Akibat Normalisasi Sungai Citarum, Warga Terpaksa Membuat Septictank

Bandung Side, Majalaya – Normalisasi Sungai Citarum diwilayah Rancakasumba hingga Jembatan Patrol, Majalaya membawa akibat keterpaksaan warga untuk membuat septictank sendiri dirumahnya, Jumat (19/7/2019).

Hal tersebut terungkap sejak eskavator memasuki tahap membuka lahan dalam proses pemadatan jalur pada bibir sungai (bandungside.com Minggu (14/7/2019). Tampak dilapangan pipa-pipa paralon menjulur terjuntai saat eskavator usai memporak-porandakan lahan hingga pipa-pipa tersebut terpotong saat ditanah digaruk menjadi terpotong. Selain itu, ada beberapa rumah yang mengalami perapian yang diperuntukan melebarkan jalur, sehingga sebagian rumah tersebut yang kebetulan bagian belakang rumahnya digunakan untuk kamar mandi dan wc terpotong.

Warga Majasetra Buat Septictank

Normalisasi Sungai Citarum yang melintasi 5 desa dan 3 kecamatan ini masuk dalam sektor 5 dan sektor 4 Citahum Harum melalui Desa Rancakasumba-Kecamatan Solokan Jeruk, Desa Mekarsari-Kecamatan Ciparay dan Desa Majasetra, Desa Majalaya serta Desa Sukamaju-Kecamatan Majalaya pada kondisi berkelok menyusuri rumah warga, dinding pagar tembok pabrik dan tanah makam. Bagi rumah warga yang terkepras untuk jalur eskavator dapat diketahui bila warga dipinggir Sungai Citarum sudah memiliki kamar mandi dan WC, namun tidak memiliki septictank sebagai wadah mengelola limbah domestik rumah tangganya. Jadi, secara otomatis limbah kotoran manusia dari kakus disalurkan melalui pipa paralon menuju langsung ke Sungai Citarum yang telah ditanam dibantaran atau bibir sungai.

Salah seorang warga Desa Majasetra bernama Agus (36) sedang beraktivitas mengaduk semen disiang hari ini mengatakan,”Kami sedang merapikan kembali bangunan rumah yang terkena kepras untuk jalur eskavator, termasuk pada bagian kamar mandi hampir semuanya”.

Pipa saluran limbah rumah tangga tanpa septictank langsung menuju Sungai Citarum

“Mengingat kebutuhan kamar mandi sangat penting sehingga harus didahulukan dibuat, termasuk septictanknya. Apalagi proses normalisasi Sungai Citarum membutuhkan waktu lama dan pipa paralon saluran wc yang ke sungai sudah terpotong, jadi kami terpaksa membuat septictank pada sisa lahan yang kami miliki,”kata Agus.

Saat memantau lokasi diwilayah Desa Majasetra Komandan Sektor (Dansektor) 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso mengamati aktifitas warga yang terjadi dilapangan, sambil ngobrol singkat dengan warga. “Secara tidak langsung, warga menjadi sadar bahwa limbah domestik atau limbah yang dihasilkan dari rumah tangganya juga harus dikelola terlebih dahulu. Khususnya keberadaan septictank saat membangun rumah harus sudah satu paket sudah ada keberadaannya,”kata Kolonel Kustomo kepada Bandung Side.

Pipa-pipa paralon saluran limbah kamar mandi dan kakus menuju Sungai Citarum tanpa dikelola terlebih dahulu di septictank

“Mungkin dengan hanya menjulurkan pipa saluran kakusnya ke Sungai Citarum masalah limbah dirumahnya sudah selesai, tapi ingat kotoran manusia itu mengandung bakteri e-coli yang menyebabkan sakit perut terkumpul di sungai yang airnya dimanfaatkan oleh warga dalam beraktifitas sehari-hari seperti mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangganya, untuk mandi dan lain-lain mengalami pencemaran dan menjadi sumber penyakit,”tambah Kolonel Kustomo.

“Kadang kesadaran warga akan timbul dan langsung beraksi saat ada peristiwa seperti ini, yakni Normalisasi Sungai, bukan karena sosialisasi Satgas Citarum Harum akan pentingnya memiliki septictank dibagian rumahnya,”pungkas Kolonel Kustomo.***

Facebook Comments

Leave a Reply