Bandung Side, Sukabumi – Batalyon Arhanud 3 / YBY Kodam III / Siliwangi melalui penugasan operasi satuan organik dalam pembuatan Water Treatment Plant Reverse Osmosis (WTP RO) sebagai sarana penggalangan dukungan kegiatan sosial masyarakat Halmahera, Maluku Utara.
Upaya Satgas Pamrahwan, Batalyon Arhanud 3 / YBY Kodam III / Siliwangi dalam pembuatan WTP RO tersebut sebagai upaya menjadi pemecah permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dan layak minum untuk masyarakat Halmahera, Maluku Utara.
Seperti yang dilansir oleh perwakilan Satgas Pamrahwan, Lettu Arh. Dwi Iswantoro,” Pembuatan WTP RO oleh satuan Batalyon Arhanud 3 / YBY Kodam III / Siliwangi sebagai upaya pemecahan masalah akan ketersediaan air bersih dan layak minum untuk masyarakat Malaku Utara”.
Selain itu, kehadiran WTP RO menjadi sarana sosialisasi tentang dampak negatif mengkonsumsi air tanah dengan kandungan besi maupun mangan tinggi terhadap kesehatan, sehingga dibutuhkan juga pendekatan maupun penyelarasan budaya mengkonsumsi air bersih, tambah Lettu Dwi Iswantoro.

Menurut kajian yang datanya diambil dari Badan Pusat Stastistik (BPS) bahwa 26,46% rumah tangga di Maluku Utara mengonsumsi air minum yang bersumber dari air dalam kemasan pada 2020.
Persentase itu menjadi yang terbesar dibandingkan konsumsi air dari sumber lainnya yang tentunya menjadi beban perekonomian keluarga.
Sumber konsumsi air lainnya yakni sebanyak 20,69% rumah tangga di Maluku Utara minum air yang bersumber dari Sumur Terlindung. Kemudian, 19,05% rumah tangga di provinsi tersebut minum air yang berasal dari Ledeng.
Sebanyak 13,25% rumah tangga di Maluku Utara mengonsumsi air minum dari Sumber Terlindung. Rumah tangga di Maluku Utara yang mengkonsumsi air minum dari Pompa sebesar 7,17%.

Sumber air bersih merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat di Maluku Utara serta keberlangsungan dalam penghidupannya.
Konsumsi air minum dari sumber yang bersih dan layak akan mencegah masyarakat dari berbagai penyakit, seperti diare, tifus, dan kolera.
Sedangkan menurut kajian di lapangan, kondisi Air Sumur, terutama sumur bor atau pantek di Maluku Utara pada umumnya mengandung kandungan tinggi besi (iron, Fe) dan mangan (manganese, Mn).
Kandungan besi dan mangan dalam air berasal dari tanah yang memang mengandung banyak kandungan mineral dan logam yang larut dalam air tanah mendominasi kandungan a ir yang akan di konsumsi masyarakat Maluku Utara.

Dalam analisa kajian bahwa Besi dan Mangan larut dalam air dalam bentuk Fero-oksida, kedua jenis logam ini pada konsentrasi tinggi menyebabkan bercak noda kuning kecoklatan dari oksida besi atau kehitaman dari oksida yang mengganggu secara estetika.
Kandungan kedua logam ini secara komulatif meninggalkan noda atau endapan coklat dan hitam di dalam bak air, alat-alat rumah tangga maupun peralatan atau perkakas yang dicuci menggunakan air tersebut.
“Air yang mengandung besi atau mangan menyebabkan pakaian menjadi kusam dan timbul noda atau bercak kuning kecoklatan setelah dicuci, bagaimana bila terkonsumsi oleh manusia ?,” ungkap Dwi Iswantoro.
Mengelola Air Tanah
Water Treatment Plant Reverse Osmosis (WTP RO) yang akan digunakan di Maluku Utara terlebih dahulu dipasang dan digunakan di lokasi latihan Pratugas Batalyon Arhanud 3/YBY, Dusun Bojong Kepok, Desa Loji RT 11 RW 01, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
“Pemasangan alat inovasi WTP RO di Desa Loji dikarenakan wilayah tersebut tipologinya mirip dengan daerah penugasan di Maluku Utara,” jelas Dwi Iswantoro.

Pada prinsipnya mengelola air tanah menggunakan alat inovasi WTP RO yang sudah dirangkai pada bangunan fasilitas umum berupa MCK dari Desa Loji menjadi air yang sudah dapat di konsumsi dan layak minum.
Berawal dari air baku diambil dari sumur bor dipompa dengan menggunakan pompa semi jet dengan tekanan 4 bar dialirkan ke Bak Penampung Air Baku dengan cara dipancarkan untuk memberi kontak antara air baku dengan udara.
Hal tersebut dilakukan agar dapat terjadi proses oksidasi besi dan mangan yang terlarut di dalam air baku dapat dengan mudah di saring atau di filter.
Selanjutnya air dari Bak Penampung Air Baku dipompa ke Filter Multimedia sambil diinjeksi dengan larutan oksidator yaitu Kaporit atau Kalium Permanganat.
Oksidator yang digunakan di dalam proses ini adalah Kaporit karena Kalium Permanganat saat ini sulit ditemukan di pasaran, seandainya ada pun berasal dari import yang tentunya berharga tidak ekonomis.
Oksida besi dan mangan tertahan di dalam media pasir di dalam Filter Multimedia, sisa besi dan mangaan yang tidak teroksidasi dieliminasi oleh media mangaan dan zeolite selanjutnya polutan mikro misalnya zat organik, deterjen, bau, senyawa phenol, logam berat dan warna diabsorb oleh media arang aktif.
Setelah melalui filter multimedia air dialirkan ke filter mikro dengan ukuran pori 0,5 mikron untuk menghilangkan sisa partikel padatan yang ada di dalam air, dilanjutkan penyaringan sekala mikro ultrafiltrasi dan osmosa balik sehingga air menjadi benar-benar jernih dan untuk menjamin air produk langsung dapat diminum, bebas dari bakteri dan mikroorganisme lain.
Air siap minum dialirkan ke tangki penampung dan untuk pengemasan maupun langsung dikonsumsi proses pengolahan air disempurnakan menggunakan Sterilisator Ultra Violet.
Filterisasi akhir melalui Sterilisator Ultra Violet dengan tujuan seluruh bakteri atau mikroorganisme yang ada di dalam air dapat dihilangkan secara sempurna.
“Air yang keluar dari sterilsator ultra violet merupakan air hasil olahan yang dapat langsung diminum,” jelas Dwi Iswantoro.
Inovasi pengolahan air bersih langsung layak konsumsi menggunakan teknologi WTP RO dapat menghasilkan 100 galon perhari (1 galon = 19 liter) sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Sukabumi.
Menghadirkan instalasi WTP RO di Desa Loji, Sukabumi juga sebagai upaya penyebarluasan teknologi pengolahan air tanah menjadi air siap minum. Sehingga dampaknya ke masyarakat tidak cukup dengan sosialisasi dampak negatif mengkonsumsi air tanah dengan kandungan besi maupun mangan tinggi terhadap kesehatan, namun instalasinya dapat di perbanyak.
Selain itu, diperlukan juga sosialisasi dan pendekatan maupun penyelarasan budaya yang sudah terbentuk, salah satu cara adalah membuatkan formula pengelolaan yang tidak menambah beban ekonomi masyarakat.
“Instalasi yang dibuat dengan teknologi WTP RO dapat diusahakan dan dikerjakan sendiri dengan biaya yang lebih ekonomis, karena tidak semua peralatan harus di beli dalam kondisi baru,” kata Dwi.
Pangdam III / Siliwangi, Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo, Bupati Sukabumi, Drs. H. Marwan Hamami, M.M didampingi oleh Dansatgas Mayor Arh. A. Yani S. Sos., M.Han. menyempatkan meninjau lokasi terpasangnya alat inovasi WTP RO.
“Selain melihat langsung proses pengelolahan air tanah menggunakan alat WTP RO, Bupati Sukabumi sempat minum airnya,” Pungkas Dwi Iswantoro.
Dalam kesempatan kunjungan meninjau instalasi WTP RO Pangdam III / Siliwangi, Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo mengatakan,” Jika kita sering minum air bersih maka hidup kita juga akan sehat”.
Selanjutnya, Pangdam III / Siliwangi menyerahkan instalasi WTP RO yang merupakan karya inovasi dan kreatifitas Satgas Satuan Batalyon Arhanud 3 / YBY kepada Bupati Sukabumi.
“Kami menyerahkan seperangkat karya inovasi dan kreatifitas Satgas Satuan Batalyon Arhanud 3 / YBY melalui Kepala Desa untuk warga dan masyarakat Desa Loji agar dapat meningkatkan taraf hidup sehat,” kata Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo.
Bupati Sukabumi Drs. H. Marwan Hamami mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Satgas Satuan Batalyon Arhanud 3 / YBY berupa instalasi WTP RO untuk warga Desa Loji agar dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan air bersih dan dapat dikonsumsi.***