Buku Putih, Limbah Hitam Citarum (jilid 1)

SALAM PEMBUKA KATA

Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Pasudan Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai Citarum mengalir dari hulunya di Gunung Wayang Selatan Kota Bandung mengalir ke utara dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Citarum mengalir melewati 12 wilayah Kabupaten dan Kota. Sungai Citarum menyuplai udara untuk kebutuhan penghidupan 28 juta masyarakat, sungai yang merupakan sumber air minum 80% dikonsumsi penduduk jakarta, selain itu juga dimanfaatkan sebagai sumber air minum bagi masyarakat Bekasi, Karawang, Purwakarta dan Bandung. Dengan panjang sungai sekitar 269 km mengaliri areal irigasi untuk pertanian seluas 420.000 hektar. Sungai Citarum juga berperan sebagai pemasok listrik sebesar 1.888 Mega Watt pada jaringan interkoneksi Jawa – Bali dari 3 waduk yakni Saguling, Cirata dan Jati Luhur.

Betapa penting peran Sungai Citarum yang sudah menjadi Sumber Penghidupan bagi masyarakat yang dilewatinya, berasal dari mata air Danau Cisanti di Gunung Wayang yang juga merupakan mata air purba. Sehingga bila tidak dijaga kelestariannya maka malapetaka dan musibah akan datang secara permanen seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan.

Kolam Aerasi

Sungai Citarum Terkini
Kondisi Sungai Citarum saat ini sangat memprihatinkan, menurut keterangan dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum kini tergolong sungai terkotor di Dunia. Berdasarkan data tahun 2010 dari 10 titik pantau mutu yang paling masuk kategori tercemar berat adalah Majalaya, Sampan, Cijeruk dan Dayeuhkolot. Salah satu parameter signifikan melewati batas ambang pintu adalah kandungan bahan kimia beracun dari limbah cair industri tekstil, hal itu terbukti dengan banyaknya ikan-ikan mati di Sungai Citarum yang tercemar limbah yang berasal dari industri.

Uji klinis pada ikan dan air yang dilakukan Kesdam III Siliwangi bekerjasama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Bandung ditemukan kandungan Mercuri, Coliform (bakteri), Pseudomonas Aeroginosa (bakteri) dan Logam Berat (Besi-Fe, Mangan-Mn, Timbal-Pb, Sulfur-SO4, Klor-Cl). Kandungan tersebut dapat dijumpai pada peptisida, limbah tekstil dan limbah domestik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Sungai Citarum yang memiliki fungsi sebagai wadah ekologi memiliki ekosistem yang rusak diakibatkan oleh pencemaran limbah cair dan peptisida, mengakibatkan polutan tinggi. Mahluk hidup yang menghuni Sungai Citarum seperti tanaman, berbagai ikan yang merupakan khas Jawa Barat terpapar zat yang mematikan keberadaannya dan bisa jadi akan punah.

Secara berkelanjutan penelitian limbah cair yang ada di Sungai Citarum membagi keberadaan titik lokasi yang dianggap sebagai penyumbang limbah cair melalui Zona Limbah dari hulu ke hilir. Dengan terbagi ke dalam tujuh zona yaitu empat zona di Kabupaten Bandung dan tiga zona di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi dan Kota Bandung. Zona satu itu meliputi Majalaya dan sekitarnya. Zona dua, Bojongsoang dan Rancaekek. Zona tiga, Dayeuhkolot dan empat Dayeuhkolot sampai Curug Jompong akan dapat mengukur kualitas air Sungai Citarum dengan segala upaya yang dilakukan pada industri tekstil.

Mesin Celup Warna dan Obat Chemical

Kenapa Harus Limbah Cair Industri ?
Menurut kamus bahasa Indonesia, limbah adalah pembuangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.

Sedangkan limbah industri yang mencemari sungai dan badan air lainnya berasal dari bahan kimia. Zat pewarna dari pabrik garmen mengandung bahan kimia beracun, airnya menjadi berubah warna. Korban utama pencemaran air adalah spesies ikan dan tanaman air terancam punah. Banyak tanaman penting yang mati karena bahan kimia beracun di air. Ini merugikan hewan yang bergantung pada tanaman. Sehingga simbiosis mutualisma pada rantai makanan yang terputus akan mengakibatkan ekologi sungai dan lingkungan rusak dan punah. *** (bersambung…)

Facebook Comments

Leave a Reply