Menghadapi Tantangan dengan Budaya Indonesia

menghadapi tantangan

Bandung Side, Kota Cimahi – Menghadapi tantangan saat ini ada banyak hal yang membuat dunia digital itu sangat menarik dengan Budaya Indonesia.

Menurut Audrey Chandra seorang jurnalis Kompas TV, mudah untuk dikenal banyak orang, fleksibel dalam bekerja dan belajar, serta banyaknya sumber penghasilan lewat internet.

Namun, tidak sedikit juga tantangan yang harus dihadapi di ruang digital. Misalnya ketika memiliki 2-3 pekerjaan dalam satu waktu mengakibatkan kurangnya istirahat.

Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan tren saat membuka media sosial, melupakan attitude, dan terkadang melupakan proses belajar.

“Cara kita bisa menang dari tantangan itu ada dua cara,” kata Audrey Chandra.

Pertama, kenali budaya diri sendiri artinya ketahui value dan kekuatan kita, attitude yang baik, berpikir seperti jurnalis atau berpikir kritis saat informasi membanjiri di media sosial, pendidikan itu penting, papar Audrey Chandra dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (20/9/2021).

Lanjut Audrey, Kedua memahami budaya Indonesia dan budaya digital orang Indonesia.

Menurut Audrey penerapan keduanya ini berbeda, bahkan bertolak belakang.

Budaya ramah dan santun asli Indonesia justru sebaliknya di ruang digital, kebanyakan orang Indonesia komentar tanpa berpikir.

Selain itu, budaya Bhinneka Tunggal Ika tidak diterapkan di ruang digital. Masih banyak masyarakat yang menghujat orang yang tidak sama pemikirannya dengan kita.

“Ada juga kesamaan yang dimiliki budaya asli dan budaya digital orang Indonesia,” kata Audrey Chandra.

Pertama adalah menolong dan berani. Contoh menolongnya banyak giveaway-giveaway yang membantu sesama di masa pandemi, lanjut Audrey.

“Kalau berani ada positif dan negatif tergantung bagaimana kita memaknainya,” tutur Audrey Chandra.

Audrey menambahkan, di samping memahami dan menguasai empat pilar literasi digital, kita juga perlu menguasai informasi, skill, value, dan teknologi.

Informasi bahwa kita tidak boleh cepat puas atas informasi yang kita dapatkan.
Galilah informasi apapun dari sekitar kita, kemudian skill dengan mencari potensi yang kita miliki.

Skill ini juga berbicara tentang bagaimana kita menghadapi tantangan di ruang digital.

Selanjutnya, kita punya value dan mengetahui kekuatan serta kelemahan diri.

Lalu, jangan mengabaikan teknologi karena setiap saat teknologi bisa berubah, kita perlu masuk ke dalam teknologi tersebut agar tidak ketinggalan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (20/9/2021) juga menghadirkan pembicara Irsan Maulana (Ketua Relawan TIK Kota Cimahi), Rabindra Soewardana (Direktur OZ Radio Bali), Santia (Owner dari @limbackstore), dan Martin sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan