Anak Kecanduan Gawai, Awas Hindari Predator

Anak Kecanduan Gawai

Bandung Side, Kota Bandung – Anak kecanduan gawai, hal yang ditakutkan bila penggunaannya secara terus-menerus akan diincar oleh predator yang ada di dunia digital.

Hormon dopamin yang menghasilkan kebahagiaan saat menggunakan gawai menjadi penyebabnya. Hormon dopamin memberi efek candu butuh kesenangan terus menerus yang ingin selalu memegang gawai sepanjang hari.

Kecanduan gawai ini kemungkinan juga karena terlalu lama bermain game online bukan hanya itu kemungkinan lain yakni anak sudah terpapar pornografi.

Diena Haryana, anggota Dewan Pengawas Siberkreasi dan pendiri SEJIWA, lembaga nonprofit yang bergerak di bidang pendidikan dan anak menjelaskan, kecanduan gawai juga memang harus diperhatikan namun yang tidak kalah penting ialah kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak secara online oleh predator anak atau pedofil.

Para predator akan melakukan strategi pada anak khususnya untuk anak-anak yang sering sendirian di kamarnya dan bebas menggunakan gawai.

Mereka melakukan online grooming atau pendekatan kepada anak awalnya menggunakan teks, lama lama video call dan terus merayu anak.

Langkah selanjutnya mulai melakukan sexting, berani mengirim gambar porno pada anak yang sudah kecanduan gawai.

“Tujuannya agar anak terhubung secara seksual karena secara emosi sudah ada kelekatan. Sebab berkomunikasi setiap hari membuat mereka semakin dekat. Dari situ anak mulai diminta mengirim foto porno mereka,” jelas Diena Haryana saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/7/2021).

Foto tidak senonoh anak itu dapat digunakan untuk langkah berikutnya yaitu sextortion atau mengancam anak.

Jika, mereka tidak mau memberikan foto atau video yang lebih terbuka maka foto sebelumnya akan disebar. Ini sudah banyak dilaporkan ke KPAI yang lebih mengejutkan ialah live streaming.

“Semakin dekat lagi hingga mereka memutuskan untuk bertemu. Anak akan diajak ke sebuah tempat untuk berhubungan badan sambil divideokan. Dibuat layaknya pertunjukan bisa ditonton karena dibuat alurnya. Predator itu biasanya meminta bayaran bagi siapa yang mau menonton,” ungkap Diena Haryana.

Diena membagikan hal ini bukan untuk menakut-nakuti namun sebagai pelajaran bagi orangtua khususnya yang memiliki anak usia remaja. Untuk tidak membebaskan mengakses internet tanpa pengawasan.

Tantangan lain yang menyangkut anak lainnya ialah, cyber bullying, adiksi game, cybercrime dan penipuan daring.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Al Akbar Rahmadillah (Sobat Cyber Indonesia), Geri Sugiran (Ketua Relawan TIK Sukabumi), Farid Zamroni (Presidium Mafindo) dan Nattaya Laksita MELATI sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan