Alternatif Solusi Pada Perubahan Perilaku yang Dinegosiasikan

Alternatif Solusi

Bandung Side, Sukatani_Ngamprah – Alternatif solusi melalui komunikasi yang efektif dengan empati dan rasa hormat menjadi kunci Perubahan Perilaku yang Dinegosiasikan guna menurunkan angka Stunting dan disabilitas di Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

Memasuki hari kedua pelatihan “Inklusi Disabilitas Dalam Pesan Kunci EMO DEMO dan Komunikasi Perubahan Perilaku Yang Dinegosiasikan” yang dikuti oleh Kader Posyandu Desa Sukatani dan Desa Cimanggu di Aula Kantor Desa Sukatani, Selasa, 03 Oktober 2023 bersifat partisipatif dengan diskusi kelompok, gallery walk dilengkapi dengan sesi presentasi oleh fasilitator EMO DEMO.

Fasilitator yang memandu pelatihan dari Puskesmas Ngamprah diantaranya Febi Hafifah Handayani, S.Tr.Gz Tenaga Program Gizi (TPG), Triyanti, A.Md.Keb.; Bidan Desa Sukatani, Shinta Noerhayani, A.Md.Keb.; Bidan Desa Cimanggu dan Atik Santika; Kader Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kecamatan Ngamprah memberikan gambaran akan praktek baik dalam implementasi EMO DEMO.

Disampaikan oleh Zainul Mustofa, Project Officer BISA bahwa pelatihan hari kedua kepada Kader Posyandu di dua desa yang diikuti oleh 20 peserta agar pada prakteknya dilapangan dapat melakukan pemetaan terkait tantangan, alternatif solusi serta dukungan pemangku kebijakan sehingga ada kesepakatan terkait keberlanjutan sesi EMO DEMO sebagai salah satu metode komunikasinya.

“Saat melakukan EMO DEMO, Kader Posyandu telah mengetahui pesan kunci sehingga dapat mengerti hubungan antara nutrisi, stunting dan disabilitas, hal tersebut akan berkelanjutan pada perubahan perilaku kesehatan yang goalnya kepada penurunan stunting dan disabilitas,” ungkap Zainul Mustofa.

Alternatif Solusi
Perubahan Perilaku yang Dinegosiasikan menjadi kunci alternatif solusi menurunkan angka Stunting dan Disabilitas

EMO DEMO Pada Siklus Stunting
Menurut fasilitator dari TPG Puskesmas Ngamprah, Febi Hafifah bahwa siklus stunting dapat diidentifikasi bahwa masa kehamilan pada ibu yang tidak terpenuhi nutrisinya.

“Pada masa kehamilan, ibu mendapatkan ketidakseimbangan nutrisi bahkan minus, maka secara langsung berdampak pada perkembangan anak, dampak yang paling ekstrem yakni lahir premature hingga lahir terindikasi stunting”.

Siklus itu berlanjut, bila pada masa bayi dan anak-anak juga terindentifikasi kekurangan nutrisi atau malnutrisi memiliki resiko yang tinggi, dari mulai kematian, kemudian gangguan perkembangan dikemudian hari yakni pada kecerdasan yang buruk hingga Malnutrisi Akut Parah menjadi disabilitas, lanjut Febi Hafifah.

Begitu juga pada masa remaja bila mengalami kekurangan nutrisi akan berdampak pada masa kehamilan dan persalinan.

“Memasuki masa remaja, kekurangan nutrisi juga akan mengalami dampak pada masa kehamilan dan persalinannya, hal tersebut dikarena remaja puteri dan perempuan usia subur mengalami anemia yang memiliki resiko komplikasi, yakni lahir prematur, atau persalinan dalam kondisi bayi berat lahir rendah yang biasa disebut BBLR, ungkap Febi Hafifah.

Alhamdulillah, dengan pelatihan metode EMO DEMO Kader Posyandu mendapatkan bekal ilmu dan pengetahuan agar mendapatkan alternatif solusi saat berkomunikasi secara efektif di masyarakat.

“Kader Posyandu di Kecamatan Ngamprah sudah memiliki senjata yang lengkap dilapangan, selain sekarang sudah ada dukungan alat pengukur tinggi badan maupun berat badan dari kemenkes, juga mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari metode EMO DEMO saat validasi data sekaligus mencatat perkembangan anak,” ujar Febi.

