Semangat Kelola Sampah Terpentok Biaya Pembuatan Tungku Pembakar

Bandung Side, Majalaya – Dipelopori Karang Taruna RW 3, Desa Sukamaju dalam mengelola sampah diwilayahnya, hingga membutuhkan sarana tungku pembakar sampah dalam mengatasi percepatan keberadaan sampah yang tidak bernilai ekonomi, namun terpentok biaya, Jum’at (29/5/2020).

Tergugahnya Karang Taruna RW 3, Desa Sukamaju karena masalah sampah rumah tangga diwilayahnya tidak dikelola secara sistematis, sehingga masih saja ada gundukan sampah dipinggir-pinggir jalan diwilayah RW 3 yang dibuang oleh warganya. Hal tersebut merupakan efek dari sosialisasi Satgas Sektor 4 Citarum Harum dengan komunikasi sosialnya (komsos) agar warga tidak membuang sampah di Sungai Citarum.

Anggota Karang Taruna RW 3, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya sedang memilah dan memilih sampah rumah tangga yang masih tercampur, Jum’at (29/5/2020).

“Kesadaran warga RW 3, Desa Sukamaju sudah mulai tumbuh dengan tidak membuang sampah di Sungai Citarum. Namun terkendala dengan lahan untuk Tempat Pembuangan Sementara (TPS)nya, karena RW 3 tergolong wilayah yang padat penduduk dengan jumlah 400 KK,”kata Roni Baron Koordinator Karang Taruna RW 3, Desa Sukamaju.

Tadinya atas koordinasi Satgas Sektor 4, sampah warga RW 3 mendapat bantuan pelayanan dari Dinas LH Kabupaten Bandung untuk diangkut dan dibuang di TPA yang di Padalarang dengan dukungan biaya salah satu pabrik tekstil yakni PT Naga Mas. Namun karena jumlah sampah rumah tangga warga RW 3 semakin hari-semakin banyak sehingga melebihi kapasitas angkut maka bantuan dihentikan. Bantuan tersebut dikarenakan wilayah yang berdekatan dengan wilayah RW 4 dimana PT Naga Mas berada, jadi sekalian angkutnya.

Pembangunan tunggu pembakar sampah di RW 3, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya untuk melayani sampah warga 3 RW yang akan dikelola secara mandiri, Jum’at (29/5/2020).

Sehingga saat ini warga RW 3 harus mandiri dalam mengelola sampahnya, karena bila menginginkan pelayanan dari Dinas LH terkendalanya juga dengan biaya angkutnya. Pengenaan biaya sampah kepada warga belum maksimal didapatkan, yakni se-ikhlasnya saja.

Perencanaan mengelola sampah rumah tangga di RW 3, Desa Sukamaju telah diwacanakan secara matang bersama Satgas Sektor 4 Citarum Harum, bahkan dalam tahapan koordinasi bersama warga RW 2 dan RW 4 sehingga sampahnya dapat dikelola bersama dalam satu titik, lanjut Baron panggilan akrab Roni.

Tungku Drum Pembakar Sampah yang sudah tidak maksimal digunakan oleh petugas sampah di RW 3, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Jum’at (929/5/2020).

Kesulitan awal dalam pencarian lahan untuk TPS, dari 3 RW diwilayahnya belum ada yang bersedia tanahnya sebagai TPS. Berkat bantuan dan koordinasi Satgas Sektor 4 sehingga mendapatkan ijin dari perusahaan tekstil yakni PT Nirwana Group untuk bisa menggunakan lahannya yang belum termanfaatkan sebagai TPS.

“Dengan diijinkannya lahan tidur PT Nirwana Group, kami mengkoordinir pembiayaan dengan cara swadaya bersama warga membeli bahan-bahan untuk membangun tungku pembakar sampah. Sebelumnya memang sudah ada tungku pembakar yang berasal dari drum bekas, namun karena kapasitas sampah yang dibakar sudah over load maka drum tungkunya sudah mulai bocor disana-sini sehingga tidak maksimal dalam menggunakannya,”jelas Baron.

Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamaju, Sertu Muhidin mengatakan,”Pengkondisian lahan Tempat Pembuangan Sementara sudah berkoordinasi dengan pihak pabrik dengan menggunakan lahan tidurnya, Karang Taruna dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dalam mengelola sampah warga. Kesempatan mengedukasi warga untuk memilah dan memilih sampah basah dan sampah keringnya sebelum ditarik oleh petugas dari Karang Taruna juga memerlukan waktu untuk memudahkan pengelolahannya”.

Percepatan keberadaan sampah dari warga harus diimbangi dengan percepatan mengelola di RW 3, Desa Sukamaju, kecamatan Majalaya, Jum’at (29/5/2020).

Selain sebagai pengelola sampah dengan sistematis, Karang Taruna juga sebagai folienter atau sebagai perwakilan penjaga lingkungan yang dapat memonitor, mengawasi dan mencarikan solusi atas terjaganya kebersihan lingkungan wilayahnya. Tidak berhenti sampai memiliki TPS saja, Karang Taruna juga harus mengembangkan konsep zero waste dengan memiliki kegiatan membudidayakan Maggot BSF dalam mengatasi sampah organik atau sampah basahnya, jelas Sertu Muhidin.

“Mengelola sampah secara mandiri bukan hanya tanggung jawab Karang Taruna saja, tapi dibutuhkan simpati, kepedulian dan kerjasama warga dalam menanggulanginya. Lingkungan yang bersih akan bermanfaat bagi kesehatan warga dan generasi selanjutnya. Menimbang dibangunnya tungku pembakar sampah baru 40%, dan dirasakan sudah bisa digunakan meskipun belum tuntas pembangunannya karena terkendala dengan biaya, sementara percepatan sampah yang menumpuk sudah melebihi kapasitas, sambil menunggu donatur digunakan dulu seadanya,”pungkas Sertu Muhidin.***

Tinggalkan Balasan