Progres Perbaikan Harus Tuntas, Dansektor 4 Lakukan Kegiatan Monitoring Dan Kunjungan Ke Pabrik

Bandung Side, Majalaya – Sudah memasuki tahun ke-3 Program Citarum Harum berjalan dalam rangka memberbaiki ekosistem DAS Citarum sesuai amanah Perpres No. 15 Tahun 2018 yang diemban oleh Komandan Sektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin segera tuntaskan progres perbaikan IPAL.

Monitoring, sosialisasi kepada masyarakat dan kunjungan ke pabrik diwilayah Majalaya secara rutin dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan kemajuan program kerja yang sudah direncanakan. Prioritas program kerja seperti memonitor progres perbaikan IPAL pada pabrik yang sudah terkena sangsi lokalisir saluran air limbah yang tidak sesuai dengan baku mutu, penghijauan, penataan pengolahan sampah dimasyarakat hingga sosialisasi kepada masyarakat akan arti pentingnya menjaga lingkungan menjadi aktifitas sehari-hari.

Dansektor 4 Citarum harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin sedang memberi arahan kepada karyawan IPAL salah satu pabrik tekstil diwilayah Sektor 4, Majalaya, Rabu (22/1/2020)

Kunjungan ke pabrik dalam rangka kegiatan turun kebawah atau kelapangan dalam mengevaluasi progres perbaikan IPAL dilakukan agar pihak pemilik pabrik atau menejemen untuk segera menyelesaikannya. Sehingga kendala dilapangan dapat diketahui oleh Satgas Sektor 4 Citarum Harum agar dapat dicarikan solusi dan pemecahannya.

“Masalah klasik yang menjadi kendala dilapangan karena kelalaian karyawan IPAL saat memberikan obat kimia diakibatkan ketiduran, konsultan yang tidak profesional, hingga kesengajaan membuang membuang air limbah langsung ke anak sungai dan Sungai Citarum masih juga terjadi. Hal tersebut dikarenakan kepedulian dan kesadaran pemilik pabrik, manajemen dan karyawan yang tidak tepat pada posisinya merupakan kendala dilapangan,”kata Komandan Sektor 4 (Dansektor 4) Citarum harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin, Rabu (22/1/2020).

Dansektor 4 Ciraum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin sedang memonitor kolam Aerasi, Rabu (22/1/2020).

Dengan melihat langsung proses pengelolahan IPAL, lanjut Kolonel Asep Nurdin, dapat diketahui bahwa karyawan IPAL masih ada juga yang kurang paham mengelola IPAL secara proses kimia, biologi atau fisika. Karena sebagian besar karyawan IPAL ditunjuk oleh manajemen bukan dari orang yang tepat atau karyawan buangan.

“Sudah saatnya karyawan IPAL adalah orang yang memahami proses mengelolah limbah, memahami cara memberi obat kimia bahkan harus tahu cara penyelesaiannya bila ada permasalahan dilapangan hingga hasil akhirnya air limbah pada outlet menjadi sesuai parameter baku mutu,”menurut Kolonel Asep.

Anggota Satgas Sektor 4 Citarum Harum saat mengambil sampel air limbah untuk diuji laboratorium, Rabu (22/1/2020).

Value parameter baku mutu air limbah sering menunjukkan angka-angka yang masih dapat ditolelir, asal tidak terlampau jauh dari value yang sudah ditetapkan peraturannya oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Bila valuenya terlampau jauh dari hasil uji laboratorium, maka sudah tidak ada toleransi lagi, pilihannya lokalisir saluran limbahnya, berhenti produksi atau kedua-duanya.

“Karyawan IPAL harus tahu karakteristik proses produksi akan menghasilkan air limbah seperti apa, sehingga proses mengelola air limbah dapat memilih mau secara proses kimia, proses biologi atau kombinasi keduanya atau ada modifikasi dengan proses fisika,”papar Kolonel Asep.

Dansektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin sedang memeriksa sampel air limbah yang berasal dari outlet dalam kondisi jernih dan tidak ada bau, Rabu (22/1/2020).

Menurut Kolonel Asep, monitoring yang dilakukan Satgas Sektor 4 Citarum Harum dalam rangka pembinaan secara terus-menerus agar pihak pabrik dapat menyelesaikan progres perbaikan IPALnya. Sehingga tidak ada lagi ekses atau kendala yang diakibatkan oleh pihak luar seperti penjual obat kimia yang berkesan hanya sekedar jualan obat kimia saja, namun tidak ada pendampingan saat menggunakan obat kimia tersebut hingga menghasilkan air limbah yang sesuai baku mutu. Ada juga kendala dari pihak luar dikarenakan oleh konsultan yang tidak profesional, hanya sekedar teken kontrak pembinaannya tidak dilakukan secara menyeluruh.

“Selain itu, hendaknya pabrik juga menyediakan laboratorium uji sampel air limbahnya karena dengan fluktuatif value parameter baku mutu air limbah yang terjadi bisa diantisipasi dengan memonitor setiap tahap proses olahan air limbahnya. Bila tidak memiliki laboratorium uji sampel air limbah, dari mana dapat diketahui kalau air limbah yang dihasilkan dari olahan proses produksi menjadi baik. Akhirnya kerugian bagi kita semua bila Sungai Citarum kembali tercemar,”ungkap Kolonel Asep.

Usai mengunjungi beberapa pabrik tekstil di jl.Rancajigang, Kolonel Asep melanjutkan kegiatannya ke pembibitan pohon keras di Desa Sukamukti, Kecamatan Majalaya.***

Facebook Comments

Leave a Reply