Buku Putih, Limbah Hitam Citarum (jilid 6 Tamat)

Konsultan IPAL
Konsultan dalam pengertian umum adalah seseorang tenaga profesional yang menyediakan jasa kepenasihatan dalam bidang tertentu yang bukan merupakan pegawai perusahan pengguna jasanya dalam waktu tertentu.

Konsultan IPAL industri tekstil dalam pengertiaan yakni suatu perusahaan yang bergerak dibidang jasa pembuatan instalasi pengelolahan air limbah pada suatu industri. Konsultan IPAL dalam melakukan pekerjaannya bergantung pada sedikit banyaknya keahlian dan pengalaman dalam merancang atau merencanakan, men-desain dan mengawasi proyek instalasi pengelolahan air limbah tersebut.

Anak Sungai yang meng-hitam akibat limbah cair industri tekstil

Untuk menghindari dari kurangnya pengalaman konsultan IPAL hendaknya dengan cermat pihak pengguna jasa atau industri tekstil khususnya memiliki langkah penyeleksian yang umum dilakukan diantaranya, pihak pengguna jasa konsultan IPAL hendaknya menyadari bahwa bila menggunakan jasa konsultan tidak semua sama dalam keahliannya. Seperti saat memilih dokter dan jasa profesional lainnya, jasa konsultan IPAL memiliki bakat, minat, pelatihan, pengalaman dan keahlihan yang berbeda-beda dalam menjalankan pekerjaannya.

Rekomendasi menjadikan faktor terpenting yang didalamnya terdapat pengalaman dan keberhasilan mereka dalam menangani proyek atau pekerjaan serupa. Menseleksi proposal yang masuk saat proses pencarian konsultan IPAL, mewawancarai kandidat dan mericek referensi membutuhkan waktu, namun perlu agar proyek atau pekerjaan berjalan sesuai dengan harapan dan tujuan. Menyediakan waktu ekstra dalam memilih konsultan IPAL mengingat usia IPAL ada yang hingga 20 tahun, 30 tahun hingga lebih bila digunakan.

Instalasi Filterisasi

Kumpulkan informasi, pengguna jasa konsultan IPAL dalam mengumpulkan informasi dapat meminta masukan staff teknik dan pemangku kepentingan dengan menggunakan networking atau jejaring yang dimiliki. Selain itu, perhitungan biaya yang disiapkan sebagai investasi haruslah tepat agar dalam pengerjaan tidak mengalami kekurangan atau keborosan. Biaya-biaya termasuk biaya operasional, biaya perawatan, gaji operator dan lain sebagainya merupakan awal dari keberhasilan dalam merekonsiliasi biaya yang diajukan dari pihak konsultan IPAL. Perhitungan biaya yang dimiliki pengguna jasa konsultan IPAL dimiliki agar nantinya ada kesempatan negosiasi harga, karena kesepakatan harga menjadi faktor terpenting dalam menggunakan jasa konsultan.

Merumuskan layanan dari pihak pengguna jasa konsultan IPAL menjadi landasan kesepakatan peran konsultan yang tampak dari kerangka acuan kerja, yang selanjutnya dapat menentukan finalis. Dalam seleksi untuk menentukan finalis hendaknya pengguna jasa konsultan IPAL menyempitkan pilihan menjadi 3 kandidat guna mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing kandidat. Bila perlu mintalah kesempatan mengunjungi proyek yang tengah atau baru selesai dikerjakan kandidat sehingga pengguna jasa dapat mengetahui sistem kerja dan menyampaikan pertanyaan. Setelah itu, silahkan memilih mana kandidat konsultan IPAL yang pantas mengerjakan proyek yang sesuai dengan harapan dan tujuan agar tidak seperti membeli kucing dalam karung.

Outlet limbah cair yang belum dikelola dengan baik

Ternyata dilapangan, terdapat begitu banyak istilah-istilah “konsultan” pada prakteknya. Bagi pemilik perusahaan tekstil atau stake holder pada perusahaan tekstil yang tidak peduli dengan IPAL, akan sembarangan menggunakan dan memilih konsultan IPAL tanpa melalui seleksi atau rekomendasi yang tepat. “Asal limbah cairnya bening“.

Akhirnya banyak pabrik yang terjerumus dalam kondisi kepepet dan tanpa pikir panjang akan kualitas konsultan IPAL tersebut terutama dalam hal memanagemen kerangka acuan kerja nya kadang tidak dibuat atau tidak memiliki sama sekali. Hanya mengandalkan uji coba atau jartest limbah cair yang diberi chemical atau obat kimia langsung bisa bening limbah cairnya seperti praktek Pak Tarno saat mempraktekkan sulapnya.

Dari kondisi tersebut, mendadak banyak bermunculan konsultan-konsultan IPAL dadakan yang dapat menjamin limbah cair menjadi bening dengan menggunakan obat kimia atau chemical yang ditawarkannya. “konsultan” tersebut tanpa pengetahuan yang mumpuni dapat dengan lihainya membujuk pihak pabrik tekstil agar segera meneken kontrak pembelian chemical atau obat kimia yang ditawarkan tanpa mempelajari karakter IPAL yang dimiliki pabrik atau usia ekonomis IPAL yang digunakan pabrik tersebut. Begitu juga dengan konsultan IPAL saat menawarkan pengerjaan proyek berdirinya IPAL, masih ada yang membuat satu paket pengerjaannya dengan penggunaan obat kimia atau chemical dalam mengatasi limbah cair berasal dari perusahaan tanpa ada penelitian karakter produksi pabrik tekstil tersebut.

Tanur Lamela

Bahkan dengan mengetahui bahwa kebutuhan chemical atau obat kimia yang digunakan pabrik tekstil secara kontinu sangatlah menggiurkan jumlah rupiahnya, mendadak siapapun bisa menawarkan dan menjadi marketing chemical. Bahkan ada pula oknum-oknum yang merekomendasi perusahaan-perusahan chemical dengan perjanjian memperoleh persentasi jasa mediasi dengan pabrik tekstil bila terjadi transaksi kontrak. Dalam arti kata lain, “nitip” per-kilo dari chemical yang dibeli Rp 1.000,- sudah lumayan menjadi pendapatan bulanannya hingga meraup nilai rupiah puluhan juta hanya sekedar menjadi perantara saja.

Hal tersebut juga menjadi daya sumbang pengelolahan limbah cair pabrik tekstil tidak pernah ditemukan sesuai baku mutu saat dibuang ke Sungai Citarum. Sehingga menjadi kesalahan pihak pabrik secara permanen bila ditemukan limbah cair dioutletnya nampak hitam, panas dan berbau yang tanpa disadari berasal dari penggunaan chemical atau obat kimia pada IPAL nya.

Salah seorang karyawan tenun modern sedang mencatat.

Dimulai Dari Hal Yang Sederhana
Limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik tekstil umumnya secara sederhana berasal dari proses penghilangan kanji (menggunakan enzym atau asam), proses pemasakan(menggunakan kostik soda), pencelupan (menggunakan zat warna dan obat bantu lainnya), pen-cap-an menggunakan zat warna, pengental, lilin dan obat bantu lainnya). Jika air hasil dari proses-proses tersebut tidak dikelola secara baik, maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan pada outlet pembuangannya.

Umumnya limbah yang dihasilkan dari industri tekstil berupa limbah cair berwarna yang mengandung zat pewarna tekstil dan mungkin mengandung limbah logam. Limbah tekstil ini jika tidak diolah lebih lanjut sebelum dibuang ke alam atau sungai dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Dari uraian panjang baik teknis maupun diluar teknis IPAL saling ada keterkaitan untuk menjadikan Sungai Citarum kembali Harum. Pembiaran pencemaran lingkungan di Sungai Citarum yang diakibatkan oleh limbah cair industri tekstil sejak tahun 1980 yang sudah memasuki tahun ke 30 pun belum ada solusi yang tepat.

Uji Laboratorium sampel Limbah cair oleh Satgas Citarum Harum

Bahkan ekses, kepentingan dan monopoli kekuasaan melekat erat pada tiap unit pabrik tekstil secara khusus dan kawasan industri secara umum seakan enggan beranjak dari beberapa program Pemerintahan Provinsi Jawa Barat sejak 2014. Mulai dari Program Kali Bersih, Program Citarum Bergetar, Citarum Bestari (Program Citarum Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari) hingga memasuki Program Citarum Harum yang baru berjalan 1,5 tahun ini dengan rentang waktu perbaikan selama 7 tahun sesuai amanah Perpres No. 15 Tahun 2018.

Kepentingan-kepentingan diluar jangkauan hukum membuat permasalahan Sungai Citarum tidak kunjung usai. Bila dikalkulasikan secara hitungan rupiahpun tidak akan cukup digital kalkulator yang ada didunia ini untuk menghitung biaya perbaikan Sungai Citarum untuk kembali pada ekologi alam dan ekosistem DAS yang ramah. Karena setiap jengkal tanah dibawahnya hingga kedalaman berapa pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Laboratorium Serat Benang Tekstil

Hal tersebut dapat dilihat pada proses pengangkatan sedimentasi di badan Sungai Citarum. Tampak limbah beracun yang sudah mengendap sekian tahun, berapa biaya yang dikeluarkan dan dibebankan kepada industri yang harusnya dikelolah limbah cairnya tapi cukup disodorkan keproses alam yang sudah tidak mampu lagi mengurai limbah beracun dari industri yang sudah overload itu. Ibaratkan alam hanya mampu mengurai 1 mangkok limbah, tapi disodori jutaan mangkok untuk bisa diurai. Mampukah alam ?

