Bandung Side, Kabupaten Karawang – Budaya Teknologi membawa kita berkembang jauh menjadi masyarakat modern. Akan tetapi, Lintang Ratri dari Japelidi mengatakan untuk tidak lupa selalu bercakap baik di dunia digital.
Indonesia era digital dinobatkan sebagai negara dengan kasus cyberbullying terbesar nomor 1 di dunia. Kemudian, hal ini dikuatkan dengan hasil survei Microsoft yang menyatakan Indonesia menjadi negara paling tidak sopan se-Asia Tenggara.
“Betapa banyaknya pengguna internet aktif di Indonesia semakin mendorong urgensi kebutuhan berbicara baik semakin dibutuhkan,” ujar Ratri dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (30/8/2021).
Kita harus berbicara baik di dunia digital karena latar belakang dari negara Indonesia yang memiliki multi kultural. Sama seperti pada ruang digital, kita memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda antar pengguna. Bedanya, dalam skala ruang digital bahkan sampai mendunia, bukan hanya Indonesia.
“Kita harus menghargai, memahami, dan mendengarkan orang lain sebagai salah satu penerapan budaya berbicara baik di ruang digital,” jelas Lintang Ratri.
Saat ini masih banyak masyarakat yang tidak menerapkan ucapan dan pembicaraan baik di ruang digital. Terbukti dari banyaknya komentar-komentar dari netizen Indonesia yang menjelekkan seseorang terutama public figure di media sosial.
Ketika kita tidak bisa mengontrol cara berbicara atau komentar kita di media sosial, bisa saja berujung pada dampak negatif seperti perundungan siber, hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa bahkan konflik sosial.
Dengan demikian, kita perlu menerapkan budaya di ruang digital dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pertama, nilai cinta kasih. Kedua, semua manusia setara dan memiliki nilai yang sama. Ketiga, mengutamakan Indonesia di atas kepentingan pribadi dan kelompok sehingga tidak terjadi perpecahan. Keempat, menghargai orang lain. Kelima, gotong royong atau kolaborasi di media digital.
Ratri mengingatkan ruang digital terbuka untuk menyampaikan kritik bukan hate speech. Dalam penyampaian kritik pun harus memperhatikan prinsip etika komunikasi, beropini menggunakan data, fokus kepada substansi yang dikritik bukan menyerang pribadi, dan sertakan solusi.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (30/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Oktavian Jasmin (COO of Prospero Food), Oman Komarudin (Ketua RTIK Karawang), Katherine (Owner of Organicrush Newella and Lopeu Indonesia), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***