Bandung Side, Kota Bandung – Waspada pemicu hal yang paling ditakutkan oleh para orang tua saat mengenalkan gawai dan internet kepada anak-anaknya adalah, mereka takut anak-anak mereka kecanduan gawai.
Menurut psikolog Oriza Sativa, anak rentan kecanduan gawai di rentang usia 13-18 tahun. Mereka sudah dikatakan kecanduan bila sudah mengganggu daya tilik serta fungsi diri.
Waspada pemicu penyebab anak kecanduan gawai karena adanya reward dan reinforcement ketika mengakses segala konten yang ada di dalam internet misalnya.
Reinforcement misalnya subscriber, followers, like komentar, pengakuan sosial dan lainnya. Ini adalah bagian dari keinginan eksistensi dari seorang anak muda.
“Tidak heran sekarang banyak yang ingin menjadi influencer, YouTuber karena mereka ingin sebuah pengakuan sosial ingin terkenal. Banyak subscriber, followers dan like itu menjadi sebuah kebahagiaan untuk mereka,” ungkap Oriza Sativa dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (04/10/2021).
Adanya reward misalnya, skor poin kemenangan dan lainnya, ini biasanya ada di game online bagaimana mereka selalu berkompetisi untuk menang.
Keinginan besar untuk unggul bahkan sampai lupa waktu menjadi dampak negatif bagi anak dan mengarah kepada kecanduan.
Selanjutnya penyebabnya karena konformitas atau ikut-ikutan tren yang ada ini. Oriza menyatakan, menjadi naluri dasar manusia untuk selalu melakukan konformitas.
Ditambah lagi permisifitas atau pembayaran dari orang tua, sebaik-baiknya pengasuhan itu memang demokratis.
“Otoriter juga tidak baik tidak memberikan kebebasan mereka tapi terlalu bebas juga tidak bagus. Karena mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan tanpa ada batas-batasan,” lanjut Oriza Sativa.
Minimnya nilai hidup yang positif saat sudah beranjak dewasa atau beranjak remaja mereka tidak memiliki tujuan hidup atau cita-cita yang memang ingin digapai atau karya yang berdasarkan hobi maupun passion mereka.
Mindset dari orang tua yang keliru mengenai gadget sebagai solusi agar anak anteng.
Terkadang, mereka tidak masalah untuk memberikan tontonan dalam dalam waktu yang lama karena dia harus mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Padahal, hal itu adalah cikal bakal dari pada kecanduan anak terbentuk dari habit dari kebiasaannya.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (04/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Gunawan Kamri (CEO PT. Kuliner Anak Indonesia), Santia Dewi (owner @grosirkaosdistroanaktanahabang), Dicky Renaldi (kreator Konten) dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***