Buku Putih, Limbah Hitam Citarum (jilid 2)

Kateristik Limbah Industri Textil

Proses & Limbah Industri Tekstil
Limbah memang sangat berbahaya dalam kehidupan kita, baik bagi manusia, lingkungan, makhluk hidup yang ada dalam air dan juga tanaman. Limbah dianggap lebih banyak menghasilkan hal negatif dibandingkan positif sehingga dapat disebut bahwa limbah mengganggu. Karena itulah, masyarakat haruslah memberi perhatian akan kedatangan limbah. Menurut kateristiknya limbah ini dibagi menjadi tiga yaitu, fisik, kimia dan biologi.

Pembagian kateristik Fisik terbagi dalam jenis, Zat padat, Bau, Suhu, Warna, Kekeruhan. Sedangkan pembagian kateristik Kimia dibagi beberapa bagian, yakni Bahan organik, BOD (Biologycal Oxygen Demand), DO (Dessolved Oxygen), COD (Chemicial Oxygen Demand), pH(Puissance d’Hydrogen Scale), Logam berat.

Tanur Aerob dan An-Aerob

Pada karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Selain benda, di dalam limbah juga terkandung organisme hidup yaitu bakteri yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup, yang dapat menimbulkan berbagai penyakit dalam tubuh. Bakteri yang digunakan sebagai indikator adalah Escherichia coli dimana bakteri yang hidup dalam kotoran manusia dan hewan ini bisa ditemukan juga dalam limbah yang dianggap membahayakan dan mencemari.

Pada industri yang menggunakan pewarnaan testil meliputi zat warna sintetis dan alami, pengental gusi (guar) dan berbagai bahan pembasah, buffer pH dan zat tahan warna atau akselerator. Khas efluen terukur setelah perlakuan dengan flokulan dan pelarut berbasis polimer meliputi BOD, COD, Warna (ADMI), Sulfida, minyak dan lemak, fenol, TSS, logam berat (kromium, seng, timbal, tembaga).

Limbah industri tekstil memiliki kadar warna dan COD yang cukup tinggi karena sebagian besar limbah yang dihasilkan berupa campuran dari bahan – bahan organik sebagai produk samping dari proses produksi. Pewarnaan dan pem-bilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD (Chemical Oxygen Demand) tinggi dan bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai. Selama ini, di Indonesia sebagian besar pengolahan limbah dilakukan secara fisika, kimia dan biologi. Pengolahan limbah harus mempertimbangkan segi efisiensi dan biaya pengolahan yang harus dikeluarkan oleh industri yang bersangkutan.

Proses pengelolahan limbah cair pada IPAL secara umum melalui inlet, (1)Proses fisika dan kimia awal, (2)Sedimen awal, (3)Proses Biologi/Kimia, (4)Sedimen akhir, (5)Pengolahan lumpur/slude yang berasal dari proses (2) dan proses (4), outlet.

Pada pengelolahan limbah secara Fisika melalui proses Screening, Pendinginan, Pengadukan, Sedimentasi, Filtrasi. Screening dilakukan untuk menyisihkan padatan kasar yang terdapat pada limbah cair seperti kayu, ranting, papan, dan padatan besar/kasar lainnya. Manfaat utama screening ini adalah untuk pemeliharan peralatan pompa dan juga menjaga adanya penumpukkan (clogging) pada katup dan sarana lainnya. Screening dapat dilakukan pada bak dengan kawat ram sederhana pada inlet, atau dengan mesin rotary drum screen secara modern atau dengan mesin bar screen dengan kapasitas yang lebih besar hasil limbah cairnya.

Gambar Proses Fisika

Pendinginan (cooling) dilakukan untuk menurunkan suhu limbah yang akan diolah sebelum masuk ke dalam sistem pengolahan utama (biologi atau kimia). Proses ini dapat dibantu dengan installasi mekanik, seperti cooling tower, atau bantuan dengan udara, misalnya aerator. Colling tower yang terdiri dari pipa-pipa yang dimodifikasi model laminar flow atau turbulent flow agar limbah cair dapat mengalami turbulensi yang membantu menurunkan suhu, melarutkan oksigen dan menurunkan COD. Proses selanjutnya yakni ekualisasi dan aerasi.

Pengadukan atau proses tahapan ekualisasi bertujuan untuk membantu penyeragaman limbah yang masuk supaya limbah bersifat homogen sehingga meringankan proses Pengolahan karena karakteristik limbah cenderung tidak fluktuatif.

Sedangkan Aerasi adalah suatu proses penambahan udara/oksigen dalam air dengan membawa air dan udara ke dalam suatu wadah atau kontak yang dekat, dengan cara menyemprotkan air ke udara (air ke dalam udara) atau dengan memberikan gelembung-gelembung halus udara dan membiarkannya naik melalui air (udara ke dalam air).

Sedimentasi merupakan tahapan untuk menghilangkan materi tersuspensi atau flok kimia secara gravitasi. Proses sedimentasi pada pengolahan air limbah umumnya untuk menghilangkan padatan tersuspensi pada zat padat organik dan tidak terlarut, selain itu juga untuk menghilangkan partikel terlarut seperti garam, mineral dan logam yang larut serta partikel koloid yakni yang membantu kestabilan sebelum dilakukan proses selanjutnya.

Selanjutnya proses Filtrasi/penyaringan bertujuan memisahkan padatan tersuspensi dari dalam air yang tidak terendapkan pada proses sedimentasi. Filtrasi biasanya dilakukan di akhir proses, sebelum dibuang ke outlet. Pada tabung filtrasi biasanya tersusun secara berlapis berisikan karbon aktif, pasir silika, batuan zeolit, batuan anthracite coal dan batuan gravel.

Pengelolahan secara Kimia, proses kimia dilakukan dengan cara membubuhkan bahan kimia atau larutan kimia pada air limbah agar dihasilkan reaksi tertentu. Pada limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi celup warna atau pelunturan kanji dinetralisirkan atau melalui proses netralisasi limbah asam atau basa, sehingga dapat memperbaiki proses pemisahan lumpur, memisahkan padatan yang tak terlarut, mengurangi konsentrasi lemak, meningkatkan efisiensi instalasi floatasi dan filtrasi serta dapat mengoksidasi warna dan racun.

Gambar Proses Kimia

Netralisasi merupakan proses limbah cair yang mengandung zat-zat kimia termasuk logam berat, agar dapat terendap menjadi lumpur. Dengan proses netralisasi limbah dapat menghilangkan keasaman dan kebasahan yang dapat mengakibatkan pH air limbah terlalu rendah atau terlalu tinggi sebelum limbah cair diproses lebih lanjut.

Proses selanjutnya Presipitasi yakni pengolahan bahan-bahan terlatur dengan cara penambahan bahan-bahan kimia atau chemical yang dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan (flok/flokulasi) biasanya menggunakan Poly Aluminium Chloride (PAC) dalam proses Koagulasi. Hal ini dilakukan bahwa air limbah yang mengandung logam berat, sulfat, fluoride dan garam-garam besi dapat diikat oleh PAC menjadi lumpur. Bahan Koagulan ( penjernih air) lainnya seperti alum, besi klorida, dan fero sulfat akan menjadi keruh apabila digunakan secara berlebihan. Sedangkan, hal ini tidak terjadi pada PAC. Anda dapat berhemat bahan kimia seperti bila menggunakan bahan penjernih ini.

Proses Koagulasi dan Flokulasi mempunyai peranan yang penting dalam pengelolahan air limbah, hal yang terpenting disini adalah pemilihan zat koagulasi dengan pertimbangan antara lain jumlah dan kualitas air yang akan diolah, kekeruhan, metode penyaringan lumpur dan sistem pembuangan lumpur endapan. Karena beberapa industri terjebak dengan harga murah saja dan beberapa metode penyaringan yang tidak efektif menyebabkan nilai pH dan COD pada limbah cair tidak pernah bisa dicontrol atau berparameter tinggi.

Pengolahan secara Biologi, semua air limbah atau air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam waktu 10 tahun kebelakang telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.

Gambar Proses Biologi

Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1) Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2) Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor ).

Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.

Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.

Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain: 1) Trickling filter, 2) Cakram biologi, 3) Filter terendam, 4) Reaktor fludisasi. Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.

Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis: 1) Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen, 2) Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/L, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/L, proses anaerob menjadi lebih ekonomis

Dalam prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas. Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi (rycicle) menjadi air baku kembali.

Untuk suatu jenis air limbah tertentu, ketiga jenis proses dan alat pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan.*** (bersambung…)

Facebook Comments

Leave a Reply