IPAL PT Lautan Warna Sari Perlu Disempurnakan Agar Limbah Cairnya Sesuai Baku Mutu

Bandung Side, Cilampeni – Satgas Sektor 8 Citarum Harum melakukan kunjungan ke industri yang mengelola zat pewarna dan obat kimia tekstil, PT Lautan Warna Sari untuk meninjau kelayakan Instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL) di Kampung Muara Ciwidey RT 01/RW 01 Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Rabu (18/7/2019).

Kunjungan yang bersifat inspeksi mendadak (sidak) diperiksa secara langsung oleh Satgas Sektor 8 Subsektor Desa Cilampeni yang dipimpin oleh Pelda Rusman, bersama anggotanya merangsek kebagian IPAL PT Lautan Warna Sari (PT LWS) tepatnya dibelakang halaman pabrik. IPAL dalam prosesnya secara biologi mengawali pengelolahan awal (pretreatment) pada bak inlet, hal tersebut dikarenakan PT LWS dalam melakukan proses produksinya menghasilkan 2 jenis produk yakni powder dan liquid dalam kegiatan eksistingnya menimbulkan dampak lingkungan.

Bahan baku yang digunakan seperti antraqinone, monokhlorotriazina, napthalene, zat warna, tapioka serta bahan penolong seperti coustic soda, sodium hidrosulfit, sodium alginat, asam cuka dan glauber salt setelah berproses akan menghasilkan debu dan limbah cair. Limbah cair dari hasil pencucian tangki mengalir ke saluran IPAL secara periodik, sehingga dibutuhkan proses pretreatment terlebih dahulu sebelum diproses secara biologi.

Pelda Rusman, Satgas Sektor 8 Citarum Harum sekaligus Dansubsektor Desa Cilampeni sedang memberi arahan kepada bagian IPAL PT Lautan Warna Sari

Dari proses pretreatment pada bak ekualisasi selanjutnya dialirkan pada bak proses pengelolahan dengan bahan kimia yang selanjutnya diendapkan dalam bak anaerob yang tentunya menghasilkan endapan lumpur atau sludge. Cairan hasil proses kimia yang berasal dari bak anaerob dialirkan ke bak aerob untuk diproses secara biologi dengan menggunakan bakteri mikroorganisme agar dapat mengurai atau mendegradasi bahan organik.

Proses biologi yang diterapkan oleh PT LWS dimaksudkan agar air limbah diproses pada bak anaerob (tanpa adanaya udara atau oksigen) untuk menurunkan beban Biological Oxygen Demand (BOD) yang tinggi sedangkan pada proses aerob untuk menurunkan beban BOD yang besar agar bahan organik dapat pecah yang terdapat dalam air limbah. Sehingga pada proses biologi akan menghasilkan lumpur dari proses kimiawi dan proses mikroorganismenya yang berasal dari senyawa polutan, untuk mempercepat proses penguraian senyawa polutan atau memperpendek waktu tinggal dapat juga dilakukan proses aerasi suatu proses memberian udara atau oksigen pada bak aerob berupa gelembung-gelembung udara. Usai dari bak aerob limbah cair mengalir ke bak filtrasi yakni penyaringan yang langsung dialirkan ke bak outlet PT LWS.

Produk Pewarna Tekstil yang dihasilkan PT Lautan Warna Sari

Limbah cair yang dihasilkan dari bak outlet secara fisik menunjukkan warna yang keruh, bila dianalisa ada proses yang kurang sempurna dari pengelolahan limbah cair PT LWS. Menurut informasi manajemen PT LWS dari kapasitas IPAL 15 m3/hari hasil limbah cair yang dihasilkan 3 m3/hari tidak memungkinkan dikelola atau ditampung dalam bak-bak yang ukurannya bila di-rasio-kan tidak sesuai. Hal tersebut juga tampak ada beberapa proses yang di-bay pass dari pengelolahan awal limbah cair (pretreatment) kurang cukup waktu saat pemberian bahan kimia pada proses kimiawi sehingga akan membahayakan bagi mikroorganisme dalam memecah bahan organik tidak mampu karena bahan kimia akan lolos ke bak aerop yang mengakibatkan matinya mikroorganisme tersebut. Hal tersebut nampak pada hasil cairan limbah pada outlet yang mengindikasikan bahwa BOD dan COD nya masih tinggi dan tidak sesuai dengan baku mutu air limbah.

Dansubsektor Desa Cilampeni, Pelda Rusman mengatakan,”Proses pengelolahan limbah cair yang tidak sempurna akan mengakibatkan kerugian bagi kesehatan manusia dan lingkungan.Kadar BOD dan COD yang tinggi mengakibatkan oksigen terlarut dalam air tidak ada karena masih terikat dengan polutan, sehingga bila limbah cair yang dibuang langsung kesungai dalam kondisi BOD dan COD nya tinggi menjadi sumber penyakit dan lingkungan juga tercemar, seperti ikan akan mati dan tanaman akan mati juga”.

“Sehingga dari sidak yang kita lakukan yakni memberi peringatan keras bagi PT LWS untuk kembali memperbaiki pola kerja IPAL, khususnya bagian IPAL untuk menjadwal dalam hal pemberian cairan kimianya hingga memonitor secara terus-menerus pada outlet IPALnya,”kata Pelda Rusman.

Pelda Rusman sedang berada dilokasi bak dryeing bed PT Lautan Warna Sari

“Komunikasi secara intensif kepada konsultan yang ditunjuk oleh PT LWS bersama bagian IPAL nya harus terjadi, karena dari indikasinya ada beberpa kali pengelola IPAL berganti orang. Harapannya orang bagian IPAL harus yang paham akan limbah cair jangan mengambil pegawai IPAL dari karyawan yang tidak produktif atau karyawan buangan,”pungkas Pelda Rusman.

Bagian Umum PT LWS, Jani Diah Vipendaria mengatakan,”PT Lautan Warna Sari sejak diluncurkannya Program Citarum Harum sangat mendukung, terutama perhatian kepada IPAL sangat serius, hal tersebut ditunjukkan oleh pemilik dengan kerjasama konsultan limbah dalam mengelolanya”.

“Selain itu, dalam memperlakukan limbah padat non B3 nya juga disediakan tong-tong sampah guna memilah dan memilih sampah dilingkungan pabrik dan karyawan pun dengan disiplin memanfaatkan fasilitas tersebut,”pungkas Jani Diah.***

Facebook Comments

Leave a Reply