Kader Posyandu merupakan ujung tombak dalam upaya menurunkan angka Stunting dan Disabilitas, karena gerakan keberlanjutan dalam validasi data maupun menyampaikan pesan Perubahan Perilaku yang dinegosiasikan kepada masyarakat secara masif menjadi budaya praktik baik dalam capaian cita-cita Kecamatan Ngamprah yang Zero Stunting dan Zero Disabilitas.

“Berbekal 6 Perilaku Kunci Perubahan yang dinegosiasikan, tentunya Kader Posyandu akan mempunyai solusi dari cara pandang yang masih melekat di masyarakat baik mitos yang berlaku atau hal-hal lain tentang pengasuhan anak,” ujar Febi Hafifah.

Alternatif Solusi
Metode EMO DEMO menjadi alternatif solusi dalam komunikasi penyampaian pesan guna menurunkan angka Stunting.

Validasi Data dan Kunjungan Ke Lapangan
Informasi di masyarakat khususnya di Desa Sukatani dan Desa Cimanggu saat kami dilapangan, masih terdapat pola makan dan jadwal makan yang tidak terpola dengan baik, sehingga asupan nutrisi pada siklus stunting tidak maksimal terpenuhi.

Anak pada usia bawah dua tahun (*Baduta) atau umur 0-24 bulan dimana pada masa ini anak mengalami periode pertumbuhan emas namun saat menyediakan makannya tidak memperhatikan kebersihan, tidak mencuci tangan terlebih dahulu dan peralatan makan tidak dijaga kebersihannya, tidak dicuci atau diredam pada air panas.

Kurangnya pengetahuan tentang makanan yang bergizi seperti kebutuhan protein dapat berasal dari nabati atau hewani, kebutuhan karbohidrat, vitamin, mineral, serat, kalsium, lemak dan air. Jadi masih asal masak dan asal kenyang, bahkan ditemukan asupan makanan yang tidak beragam bahkan mempercayai untuk tidak diberi makan pisang untuk sebuah kepercayaan dilingkungan keluarganya.

Pada pendekatan perubahan perilaku yang dinegosiasikan, Kader Posyandu juga dibekali parenting atau pengasuhan anak dengan komunikasi yang efektif. Hal tersebut penting sebagai alternatif solusi, karena beragamnya pola asuh pada setiap keluarga yang belum menyentuh sikap dan perilaku yang melibatkan perasaan serta pola pikir untuk mengasuh anak.

“Padahal tujuan utama dari pengasuhan anak adalah untuk merawat, melindungi, serta memastikan keselamatan dan kesehatan anak guna mempersiapkan anak dalam menghadapi masa depannya kelak,” ujar Febi Hafifah memaparkan.

Remaja juga mengalami pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan nutrisi, banyaknya asupan makanan sebagai pengganti yang tidak mengandung nilai gizi seimbang untuk kebutuhan perkembangannya, jadi tetap pada pola asal makan, asal kenyang hanya sekedar menuruti keinginan makan pada jenis makanan tertentu, seperti seblak.

“Dengan data yang terbarukan, yakni saat Bulan Penimbangan Balita pada Agustus dan Februari lalu ditambah dengan pemberian vitamin A cakupannya akan lebih luas dan tinggi, sehingga tergambar persentase status gizinya dan terdeteksi kembali data Stunting yang langsung bisa dikunjungi untuk divalidasi,” ujar Febi.

Alhamdulillah setelah divalidasi angka stunting dapat turun, dari data terbarukan tersebut jangan sampai tidak dientry ke pusat karena akan mengakibatkan lokus kembali, tambah Febi.

Kader Posyandu mendapatkan data karena kunjungan langsung kelapangan, jadi tidak asal keluar angka untuk Stunting dan Disabilitas. Kader akan memahami dan dapat mengukur dari data perolehan Buku KMS perkembangan anak yang selanjutnya akan divalidasi kembali ke lapangan oleh Fasilitator dari Puskesmas.

“Sebelum adanya pelatihan, masih banyak Buku KMS yang kosong, namun saat presentasi tadi sudah pada memahami cara mengisinya sehingga nanti Kader Posyandu saat ke lapangan dengan didampingi Fasilitator dari Puskesmas akan mengetahui pada prakteknya,” pungkas Febi Hafifah Handayani.

Alternatif Solusi
Foto Bersama usai kegiatan Inklusi Disabilitas Dalam Pesan Kunci EMO DEMO dan Komunikasi Perubahan Perilaku Yang Dinegosiasikan

Kader Posyandu Lebih Percaya Diri
Salah seorang Kader Posyandu dari Desa Cimanggu, Eka Amelia mengatakan lebih percaya diri setelah adanya pelatihan EMO DEMO selama dua hari ini.

“Pelatihan EMO DEMO menambah pengetahuan dan Kader lebih percaya diri kalau nantinya dilapangan. Biasanya Kader lebih banyak tidak percaya diri saat berbicara dengan masyarakat saat di Posyandu,” ujar Eka Amelia.

Dengan pelatihan yang lebih intens diikuti akan menjadi terbiasa dalam komunikasi dengan masyarakat, dengan ibu hamil, dan anaknya saat di Posyandu.

Pendekatan perubahan perilaku yang dinegosiasikan menjadi materi yang penting, karena saat berkomunikasi dengan ibu hamil, calon pengantin tentang pola makan, pola asuh anak, cara memberi MP-ASI akan lebih komunikatif.

“Sebagai Kader saya baru berjalan 3 tahun, tapi pelatihan EMO DEMO ini lebih seru dalam membangun kepercayaan diri, karena pada pelatihan ada permainan dengan kata lain belajar sambil bermain bersama ibu balita, ibu hamil, yang tadi nya jarang datang ke Posyandu jadi lebih tertarik untuk datang,” jelas Eka.

Dalam membangun kepercayaan diri saat berkomunikasi tidak harus sekolah publik speaking yang tempatnya jauh dan biayanya besar, di pelatihan EMO DEMO Kader Posyandu dapat alternatif solusi berbicara dengan baik, ada gambaran sebelum bicara apa sehingga komunikasi dengan sasaran berjalan dengan baik.

Berkomunikasi dengan ibu balita bisa lebih menanggapi karena dilapangan responnya berbeda-beda, ada yang pasif ada juga yang aktif, ada yang menyepelekan saat dikunjungi ada juga yang tertutup hanya menerima saja pesan yang disampaikan.

“Alhamdulillah kalau ke lapangan selalu didampingi juga sama Ibu Febi dari Puskesmas, bidan desa dan KPM saat kunjungan ke salah satu anak yang terindikasi stunting. Jadi diwilayah Desa Cimanggu lebih aktif kunjungannya ke masyarakat bukan saja saat kegiatan Posyandu, tapi kegiatan lain seperti sosialisasi ke remaja juga ada dan partisipasi masyarakat juga semakin antusias,” pungkas Eka Amelia.

Kepala Desa Sukatani Dede Supriadi
Kepala Desa Sukatani, Dede Supriadi saat memberi kata sambutan dan menutup kegiatan Inklusi Disabilitas Dalam Pesan Kunci EMO DEMO dan Komunikasi Perubahan Perilaku Yang Dinegosiasikan, Selasa, 03 Oktober 2023.

Pesan Kepala Desa Sukatani
Kegiatan Inklusi Disabilitas Dalam Pesan Kunci EMO DEMO dan Komunikasi Perubahan Perilaku Yang Dinegosiasikan selama 2 hari di Aula Kantor Desa Sukatani mendapat apresiasi dari Kepala Desa Sukatani, Dede Supriadi.

“Semoga kegiatan pelatihan ini sebagai alternatif solusi dapat bermanfaat dan dapat diterapkan di wilayah kerja masing-masing Kader Posyandu. Agar anak-anak kita yang Stunting angkanya dapat diturunkan dan anak-anak yang disabilitas dapat dibantu,” ujar Dede Supriadi.

Dengan pendekatan metode EMO DEMO pesan yang akan disampaikan kepada ibu hamil, ibu balita dan remaja dapat efektif dijalankan, sehingga cita-cita dari dua desa yakni Zero Stunting dan Zero Disabilitas dapat tercapai.

“Kita akan senang dan bahagia bila di wilayah Desa Sukatani dan Desa Cimanggu terdapat anak-anak yang unggul, anak-anak generasi emas yang nantinya sebagai pemimpin masa depan,” ungkap Dede Supriadi.

“Yang lebih penting adalah pengasuhan anak atau pola asuh, mungkin bahasa kerennya parenting, karena kekurangan gizi dan nutrisi bukan hanya karena pada makanan atau tenaga medisnya, tapi pada pola asuh orang tua yang didukung oleh perubahan perilaku,” pungkas Dede Supriadi yang sekaligus menutup kegiatan pelatihan.***

Tinggalkan Balasan