Bukan hanya kandungan polutan yang terdapat pada sedimentasi yang sudah menebal, tapi sampah plastik dan keaneka ragam sampah lainnya juga sudah membuat alam tidak berdaya mengurai menjadi zat organik atau zat renik yang menguntungkan. Malah bisa jadi monster-monster baru yang timbul karena polutan yang meracuni air Sungai Citarum juga sudah overload. Berapa biaya plastik makanan instan, jajanan instan bungkus plastik, bungkus sabun cuci, tas kresek, kain berbahan polyster dan lain-lain untuk menjadikan bungkus tersebut hanya menjadi sekedar sampah dihasil akhirnya.

Benang untuk Tekstil

Dari biaya yang dikeluarkan oleh industri penghasil limbah cair dan industri berkemasan plastik apa sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan Sungai Citarum, walau sejengkal tanahnya ? kali kan dengan panjang Sungai Citarum yang 269 km tersebut, apa masih bisa dihitung dengan APBN atau CSR atau dana pinjaman luar negeri ?

Sebagai ilustrasi, seandainya biaya perbaikan Sungai Citarum yang memiliki panjang 269 km tersebut menelan 1 Triliun, maka:

  • 1 T : 269 km = Rp 3.710.000.000,-/km

Rp 3.710.000.000,- : 1.000/m = Rp 3.710.000,-/m

Dari ilustrasi diatas, mungkinkan membenahi Sungai Citarum dalam ukuran permeternya membutuhkan biaya hanya Rp 3.710.000,- ? Pastinya tidak mungkin, karena ekses dalam kandungan tanah sedimentasi tersebut tidak akan cukup dengan biaya Rp 3.710.000,- untuk normalisasi atau perbaikan atau apapun dalam kondisian proyek tidak mungkin, pastinya akan lebih besar dari pada ilustrasi diatas. Tidak sebanding dikarenakan dalam sejengkal sedimentasi tersebut bila direkonsiliasi dengan biaya pengeluaran olahan IPAL yang harusnya dikeluarkan perhari secara komulatif bertumpuk menjadi keuntungan dengan mengorbankan Sungai Citarum sebagai IPAL Komunal terpanjang di dunia, yakni 269 km.

Jadi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk Sungai Citarum kembali Harum ? Tak terhingga ? sepanjang 5 tahun APBN ? atau CSR 10 lembaga dunia ? Bukan nya beres tapi biaya-biaya tersebut akan lebih cepat menguap dan Sungai Citarum tetap ada Limbah Hitam nya. Cenderung menjadi proyek abadi bagi oknum, tempatnya korupsi dan banyak intrik politik yang bermain disana.

Satgas Citarum Harum sedang memberikan sosialisasi tentang lingkungan kebersihan pabrik yang harus dijaga oleh semua karyawan.

Bila tidak memungkinkan dengan mengadakan materi berupa pendanaan, masih banyak cara untuk bisa memperbaiki tata ekologi Sungai Citarum kembali Harum. Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan tataran sosial yang berbeda memiliki budaya yang agung, yakni Gotong Royong, namun dengan carut-marutnya kondisi ekonomi yang begitu banyak kepentingan, membuat masyarakat yang memiliki Indonesia hanya bisa bertahan dengan dirinya sendiri, sehingga membuahkan individu yang apatis dan mementingkan diri sendiri dalam segala hal, khususnya dalam perekonomian. Berawal dari rusaknya tatanan ekonomi itulah, semangat Gotong Royong luntur dan bisa dibilang punah dari bumi Indonesia.

Entah hendak mengawali dari mana, tentunya banyak orang yang kompeten dimuka bumi Indonesia ini yang dapat mengurai carut-marut birokrasi, tata budaya, maupun tata ekonomi bangsa ini dengan mengutamakan Gotong Royong sebagai karya abadi yang dapat ditularkan pada generasi berikutnya. Dengan bergotong-royong saling bergandengan tangan penuh cinta dari mulai tiap institusi, komponen masyarakat, akademisi, jurnalis dan lain-lain yang merasa penduduk dan warga Indonesia untuk ber-aksi, menyumbangkan pikiran dan materi dengan satu tujuan, kembalinya Sungai Citarum ke ekologi dan ekosistem DAS yang lebih baik.

Tidak ada pahlawan kesiangan, tidak ada pengadu nasib menunggu tetesan nilai proyek, tidak ada kesempatan dalam kesempitan memanfaatkan momen carut-marutnya manajemen regulasi, tidak ada omong kosong koar-an intervensi ke industri untuk dijadikan “ATM Bersama”, tidak ada pat-gulipat pengusaha dengan alasan sepi order dan karyawan menjadi korbannya, tidak ada suatu masalah yang tidak ada solusinya. Agar Buku Putih yang menjadi catatan sejarah Sungai Citarum kembali menorehkan Tinta Emas bukan lagi tinta hitam seperti Limbah Hitam Citarum.***(Tamat)

Facebook Comments

Leave a Reply