Bandung Side, Kabupaten Cianjur – Mengenal generasi Z menjadi tantangan dalam mendidik anak sangat besar di dunia digital, perkembangan teknologi berkembang pesat sehingga para orang tua tidak bisa menggunakan cara tradisional dalam membimbing dan mendidik anak di era digital.
Sebagai orang tua yang lahir di zaman luar digital sehingga kita tidak dapat mendidik anak-anak generasi z dengan sama saat orang tua kita mendidik kita dulu.
Pastinya banyak perbedaan, contohnya sebagai ibu anak usia 6 bulan baru mulai makan bisa dilihat dari situ saja.
Orang tua zaman sekarang sudah banyak ilmu yang didapat dari browsing internet. Contoh lain, orang tua dulu memberikan imunisasi dasar, berbeda dengan sekarang banyak sekali imunisasi tambahan.
Pengelompokan generasi berdasarkan usia yang termasuk generasi Alpha ialah usia di bawah 6 tahun, sedangkan untuk mengenal generasi Z saat menginjak usia 6-20 tahun.
Generasi Z generasi yang lahir rentang waktu kelahiran 1997-2012 termasuk setelah generasi milenial. Generasi Z dan milenial disebut juga Igeneration, generasi internet.
Mereka memiliki kesamaan dengan generasi milenial. Tapi mereka mampu mengaplikasian semua kegiatan dalm satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset.
“Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka mengenal teknologi dan akrab dengan gawai canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mererka,” jelas Mardiana RL, Vice Principal in Kinderhouse School saat berbicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (23/8/2021).
Karakteristik generasi Z, generasi digital yang mahir dan gandrung akan tekonolgi informasi dan berbagai aplikasi komputer.
Generasi Z benar-benar generasi pertama smartphone dan media sosial tidak dilihat sebagai perangkat dan platform tapi lebih dari cara hidup.
Generasi Z dikenal lebih mandiri daripada generasi sebelumnya nanti cenderung egosentris individualis. Sangat senang berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring.
“Mereka lebih mandiri daripada generasi sebelumnya namun cenderung ingin serba instan, tidak sabaran dan tidak mengambil harta,” jelas Mardiana.
Dampak positif berinternet tidak terbatas belajar apapun sehingga menciptakan anak-anak yang inovatif dan kreatif sementara dampak negatif adiksi terhadap gawai, rentan menerima serangan cyberbullying.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (23/8/2021) juga menghadirkan pembicara Chairi Ibrahim (Konsultan Marketing Digital), Steve Pattinama (Kreator Konten, Richard Paulana (COO TMP Event), dan Winda Ribka sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***