Bebek pun Berenang Kegirangan Meskipun Air Sungai Citarum Surut

Bandung Side, Majalaya – Menyusuri bantaran Sungai Citarum diwilayah Kampung Balekambang, Desa Sukamaju, sungguh memprihatinkan. Sisi Timur Sungai Citarum yang sudah mengalami pergeseran aliran dikarenakan oleh derasnya air yang turun dari hulu sehingga mengakibatkan terkikisnya bantaran yang rapuh dan labil di wilayah RW 16, 17, 18, 19 dan 20, Jumat (19/7/2019).

Erosi, pengikisan bantaran serta berbeloknya arah aliran Sungai Citarum diakibatkan oleh gesekan batu besar menjadi batu kecil-kecil (koral) hingga menjadi pasir tampak terlihat diwilayah RW 20 Kampung Bale Kambang, Desa Sukamaju. Sisi lain keberadaan batu kecil dan pasir yang dikandung oleh Sungai Citarum menguntungkan bagi warga penambang, tapi disisi lain menyebabkan lahan kritis yang mengakibatkan tanah bantaran labil dan longsor setiap saat pada bantaran sungainya.

Perahu penyebrang sarana transportasi untuk mencapai desa tetangga masih lestari berada di Kampung Balekambang, RW 20 Desa Sukamaju, Majalaya

Saat hujan pada bulan Februari 2019 lalu volume air Sungai Citarum meninggi dan deras dari hulu, sehingga memporak-porandakan bantaran yang sudah beberapa titik dilindungi dengan tancapan bambu agar tidak mengalami longsor bantarannya. Namun kekuatan alam tidak bisa dilawan, akhirnya longsor juga. “Hujan deras dan banjir yang menggenangi beberapa wilayah Kecamatan Majalaya, membuat kami harap-harap cemas akan kembali longsornya bantaran,”kata Agus Bethok warga RW 18 kampung Balekambang, Desa Sukamaju, Majalaya.

Aliran Sungai Citarum yang berbelok drastis membentuk delta di Kampung Balekambang RW 20 Desa Sukamaju, Majalaya

“Longsor yang diakibatkan derasnya aliran air Sungai Citarum hingga mencapai sisa 1 meter menghampiri pondasi rumah. Pagar bambu sebagai penahan tepi bantaran tidak kuat menahan hingga terbawa arus. Bahkan septictank komunal yang dibuat oleh Anggota Satgas Sektor 4 Citarum Harum juga ambrol yang dibangun disalah satu rumah warga. Padahal septictank itu digunakan oleh 4 warga untuk menampung limbah kakusnya,”tambah Agus.

“Sekarang warga kembali menjulurkan pipa paralon langsung ke Sungai Citarum, karena rumahnya sudah tidak ada lagi lahan untuk membuat septictank,”pungkas Agus Bethok.

Septictank komunal yang dibuat Satgas Sektor 4 pun terkikis oleh derasnya arus Sungai Citarum hingga ambrol.

Kondisi Sungai Citarum yang melintasi wilayah Desa Sukamaju, Majalaya kurang lebih sepanjang 2,5 km hingga Jembatan Patrol sudah mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Saat dilakukan pengerukan beberapa tahun lalu, kandunga pasir dan batu kecil lebih dominan diletakkan dibibir Sungai Citarum hingga ketinggian hampir 3 meter. Namun karena tidak adanya kirmir yang melindungi hantaman keras arus Sungai Citarum akan longsor kembali dan pengikisan kembali. Warga hanya bisa pasrah dengan kondisi tersebut, yang semakin hari pengikisan terjadi menggerus perlahan hingga batas tanah termakan juga oleh arus.

Warga kembali menjulurkan pipa saluran MCKnya langsung ke Sungai Citarum

Saat Bandung Side mengamati kondisi Sungai Citarum diwilayah Kampung Balekambang RW 20, Desa Sukamaju tampak serombongan bebek yang diternak oleh warga sedang berenang, seakan mengajak bercanda kegirangan dengan teman-temannya sambil mencari ikan untuk makan siangnya meskipun air Sungai Citarum surut.

“Dalam waktu dekat Satgas Sektor 4 akan mengeruk sedimentasi yang ada diwilayah Desa Sukamaju, agar daya tampung Sungai Citarum dapat lebih banyak saat musim hujan nanti,”kata Komandan Sektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso.

Septictank komunal yang masih utuh karya Satgas Sektor 4. namun miris bila terkikis.

“Upaya tersebut untuk mengurangi terjadinya banjir yang melanda Majalaya saat musim hujan nanti. Namun, bukan hanya daya tampung air yang menjadi target kami, pembersihan sampah dari Sungai Citarum yang berasal dari anak-anak sungai juga dapat menyebabkan banjir bila menyumbat drainase atau saluran selokan,”lanjut Kolonel Kustomo.

“Harapan Satgas Sektor 4 Citarum Harum, warga juga berpartisipasi dalam penanganan sampah rumah tangganya sehingga tidak dibuang sembarangan apalagi dibuang disungai. Satgas sektor 4 akan menindak tegas bila kedapatan menangkap pelakunya,”jelas Kolonel Kustomo dengan nada serius dalam penangani sampah diwilayah Majalaya.

“Kesadaran warga Majalaya belum maksimal dalam mengelola sampah rumah tangganya, selain itu infrastruktur pendukung atau alat pengangkut sampah dan Tempat Pengelolahan Sampah (TPS) sementara juga belum ada solusinya. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya lahan dari desa yang menjadi prioritas dalam menghadapi persampahan,”tambah Kolonel Kustomo.

Bebek berenang di Sungai Citarum

“Satgas juga mendorong desa agar persampahan diwilayahnya masing-masing dapat diatasi dengan swadaya, penggunaan dana desa dari Kementerian desa yang tepat sasaran untuk membangun TPS harusnya menjadi prioritas. Jangan menunggu bantuan dari pemerintah untuk membuat TPS, karena sampah setiap hari dihasilkan dari segala aktifitas manusia,”papar Kolonel Kustomo.

“Begitu juga dengan permasalahan septictank komunal, diupayakan tiap rumah memiliki sendiri karena belakang rumah (tempat aktifitas MCK) merupakan cermin budaya positif bila diperlakukan dengan baik. Semoga partisipasi warga akan Program Citarum Harum dilakukan dengan aksi yang bertanggung jawab agar Majalala menjadi kota terbersih di Kabupaten Bandung,”pungkas Kolonel Kustomo.***

Facebook Comments

Leave a Reply