Globalisasi Komunikasi & Informasi Mempengaruhi Budaya

globalisasi komunikasi

Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Globalisasi komunikasi dan informasi sebagai konsekkuensi dimana sekat batas jarak baik budaya, teritorial, batas sosiologis yang lain menjadi tidak berjarak.

Ketika kita tidak berjarak antara teritorial satu, sosiologis dan seterusnya kita juga berada di realitas bahwa di setiap batasan teritotal, sosiologis itu setiap batasannya tetap punya etika dan budaya masing-masing. Artinya di negara satu dan negara lain tetap memiliki batasan budaya dan etika masing-masing.

Rochmat Hidayat dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Cirebon mengatakan globalisasi komunikasi dan informasi itu membawa konsekuensi dengan adanya pertemuan geografis budaya dengan membawa karakter budayanya masing-masing.

Sehingga peran etik dan budaya hari ini menjadi penting karena perspektif dari satu sisi budaya itu belum tentu sama perspektif budaya yang lain.

“Di ruang budaya digital, budaya hari ini lahir di tengah-tengah pribadi baik sebagai personal maupun kolektivitas lingkungannya. Karena budaya dihadirkan oleh interaksi pembelajaran yang berlangsung atau literasi itu yang melahirkan pola interaksi personal,” kata Rochmat Hidayat.

“Budaya digital kini hadir sebagai pola interaksi baru menghadirkan cara belajar, cara informasi baru yang nanti akan menjadi pola interaksi para individu itu,” ujar Rochmat Hidayat di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (23/8/2021).

Budaya digital akhirnya akan menghadirkan masyarakat digital. Ketika budaya digital itu lahir dalam teritorial sebuah wilayah maka yang kita butuhkan atau yang tidak boleh dilepaskan ialah cara kerjasama kolektif.

Hal ini diperlukan untuk tetap menginternalisasi nilai yang dianut oleh lingkup sosial itu. Itu yang menjadi penting karena di setiap negara digital etika budaya digital yang dianut berbeda-beda.

Maka ketika kita berbicara masyarakat digital Indonesia, rambu budaya digital apa yang ada di Indonesia tentu internalisasinya sesuai dengan yang kita miliki.

Kita memiliki nilai budaya yang beragam maka oleh karena itu kompetensi literasi digital mengasah kemampuan kita untuk bisa menyeleksi arus informasi sehingga kemudian seperti sebuah wadah.

“Air yang ada di wadah itu boleh punya cita rasa dan keberagaman tetapi batas atau tempat wadahnya itu harus nilai-nilai yang kita pahami dan sepakati dalam hal ini nilai Pancasila dan Bhineka tunggal Ika,” tegas Rochmat Hidayat.

Jadi, warga negara digital menginternalisasi nilai pancaila dan Bhinneka Tunggal Ika berinteraksi dan berkomunikasi sesuai dengan nilai tersebut. Dari sila pertama hingga kelima ada nilai-nilai yang bisa diambil sebagai pegangan warga digital dalam berbudaya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (23/8/2021) juga menghadirkan pembicara Febriyanti Kristiani (founder @vitaminmonster), Bentang Febryan (pemeriksa fakta Mafindo), Nurul Baeti (Relawan TIK Jawa Barat), dan Ida Rhynsjburger sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan