Hoaks Menyebar Cek Fakta Secara Tangkas

hoaks menyebar

Bandung Side, Kota Cimahi – Hoaks menyebar sangat mudah bahkan bisa dikatakan tumbuh subur di Indonesia sejak teknologi maju pesat.

Dicky Renaldi seorang kreator nongkrong by Siberkreasi menyampaikan, warganet Indonesia senang menyebarkan hoaks karena didasari beberapa faktor.

Bangga menjadi yang pertama kali hoaks menyebar, suka berbagi tetapi malas membaca, dan tidak tahu bahwa itu hoaks.

“Jika terus dibiarkan, hoaks dapat menimbulkan kecemasan dan memicu kepanikan publik. Manipulasi dan kecurangan dapat menjatuhkan manusia lain,” ujar Dicky dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (11/10/2021).

Dicky Renaldi menuturkan, penyebaran informasi palsu dapat membentuk mental masyarakat ke arah pemahaman hoaks.

Untuk itu, kita perlu cek fakta secara tangkas, Dicky mengartikan, tangkas berarti teliti, tangkal, dan stop.

Teliti yakni setiap kita mendapat atau membaca informasi harus dibaca secara utuh dan dicek keseluruhannya.

Ketika kita merasa sudah dibaca dengan sangat teliti, kita bisa cek kebenarannya melalui situs turnbackhoaks.id dan cekfakta.com.

Kemudian, tangkal berperan aktif dalam media sosial dan platform digital lain untuk menangkal sesuatu yang bersifat hoaks.

Lalu, stop dan pastikan informasi yang didapatkan. Apabila kita ragu dan berita tersebut mencurigakan, kita bisa stop penyebarannya.

Hoaks sendiri dapat menimbulkan misinformasi dan disinformasi. Keduanya terbagi lagi ke dalam 7 tipe.

Pertama, satire atau parodi, konten sindiran yang tidak merugikan, tetapi berpotensi mengelabui.

Kedua, konten menyesatkan ialah informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu/individu.

Ketiga, konten tiruan ialah sebuah konten yang menjiplak sumber asli dan memanipulasi dengan sama persis.

Keempat, konten palsu yaitu konten yang benar-benar 100 persen dipalsukan untuk menipu dan merugikan.

Lanjutnya, tipe kelima ialah koneksi yang salah ketika judul dan isi tidak sesuai.

Keenam, konten yang salah yaitu konten yang asili dipadankan dengan konteks informasi yang salah.

Ketujuh, konten yang dimanipulasi ialah ketika informasi atau gambar asli dimanipulasi untuk menipu.

“Mari kita selalu saring terlebih dahulu sebelum kita melakukan sharing atau forward suatu informasi,” tutup Dicky Renaldi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (11/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Indra Adiatma Tri Wicaksono (Relawan TIK Kota Cimahi), Chiara Chiasman (Co-Founder of Finest Sangjit), Aristyo Hadikusuma (Director Al Otinesia), dan Ibrahim Hanif sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan