Dialog Masyarakat Majalaya Dengan BBWS Citarum tentang Normalisasi Sungai Citarum Berjalan Kondusif

Bandung Side, Majalaya – Normalisasi Sungai Citarum yang sedang berjalan sejak 1,5 bulan diwilayah Kecamatan Majalaya hingga Kecamatan Selokan Jeruk dengan bentang sungai sepanjang 5,5 km mendapatkan respon positif dari masyarakat Kecamatan Majalaya. Respon positif tersebut berupa dialog dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sebagai pelaksana normalisasi yang digelar di are Kuburan Muslim Kondang, desa Majalaya, Kamis (8/8/2019).

Agak sedikit unik dari pelaksanaan dialog tersebut, yakni di are makam yang kebetulan terlintasi Sungai Citarum yang mengalami normalisasi. Dihadiri oleh perwakilan BBWS Citarum Yudi Mulyadi; perwakilan Oriental Consultan Global Co. Ltd (OC Global), Ridwan Zailani; BPD Desa Majalaya, Babinsa Majalaya, Satpol PP Majalaya, Anggota Satgas Sektor 4 Citarum Harum dan warga sekitar Kuburan Kondang.

Kondisi Jembatan Patrol, Majalaya dan Sungai Citarum, Kamis (8/8/2019)

Masyarakat Majalaya mempertanyakan tentang teknis normalisasi Sungai Citarum yang saat ini sedang berjalan berkesan asal membangun. Tidak adanya sosialisasi terlebih dahulu, plang atau pengumuman bahwa adanya kegiatan normalisasi Sungai Citarum juga tidak dijumpai diarea sepanjang 5,5 km bantaran Sungai Citarum tersebut.

Denni Hamdani, salah seorang warga mengawali pertanyaan kepada pihak BBWS Citarum mengatakan,” Masyarakat ingin mengetahui secara teknis tentang bantaran Sungai Citarum ini dinormalisasi seperti apa ? Karena pada prosesnya kok tampak menjadi mengecil sungainya, yang dikuatirkan nanti pada musim hujan akan lebih besar lagi banjir di Majalaya”.

“Dari data yang diambil oleh komunitas Jaga Balai dari satelit, pada tahun 2016 luas area terpapar banjir seluas 260 hektar, sedangkan pada tahun 2018 semakin meluas yakni 491 hektar. Hal tersebut menjadi kekhawatiran warga bila normalisasi Sungai Citarum tidak memperhitungkan faktor dimentioning karena faktor sedimentasi yang begitu tinggi dari hulu Sungai Citarum, sehingga usia teknis normalisasi akan rendah,”kata Denni Hamdani lebih lanjut.

Denni Ramdani sedang menunjukkan peta satelit Sungai Citarum yang berasal dari komunitas Jaga Bale diproduksi 22 Januari 2018 saat Majalaya mengalami banjir besar.

Perwakilan BBWS Citarum, Yudi Mulyadi mengatakan bahwa pelaksana teknis dilapangan sudah diambil alih oleh konsultan, namum perkembangan pekerjaan masih proses galian alur sebagai akses material agar bisa masuk kelokasi sebagai mobilisasi. “Secara teknis akan dijelaskan oleh pihak konsultan, yang pasti upaya percepatan akan kita lakukan untuk antisipasi genangan akan berkurang dengan normalisasi Sungai Citarum tersebut”.

“Pada dasarnya konsultan hanya mengawasi pelaksanaan pekerjaaan normalisasi Sungai Citarum sepanjang 5,5 km tersebut. Secara teknis Sungai Citarum akan memiliki lebar atas 16,5 m dan lebar dasar 12,5 m dengan kedaam 4 m. Sementara kemiringan dasar sungai gradian hidrolig memanjang 1/1000, setiap 1 m untuk 1 km dasar sungai, sedangkan sepadan sungai akan memiliki lebar 5 m termasuk peruntukan jalan inpeksi 3 m, atau menyesuaikan dengan lahan yang tersedia”ungkap Ridwan Zailani, perwakilan OC Global.

“Selain itu, sebagai pengaman tanggul adanya slope atau scour protection dengan kontruksi beton cycloop pada dinding sungainya,” lanjut Ridwan.

Masyarakat Majalaya sedang meneliti gambar perencanaan detail enginering bersama BBWS Citarum, Kamis (8/8/2019)

Dialog yang merupakan ajang konsultasi dan diskusi menjadi lebih hidup dengan beberapa argumentasi dari masyarakat yang mengalami keresahan tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Denni Hamdani dengan asumsi apa yang dipaparkan bahwa bila bentang Jembatan Patrol 18,5 m, namun Sungai Citarum nanti setelah normalisasi Lebar Atasnya hanya 16,5 m dan Lebar Bawahnya 12,5 m dengan kedalaman 4 m. Sementara kemiringan tanggulnya 50% dan gradien hydrolisnya 1 per mil atau 1m setiap 1 km. Di kiri kanan sungai ada jalan inspeksi 3 m dengan bahu jalan 2 x 1 m. Apa tidak ada perhitungan dengan tingkat kecuraman didaerah hulu yang memiliki kemiring 45 derajat bila terjadi hujan menyebabkan banjir bandang meluncur deras diwilayah Majalaya ? Dan yang terjadi akan mengalami percepatan kembali sedimentasi diwilayah Majalaya dan Selokan Jeruk dengan cepat.

Selain itu, lanjut Denni, untuk membuat kekuatan bantaran agar tidak mengalami longsor digunakan kontruksi struktural beton pada kirmirnya, apa tidak membuat ekologi sungai terganggu, tidak berkembang biak baik ikan atau tanaman yang menjadi penghuni Sungai Citarum. Apa tidak dilakukan pendekatan normalisasi dengan cara Natural yakni dengan membiarkan bantaran sebagaimana mestinya dengan ditanami vertiver atau pohon keras untuk pencegahan longsornya. Dengan begitu bagaimana keberadaan Program Citarum Harum, jadi pengkajian normalisasi Sungai Citarum berdasarkan apa bila kondisi alam dipaksakan dengan beton dari pada menormalkan ekosistem Sungai Citarum tumbuh kembali.

Normalisasi Sungai Citarum melalui tanah Kuburan Muslim Kondang, Majalaya, Kamis (8/8.2019)

Dampak lain dari pada dengan dibeton nya kirmir pada bantaran yang sekaligus sebagai akses jalan inpeksi membuat air luapan Sungai Citarum tidak bisa diserap oleh dinding tanah untuk mengisi sumur dangkal bila dilakukan normalisasi secara struktural, bagaimana dengan mata air yang ada disekitar Sungai Citarum ? Mata air itu tidak bisa mengisi sungai secara alami bila bantaran dibeton saat musim kemarau nanti, hasilnya Sungai Citarum akan kering.

Warga lainnya, Deni Riswandani juga menanyakan, normalisasi Sungai Citarum menjadi pekerjaan negara begitu ceroboh. “Selevel negara, pekerjaannya seperti anak sekolah yang sedang PKL, tidak adanya plang pengumuman pekerjaan, sosialisasi kemasyarakat juga tidak ada, tiba-tiba sudah bekerja alat beratnya,”kata Deni Riswandani.

Sungai Citarum yang tampak mengecil dan sempit

Begitu banyak pertanyaan masyarakat Majalaya mengenai normalisasi Sungai Citarum, adanya tanah timbul atau oxbow akibat bergesernya aliran Sungai Citarum yang menimbulkan delta juga dikuasahi kepemilikannya oleh oknum hingga menjadi sertifikat resmi dari negara, hal tersebut terjadi di area yang sudah berdiri pabrik tekstil diwilayah Desa Sukamaju. Bahkan ada juga akibat dari normalisasi, dianggap tidak menganut prinsip keadilan didalam pelaksanaannya, ada tanah warga yang mengalami perapian dengan ganti rugi yang layak namun ada area atau tanah yang sudah dikuasai pabrik tekstil harusnya bila mengikuti parameter ukur terkena perapian juga, namun malah berbelok seakan menghindar atau membuat bantaran baru dengan mengorbankan bergeser aliran sungainya.

Namun hari sudah menjelang siang, dialog yang berkembang hingga diluar ranah BBWS Citarum diakhiri dengan kelanjutan dialog dengan bagian Perencanaan BBWS Citarum diwaktu yang akan ditentukan kemudian oleh pihak BBWS Citarum dan ditutup dengan botram disekitar Kuburan Muslim Kondang, Majalaya.***

Facebook Comments

Leave a Reply