Budidaya Ikan Potensi Ekonomi Jadi Jawaban Saat Sungai Citarum Bersih

Bandung Side, Majalaya – Dihulu Sungai Citarum diwilayah Kecamatan Majalaya, banyak pembudidaya memanfaatkan arus air sungai untuk memelihara ikan sebagai sumber penghidupan masyarakat.

Begitu juga dengan Yayah (60 th) warga Kampung Wangisagara Hilir, Desa Wangisagara, Majalaya yang sudah sejak tahun 2000 secara mandiri membudidayakan ikan mas dan ikan nila dialiran irigasi depan rumahnya. Yayah secara otodidak memanfaatkan air bersih yang mengalir deras dari Sungai Citarum mengisi saluran irigasi dikampungnya untuk membesarkan ikan peliharaannya.

Saluran irigasi dimanfaatkan untuk budidaya ikan mas dan nila warga Kampung Wangisagara Hilir, Sabtu (21/9/2019).

Sebuah teknik tradisional pembesaran ikan dengan memanfaatkan arus mengalir masih diterapkan oleh Yayah. Keyakinan Yayah bahwa dengan adanya arus yang deras akan membuat ikan bisa cepat lebih besar karena dipaksakan untuk melawan arus air dan secara alami akan mendapatkan nutrisi tambahan dari jasad renik yang banyak terdapat pada air.

“Konsumen lebih senang membeli ikan yang berasal dari pembudidayaan arus sungai di Kampung Wangisagara Hilir karena ikannya terasa segar bila dimasak,”ujar Yayah. Hal tersebut terungkap setelah Yayah mendapatkan cerita dari konsumennya sendiri saat membandingkan membeli ikan mas didaerah lain.

Ikan mas hasil pembudidayaan Yayah (60th) di kampung Wangisagara Hilir, Sabtu (21/9/2019).

“Memang terasa agak lambat masa panennya, antara usia 3 – 5 bulan, namun tidak mengapa karena saya sudah menyiapkan beberapa lapak kolam dialiran irigasi untuk proses pembibitan. Kadang permintaan konsumen begitu cepat sehingga ikan yang belum siap panenpun kadang ikut terjual, kasihan konsumen bila sudah jauh-jauh datang tidak ada ikan,”cerita Yayah.

Yayah merupakan salah satu pembudidaya ikan air tawar yang masih ada, tadinya banyak pembudidaya yang memanfaatkan aliran irigasi dalam proses pembesaran, namun banyak yang bangkrut dikarenakan alih profesi maupun tidak bisa mengelola keuangan baik pemodalan maupun cara memasarkan.

“Belum adanya pelatihan dari dinas perikanan atau entah pemerintah yang mana agar kami bisa lebih bertahan dalam pembudidayaan secara mandiri. Apalagi bantuan benih maupun pemodalan, akhirnya hanya diusahakan sendiri bila kami kesulitan modal, maklum kami takut berhutang,”papar Yayah.

Saresek atau besi penghalang sampah dialiran irigasi juga sebagai batasan lokasi lapak pembesaran ikan mas dan ikan nila milik Yayah (60th) warga Kampung Wangisagara Hilir, Sabtu (21/9/2019).

Saat ini Yayah memiliki 7 lapak yang tiap lapaknya diberi penghalang besi atau seresek sebagai penghalang sampah yang selalu ada dialiran irigasi, tiap lapak berukuran 20m x 6,5m diisi kurang lebih 2,5 – 3 kuintal ikan mas dalam proses pembesaran. Untuk kebutuhan pakan dalam 1 minggu kurang lebih menghabiskan dana Rp 1 juta atau Rp 4 juta/bulan. Dengan kolam yang dimiliki maka perbulan pengeluarannya kurang lebih Rp 28 juta, bila sampai tiga bulan masa pembesaran, maka pengeluaran Yayah sebesar Rp 84 juta.

“Bila dihitung paling irit saja pengeluaran selama 3 bulan panen sebesar Rp 84 juta untuk modalnya, hal ini yang membuat sulit saya untuk menunggu masa panen semua. Maka yang terjadi saya harus menjual segera untuk membeli kembali pakan dan bibit agar tidak bersamaan panennya,”ungkap Yayah.

Saat wawancara dengan Bandung Side, Yayah didampingi Istri tercinta yang mengeluhkan bahwa Bapak selalu menjualnya murah terus perkilo ikannya. “Bapak kadang kasihan dengan pembelinya bila dijual kemahalan, padahal denga harga perkilo anta Rp 25 ribu masih terlalu murah bila dibandingkan pembudidaya ikan lainnya yang dapat menjual dengan harga Rp 35 ribu,”kata Istri Yayah.

“Memasuki musim penghujan saya sudah menyiapkan modal untuk membeli bibit, karena saat penghujan proses pembesaran agak lebih cepat karena arus Sungai Citarum lebih besar dan cepat mengalirnya. Namun, kendala yang masih belum hilang sampai sekarang yakni sampah yang berasal dari atas mengalir entah siapa yang membuang,”keluh Yayah.

Bibit ikan mas milik Yayah (60th) siap dibesarkan dalam waktu 3 bulan, Sabtu (21/9/2019).

“Sejak adanya bapak-bapak TNI yang tergabung dalam Citarum Harum sampah dapat berkurang yang mengalir dialiran irigasi ini. Jadi saya bisa lebih ringan dalam membersihkan sampah dan ikan akan tumbuh dengan cepat bila air yang mengalir bersih dari limbah dan jernih,”pungkas Yayah.

Letda Arh. Dwi Iswantoro, Danki Sektor 4 Citarum Harum mengatakan,” Potensi ekonomi dan sosial diwilayah Kampung Wangisagara Hilir ini sangat menarik, pembudidaya ikan mas dan nila perlu menambah nilai agar dapat memberoleh manfaat ekonomi lainnya, seperti dengan membuat kolam pancing atau membuat kuliner masakan serba ikan”.

Bila memungkinkan dan masyarakat mengetahui potensi ekonomi yang ada, lanjut Letda Dwi, seperti dengan menciptakan ikon Desa Wangisagara yakni Desa Wisata Kuliner Serba Ikan maka perekonomian akan cepat berputar dan masyarakat dapat menikmati anugrah Sungai Citarum yang bersih ini.

“Intinya bila masyarakat mau berusaha mandiri dan mau menjaga Sungai Citarum agar tetap bersih, anugerah alam yang tidak ada batasnya ini dapat dimanfaatkan potensi untuk penghidupan,”pungkas Letda Dwi.***

Facebook Comments

Leave a Reply