasan kuat dalam mencari solusi,”papar Ira panggilan akrab Irayanti.***

Facebook Comments

Leave a Reply