Memahami Perubahan saat Transformasi Digital

memahami perubahan

Bandung Side, Kabupaten Garut – Memahami perubahan digital dunia berubah bukan hanya untuk berkompetisi tapi digunakan untuk bersama-sama mencapai sebuah tujuan banyak pemikiran-pemikiran yang berubah.

Pakar Neurosains, Bambang Iman Santoso menjelaskan, generasi muda sekarang lebih suka berkolaborasi. Perbedaan lainnya, market share berubah menjadi mind share seperti itu memahami perubahan.

“Jadi kalau dulu, pebisnis terlalu memikirkan profit, untung-rugi menjadi penting. Tetapi sekarang lebih menyatukan beberapa ide karena mereka meyakini setiap ide itu unik,” kata Bambang Iman Santoso.

“Kita harus yakin bersama bahwa setiap manusia itu memiliki pemikiran kekuatan sendiri,” ujar Bambang saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (23/9/2021).

Kaitannya dengan otak manusia, budaya atau kebiasaan bisa berubah, Bambang yang 15 tahun menjadi perokok bercerita tiba-tiba kini berhenti merokok.

Artinya Bambang Iman Santoso memiliki kebiasaan baru, budaya baru berubah padahal usianya saat itu di atas 30 tahun.

Jadi, hanya mitos yang mengatakan, tidak benar jika di atas 25 tahun itu biasanya tidak bisa diubah.

“Perubahan kebudayaan itu dapat dilakukan di segala usia,” ungkap Bambang Iman Santoso.

Kita harus belajar karena kalau kita tidak belajar terus. Secara fisik kita akan terkena penyakit penyakit demensia, alzheimer, parkinson dan sebagainya,” ungkap Bambang Iman Santoso.

Ketika terjadi transformasi digital sebenarnya para generasi tua dapat belajar untuk memahami perangkat digital dan berinteraksi di dunia digital.

Sebab di masa yang akan datang tidak hanya dilihat dari sertifikasi tapi lihat bagaimana kekuatan yang mendasari jadi lebih kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Di ruang digital sangat mengutamakan pada perbedaan cara pandang pria dan wanita, akan ada generasi gap juga kearifan lokal dan budaya global.

Mereka yang sudah lama di teknologi atau digital native akan bersama digital immigrant.

Perbedaan lain, juga dapat dilihat dari perbedaan pendidikan dan latar belakang. Maka dari itu setiap individu harus dapat mengenali diri mereka lebih dalam.

Memahami orang lain dan bagaimana orang lain bisa mengerti kita, mau seperti apa pintar dan kaya tapi kita tidak bisa dipercaya atau didengarkan pendapat kita

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (23/9/2021) juga menghadirkan pembicara Virginia Aurelia (owner divetolive.id), Ronal Tuhatu (psikolog), Rinda Cahyana (dosen STT Garut), dan Almira Vania sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan