Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Tantangan dan Peluang tidak mudah dalam memasuki kebiasaan baru tanpa adanya pelatihan sebelumnya, seperti yang terjadi pada guru dan siswa di seluruh Indonesia.
Bagaimana mereka harus melakukan pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19 terjadi ?.
Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali problematika yang dihadapi oleh guru sebagai pendidik.
Praktisi pendidikan Fahad Achmad Sadat mengatakan, proses penyampaian dan materi pembelajaran yang harus disampaikan dengan cara yang berbeda seperti biasa.
Bisa dibayangkan tahun lalu ketika semua harus dilakukan secara online, bagaiamana penyampaian materi harus dilakukan tanpa ada contoh terlebih dahulu.
“Mungkin dengan awalnya rekaman di WhatsApp, membuat video sendiri lalu dikirim melalui WhatsApp, membuat video lalu diunggah di YouTube,” ujar Fahad.
Sehingga tidak membuang kuota terlalu banyak bagi siswa yang mendownload.
“Kemudian proses penyampaian materi akhirnya dilakukan secara interaktif melalui Zoom kelas ataupun Google meet,” jelas Fahad Achmad Sadat saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (29/10/2021) siang.
Materi pembelajaran pun seperti itu dimulai dari buku yang di foto lalu dikirimkan melalui WhatsApp, atau juga guru memberi tugas hanya melalui teks di WhatsApp.
Guru mengirim soal pesan suara hingga kini semakin lama semakin mengerti materi pembelajaran bisa disimpan di Google Drive.
Sebanyak apapun dan sebesar ukuran dokumen itu bisa disimpan di Google Drive untuk suatu waktu dibuka.
Tantangan lainnya adalah proses interaksi dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru tidak bisa lagi menegur secara langsung siswa yang mungkin tidak mengerjakan tugas.
Guru harus bisa banyak memaklumi dengan semua keadaan siswa.
Sekarang ketika Zoom meeting dilakukan proses interaksi pun terlihat berbeda walaupun sudah interaktif tetapi masih maksimal, tidak semua siswa bisa mengikuti pelajaran dengan benar.
Banyak dari mereka juga yang sebenarnya terlihat hadir di ruang Zoom tetapi sebenarnya dia tidak di depan perangkat.
Tantangan lainnya adalah kualitas dari pemberdayaan sarana dan elemen dalam pembelajaran hanya dimiliki oleh guru sendiri.
Mereka harus belajar sendiri untuk memahami begitu juga dalam mengelola bahan ajar mereka semaksimal mungkin untuk membuat bahan ajarannya menarik di mata para murid.
Hal-hal tersebut merupakan suatu yang teknis dalam pengajaran tapi adalah terpenting dari para guru yaitu adalah karakter dari guru itu sendiri terhadap proses pembelajaran.
“Bagaimana mereka bisa menjadi pendidik yang menyenangkan meskipun dari jarak jauh anak-anak muda akan merasa bosan jika gurunya bisa membawa suasana menyenangkan,” jelas Fahad Achmad Sadat.
Karakter siswa juga harus disadari oleh para guru Bagaimana guru bisa melihat orang anak ini bagaimana cara terbaik untuk mereka belajar.
Karena jarak jauh sehingga tidak bisa langsung melihat guru dapat bertanya secara langsung metode seperti apa yang diinginkan melalui audio atau visual sehingga pelajaran bisa dengan mudah dicerna oleh anak tersebut.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jumat (29/10/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Rendi Saiful Ajid (Relawan TIK Indonesia), Iwan Kemrianto (Founder yukbisniskost), Abhyani Prastika (Digital Marketer), dan Isnaini Arsyad sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***