Dansektor 4 : Raport Merah Dari 12 Pabrik Di Majalaya Mendapat Perhatian Khusus

Bandung Side, Majalaya – Raport warna merah disandang 12 parik yang belum maksimal dalam mengelola air limbah hasil proses produksi pada IPALnya, akan terus diawasi dan dipantau hingga menunjukkan angka parameter sesuai baku mutu.

Pembagian raport merah tersebut diungkap Komandan Sektor 4 (Dansektor 4) Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin saat menggelar kegiatan Evaluasi Penanganan Kerusakan DAS Citarum di Sektor 4 yang dihadiri oleh 95 pabrik di Majalaya, Kamis (23/1/2020). Kegiatan yang digelar di balroom PT Multi Star Rukun Abadi Sharon Bakery jl. Racajigang No.180 Padamulya, Majalaya sekaligus menyampaikan program-program prioritas dari Satgas Sektor 4 Citarum Harum di Tahun 2020.

Raport Merah Pabrik di Majalaya, Kamis (24/1/2020)

Dari data yang terkumpul secara periodik pada uji laboratorium baik pada outlet air limbah dan aliran anak sungai yang menjadi media pembuangan air limbah dapat menunjukkan bahwa 111 pabrik dikategorikan menjadi 3 kelompok. “Kategori Merah dengan jumlah 12 pabrik masih dalam pengawasan penuh karena air limbah yang dihasilkan belum sesuai dengan baku mutu. Untuk Kategori Kuning terdapat 26 pabrik dengan kondisi air limbah hasil uji laboratoriumnya masih menunjukkan nilai fluktuatif namun masih dalam batas aman. Dan yang terakhir Kategori Biru dengan jumlah 73 pabrik yang memiliki air limbah hasil laboratorium sesuai baku mutu,”kata Kolonel Inf. Asep Nurdin membuka buku raport hasil uji laboratorium.

Saya ucapkan terima kasih kepada pihak pemilik dan manajemen pabrik yang sudah berusaha semaksimal mungkin menjalankan progres perbaikan IPAL hingga menghasilkan air limbah yang sesuai dengan baku mutu, lanjut Kolonel Asep.

“Sedangkan dari raport yang dimiliki oleh Satgas Sektor 4 Citarum Harum sudah 58 pabrik yang dilokalisir saluran air limbahnya dikarenakan hasil olahan limbahnya belum maksimal, ada juga yang secara sengaja kucing-kucingan dengan Satgas Sektor 4 hingga ketidak pahaman petugas IPAL, namun sudah dibuka lokalisirnya. Masih terdapat 3 pabrik yang belum dibuka lokalisirnya dikarenakan masih menjalankan progres perbaikan IPAL hingga tutup tidak produksi,”jelas Kolonel Asep.

Komandan Sektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin saat memberi presentasi pada kegiatan Evaluasi Penanganan Kerusakan DAS Citarum di Sektor 4, kamis (24/1/2020).

Dari hasil observasi dilapangan secara periodik saat anggota Satgas Sektor 4 melakukan aktivitas mengambil sampel air limbah harian untuk di uji laboratorium maupun saat patroli susur sungai di malam hari dapat disimpulkan karena menjadi alasan pabrik yakni kondisi lokasi dan lahan yang minim dari IPAL tidak disesuaikan dengan jumlah produksinya. Sehingga, masa tenggang limbah tidak maksimal yang minimal membutuhkan waktu 8 jam namun sudah diproses ketahapan proses selanjutnya. Limbah yang tidak matang mengakibatkan nilai parameter air limbah tidak sesuai dengan baku mutu.

Masih banyak pabrik memiliki masalah pada sumber daya manusia yang mengelola air limbah belum mumpuni bahkan tidak paham dengan mengelola air limbahnya, sehingga pemilik pabrik menyerahkan kepada konsultan. Namun konsultan-konsultan yang bekerjasama dengan pabrik juga tidak memiliki kemampuan dalam mengelola air limbah, dikarenakan tidak secara menyeluruh memahami karakter proses produksi pada pabrik yang dibina nya, jadi berkesan hanya sekedar mendapatkan proyek saja. Hal tersebut juga ditunjang dengan pihak penjual obat kimia pada proses mengelola air limbah yang cenderung mendapatkan kontrak namun tidak mengetahui kualitas obat kimia yang dijualnya sesuai tidaknya dengan proses produksi.

Komandan Sektor 4 Citaru Harum, Kolonel Asep Inf. Asep Nurdin memaparkan kondisi pabrik di Majalaya, Kamis (24/1/2020).

“Kesalahan dalam memberikan obat kimia yang tidak sesuai ukuran atau dosis produksi, sehingga tidak ada keseimbangan antara air limbah yang akan diproses ke IPAL dengan kapasitas olahan IPALnya. Hal tersebut dikarenakan miskomunikasi antara karyawan IPAL dan bagian produksi sehingga mengakibatkan salah raciknya chemical”papar Kolonel Asep dihadapan 114 orang yang hadir mengikuti kegiatan Evaluasi Penanganan DAS Citarum.

Dansektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin dalam program kerjanya yang disampaikan kepada pemilik pabrik pada kegiatan Evaluasi Penanganan Kerusakan DAS Citarum yakni perlu adanya sosialisasi atau pelatihan secara bertahap dan berkelanjutan terhadap pengetahuan pengelolahan IPAL. Sehingga dibutuhkan selektifitas bagi karyawan bagian IPAL dan kesejahteraannya perlu dipikirkan oleh Pemilik Pabrik dan Manajemen, karena resiko akan pekerjaannya sangatlah berat pertanggungjawabannya.

Kolonel Asep Inf. Asep Nurdin menyampaikan program kerjanya pada Pemilik pabrik yang ada di Majalaya, Kamis (24/1/2020).

“Hindari konsultan yang hanya menawarkan jasa produknya tanpa memberikan solusi cara penanganan limbahnya, cenderung mencari keuntungan saja. Hilangkan maindet bahwa sesuatu masalah atau kesulitan dalam mengelola limbah dapat diselesaikan dengan memberi uang suap atau gratifikasi masalah tersebut akan selesai,”tegas Kolonel Asep Nurdin.

“Mengupayakan perbaikan IPAL dengan kemandirian malah lebih baik, bila diandaikan dengan sakit yang ada dibadan ini yang paham bagian yang sakit adalah diri kita sendiri. Seandainya tidak mampu untuk menyembuhkan sakit pada badan dengan menggunakan jasa dokter, cari lah dokter yang sesuai dengan sakit anda. Masa sakit kepala yang didatangi dokter patah tulang, malah nanti dikasi obat yang tidak sesuai dengan sakitnya kan ?,”pungkas Kolone Asep.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan