Bandung Side, Kabupaten Subang – Belajar menjadi sebuah kegiatan seumur hidup. Meski sudah tidak berada di sekolah, setiap orang akan tetap belajar mengenai banyak hal. Termasuk dengan penggunaan teknologi digital.
Era digital ini erat kaitannya dengan banjir data dan informasi. Setiap harinya ratusan bahkan ribuan data dan informasi membanjiri kehidupan kita.
Reza Haryo, Group CFO Floaton Bahari Indonesia mengatakan, ada 5 fakta tentang data dan informasi yang perlu kita ketahui.
Fakta Pertama, volume data yang tersuguhkan di hidup kita itu sangat banyak, data dan informasi yang diterima bisa menjadi positif atau negatif tergantung bagaimana kita menerimanya.
Fakta kedua, data memiliki bentuk yang beragam, yaitu suara, teks, video, data terstruktur, data tidak berstruktur, dan sebagainya. Jadi diperlukan kepekaan dan keahlian dalam mengelola data.
Ketiga, arus informasi datangnya data begitu cepat hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Keempat, tidak semua data dan informasi dapat dipercaya kebenarannya. Kelima, tidak semua data dan informasi memiliki nilai manfaat.
“Kelima fakta tentang data ini harus kita sikapi kalau enggak bisa jadi ancaman. Ancamannya ialah digital deluge, digital distraction, digital dementia, digital depression,” tutur Reza saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021) siang.
Digital deluge yaitu kondisi di mana seseorang mengonsumsi terlalu banyak data dan informasi. Ia mengatakan kalau kita terlalu banyak mencerna sesuatu di luar batas kemampuan, berpotensi terjadinya gangguan halusinasi. Di samping itu, terdapat digital distraction yakni kondisi di mana seseorang mudah terinterupsi dan kehilangan fokus.
Sementara itu, digital dementia diartikan sebagai ketergantungan terhadap teknologi yang menjadikan seseorang itu malas. Hal ini menyebabkan kemampuan komputasi, analitikal, dan memori menjadi tumpul. Lalu, digital depression, yaitu terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif yang efeknya memiliki kepribadian pesimis.
“Kita adalah apa yang kita konsumsi. Sedikitnya manusia memproduksi 70 ribu pikiran setiap hari. Kalau yang kita konsumsi adalah yang negatif, maka keluarnya juga negatif. Diperlukan kemampuan kita dalam memfilter informasi supaya akhirnya jadi manfaat,” jelasnya.
Kita hanya butuh mengonsumsi informasi-informasi positif agar kita mendapatkan manfaatnya. Selain itu, menanamkan pikiran positif juga diperlukan. Karena, melalui pemikiran positif kita bisa melakukan hal yang positif juga.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021) siang juga menghadirkan pembicara Lim Sau Liang (Owner Madame Lim), Muh. Nurfajar Muharom (RTIK Indonesia), Katherine Joie (Owner of Organicrush), dan Winda Ribka sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***