Karakter Digital Native yang Perlu Orang Tua Sadari

karakter digital

Bandung Side, Kota Bandung – Karakter digital native yang perlu sangat disadari para orang tua adalah anak-anak mereka kini merupakan generasi digital native.

Mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir sehingga orang tua tidak bisa memisahkan mereka dengan perangkat elektronik dan internet.

Banyak yang beranggapan anak sebaiknya dijauhkan dari ponsel pintar padahal banyak sekali benefit yang bisa kita dapatkan dari penggunaan media digital tersebut.

Marherni Eko Saputri, dosen Telkom University mengatakan, memang terjadi gap yang sangat menarik antara anak yang termasuk digital native yang sangat aktif menggunakan media digital.

Sementara orang tua menjadi seseorang di masa transisi digital atau digital immigrant, mereka lahir sebelum teknologi internet hadir.

Untuk generasi tahun 1980-1990-an mungkin sedikit lebih mudah karena akselerasinya menyesuaikan karater digital.

Tetapi dapat dibayangkan untuk orang tua yang kelahiran 1970-an dan 1960-an sehingga perlu adaptasi yang sangat sedikit lebih sulit.

Dari gap ini kita bisa mempelajari apa saja kebiasaan daripada generasi ke generasi tersebut.

Misalnya pada karakter digital native mereka tidak bisa lepas hidupnya dari media sosial.

Anak seusia SD saat ini sudah memiliki media sosial TikTok setiap saat mereka membuat konten.

“Tidak jauh dari apa yang saya alami, anak Saya berusia 7 tahun sudah pandai mengoperasikan sebuah aplikasi game,” kata Marherni Eko Saputri.

Game tersebut seperti kehidupan sehari-hari pilihan karakter kemudian menyusun ruangan di rumah.

Bukan hanya bermain game tersebut tetapi anak saya juga melakukan rekaman melalui screen recording.

“Jadi hasilnya seolah-olah seperti ada jalan cerita ketika sedang bangun untuk mendesain ruangan tersebut,” ungkap Marherni Eko Saputri dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (11/10/2021) pagi.

Ternyata di YouTube juga sudah banyak anak seusia itu yang membuat rekaman serupa.

Konten tersebut sangat menarik sehingga mendatangkan viewes yang banyak juga subscriber.

Jadi memang kita tidak bisa lagi memisahkan anak-anak dengan media digital karena mereka butuh aktualisasi atau disadari kalau mereka ada dan dapat melakukan sesuatu yang cukup kreatif.

Selanjutnya, karakter digital native ini juga cenderung lebih lebih terbuka juga berpikir agresif.

“Kalau dulu kita sembunyi-sembunyi berada di mana, jarang untuk membagikan mengenai cerita tentang keluarga kita kepada orang-orang yang tidak dekat. Tapi sekarang sudah berubah penggunaan digital ini kita sudah berbeda,” sambung Marherni Eko Saputri.

Misalnya menggunakan ojek online lalu perjalanan kita itu bisa kita bagikan kepada keluarga terdekat atau ke akun media sosial.

Sehingga, sekarang ini banyak yang lebih terbuka, banyak data privasi yang menjadi sesuatu yang tidak terlalu pribadi lagi.

Ini menjadi salah satu gap yang besar dari pola penggunaan, mereka jadi lebih sering terbuka.

Namun di sisi lain banyak orang yang memanfaatkan keterbukaan itu untuk hal-hal yang tidak benar.

Para digital native juga ingin memperoleh kebebasan, tidak suka diatur ingin memegang kontrol dan internet memberikan kebebasan tersebut.

Apa yang tidak bisa kita cari di internet mungkin saja mereka sudah sangat familiar dengan Google karena mereka bisa mencari apapun.

Internet memberikan sebuah lahan untuk anak-anak berkembang berkreasi mencari tahu dan seterusnya.

Jadi segala sesuatu itu sudah ada di ujung jari mereka bisa mencari tahu bisa nonton bisa lihat mereka bisa bermacam-macam ada di internet sehingga positifnya kemampuan belajarnya bisa lebih cepat.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (11/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Richard Paulana (TMP Event), Ryzky Hawadi (Attention Indonesia), Allana Abdullah (Entrepreneur) dan Martin Kax sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan