Terapkan CHSE Tingkatkan Kepercayaan Wisatawan

BANDUNG SIDE , Jakarta – Penerapan protokol kesehatan CHSE  yang ketat di hotel dan restoran dinilai dapat meningkatkan kepercayaan kembali wisatawan.

Kemenparekraf menyosialisasikan pelaksanaan panduan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) untuk menciptakan kembali kepercayaan wisatawan.

Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf, Frans Teguh, Selasa (25/8/2020), hadir dalam Kegiatan Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan, Sumatera Utara.

Frans menjelaskan, pentingnya CHSE khususnya bagi para pelaku usaha maupun konsumen di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kesiapan destinasi dan para pelaku parekraf menerima kunjungan wisatawan, gaining confidence karena masyarakat seperti kehilangan confidence,” ujar Frans Teguh.

Frans mengatakan, SOP dituangkan dalam handbook yang disusun Kemenparekraf merupakan turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) 382/2020. Adapun isi dari handbook ini, kata dia, meliputi unsur-unsur pencegahan, penelusuran, dan penanganan kasus COVID-19 di sektor parekraf.

“Menjadi penting terkait fasilitas bagaimana pengelola atau manajemen dalam rangka mempersiapkan itu, termasuk juga karyawannya. Dan tentu yang paling penting adalah kerja sama dengan pengunjung atau tamu,” ujar Frans.

Saat kegiatan di Hotel Santika Premiere Dyandra dihadiri Wakil Direktur III Politeknik Pariwisata Medan, Zumri Sulthony; Ketua PHRI Provinsi Sumatera Utara, Deni S Wardhana; Kasi Distribusi dan Informasi Pariwisata Dinas Budpar Sumatera Utara, Laila Jamilah Lubis; Dosen STP Bandung, Pudin Sapudin; Sub Koordinator Direktorat Kelembagaan Kemenparekraf, DR Herbin Saragi, serta 100 pelaku hotel dan restoran di Medan dan sekitarnya.

Direktur Kelembagaan Kemenparekraf, Reza Fahlevy mengatakan protokol kesehatan diterapkan dan dipatuhi untuk meningkatkan kepercayaan dan daya tarik wisatawan.

“Yang penting sekarang adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan agar COVID-19 segera tertangani dan sektor parekraf kembali bangkit,” ujar Reza Fahlevy.

Ketua PHRI Sumut, Deni S Wardhana menjelaskan, sejak COVID-19 hotel dan restoran mengalami keterpurukan, okupansi rata-rata menyentuh angka 1 digit.

Untuk itu penerapan protokol CHSE dengan adaptasi baru ini perlu dijadikan sebuah struktur program pelatihan. Sehingga orientasi pelayanan harus berdasarkan CHSE. Namun penerapan itu harus beriringan dengan edukasi masyarakat atau wisatawan untuk sama-sama mematuhi protokol kesehatan yang sudah diterapkan.

“Protokol kesehatan ini bukan hanya untuk pengelola. Namun pengunjung hotel dan restoran harus bekerja sama melaksanakan dengan baik protokol kesehatan di fase kebiasaan baru,” ujar Deni.

Herbin Saragi dari Kemenparekraf menambahkan, kegiatan bertujuan agar pelaku industri pariwisata menerapkan protokol kesehatan sebagai upaya preventif terhadap penyebaran COVID-19.

“Tujuannya adalah menekan pertumbuhan cluster baru COVID-19 di Medan dan Sumut secara umum. Selain itu meningkatkan kembali kepercayaan pelanggan terhadap industri pariwisata,” ujar Herbin Saragi.

“Kita pastikan wisatawan datang merasa aman dan nyaman saat berkunjung, sehingga menjadi promosi dan meningkatkan kenyamanan wisatawan. Dan yang paling penting ke depan akan menjadi prasyarat dalam verifikasi labeling Indonesia Care,” ujar Herbin Saragi.

Kemenparekraf sudah mengeluarkan handbook berupa panduan umum dan khusus.

Panduan umum meliputi tata kelola seperti informasi terkini, SOP, imbauan tertulis, protokol kesehatan dasar menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan.

Panduan khusus meliputi tiga alur pelayanan hotel dan restoran yaitu panduan pengusaha dan pengelola, panduan bagi tamu dan panduan karyawan.

Pelaksanaan protokol kesehatan disebutnya sangat penting untuk dilakukan dengan baik.

Hal tersebut salah satu bentuk upaya mendorong pergerakan sektor parekraf, meningkatkan kepercayaan dan produktivitas masyarakat merasa aman dari COVID-19.***

Tinggalkan Balasan