Alun-alun Cermin Wajah Majalaya

Bandung Side, Majalaya – Mahasiswa KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix Universitas Pendidikan Indonesia bersama Satgas Sektor 4 Citarum Harum dan warga Desa Majalaya gelar karya bakti beberes Alun-alun Majalaya, Minggu (20/1/2019).

Karya bakti ke-2 yang telah dilakukan oleh Satgas Sektor 4 Citarum Harum kali ini menggandeng KKN Tematik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membersihkan sampah, gorong-gorong aliran air hujan dan merapikan taman bersama kader PKK juga warga RW 12 C Desa Majalaya. Selain itu tampak kelompok musik hip-hop yang tergabung dalam SG Entertaiment yang dimotori oleh Asep Balon dan AOI bersama fansnya juga bersimpati berkarya bakti, juga adik-adik pramuka dari Sekolah Dasar.

Mengawali aktifitas karya bakti di Alun-alun Majalaya, digelar apel pagi dahulu yang dipimpin oleh Lettu Asep Hendi sekaligus memberi pengarahan, pembagian kelompok dan ricek peralatan karya bakti agar tepat sasaran. Selain itu, Lettu Asep pun mericek kondisi kesehatan anggota Satgas Sektor 4 Citarum Harum, mahasiswa KKN Tematik UPI serta warga yang berpartisipasi melakukan karya bakti agar keselamatan saat melakukan aktifitas dapat terjaga. Apel pagi ditutup dengan do’a bersama dan langsung menempati area karya bakti masing-masing.

“Hari ini karya bakti atas inisiasi mahasiswa KKN Tematik UPI, respon positif dari Satgas Sektor 4 Citarum Harum segera mengajak dan mengundang elemen masyarakat yang peduli dengan lingkungan. Alhamdulillah terkumpul sekitar 60 personil yang melakukan karya bakti untuk membersihkan sampah plastik yang berserakan didalam Alun-alun Majalaya, selain itu sampah juga terdapat disaluran air hujan yang nanti kita angkat dan kumpulkan kedalam karung,”jelas Lettu Asep.

Mustagisin, koordinator KKN Tematik UPI pun menyampaikan bahwa karya bakti yang digelar di Alun-alun Majalaya sebagai salah satu upaya sosialisasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya kebersihan dan memperlakukan sampah dengan baik. Masih ada warga yang dengan sengaja membuang sampah dimana dia berdiri, padahal tidak jauh dari lokasinya ada bak penampung sampahnya dan itu ada di Alun-alun Majalaya bagaimana ditempat lain ?.

“Kami hanya bisa menunjukkan aktifitas memungut dan mengumpulkan sampah pada karung-karung yang tersedia agar warga pun bisa melakukan hal yang sama dengan kami di rumah atau dilingkungan masing-masing. Selain itu kami juga menghimbau agar mengurangi penggunaan barang yang terbuat dari meterial plastik, karena sulit di-urai dalam proses pengomposan sehingga hanya menjadi sampah saja,”kata Isin panggilan akrab pemuda blasteran Kamboja ini.

Alun-alun Majalaya menjadi pusat aktifitas masyarakat Majalaya atau sebagai ruang publik bagi yang melintasinya belum berapa lama ini sudah bersolek demikian cantiknya atas prakarsa pemerintahan Kabupaten Bandung. Menelan dana hingga Rp 4 miliar dari APBD Kabupaten Bandung serta partisipasi Paguyuban Pengusaha Tekstil Majalaya dalam penataan alun-alun yang akan menjadi ikon positif Kecamatan Majalaya.

Alun-alun Majalaya dilengkapi dengan taman dan tempat bermain anak-anak, di samping ada air mancur berupa bloom bak dan empat monumen tekstil yang ditempatkan di tiap sudut alun-alun. Selain itu lapangan olahraga untuk aktifitas masyarakat seperti basket dan voli bagi penghobi olah raga juga tersedia, termasuk jogging track bagi yang ingin lari atau jalan santai.

Dalam revitalisasi penataan Alun-alun Majalaya, gorong-gorong di seputar alun-alun pun diperdalam dan diperluas serta ditinggikan menjadi 40 sentimeter, untuk menghindari terendam banjir dan atasnya dimanfaatkan juga sebagai trotoar bagi pejalan kaki.

Sebagai ikon “Kota Dollar” pada tahun ’80an, Majalaya memiliki asset pengusaha tekstil hampir terdapat 220 yang bergerak di UKM maupn industri besar tekstil. Jadi, dengan reputasi sebagai wilayah yang pernah mampu memproduksi 40% dari total produksi kain di Indonesia bahkan pada tahun 1964 Majalaya menguasai 25% dari 12.882 ATM (Alat Tenun Mesin) di Jawa Barat dibuatlah 4 monumen alat tenun yang akan menghiasi tiap sudut Alun-alun Majalaya sebagai simbol pusat industri tekstil Bandung.

Belum lama usai pembangunan penataan Alun-alun Majalaya yang menelan biaya milyaran, kembali para pedagang yang memenuhi trotoar jalan baik dialun-alun utara maupun timur, menjual berbagai pernak-pernik, mulai dari topi, kacamata, sandal, jam tangan, pakaian, sepatu, hingga makanan. Sedangkan didalam alun-alun pedagang makanan seperti sosis, es kepal, jajanan yang menjadi favorit anak-anak berbagai jenis bahkan ada permainan anak seperti korsel mini dan sewa mobil-mobilan. Terlihat ramai, tapi dipastikan 100% benar bahwa sampah akan berceceran kemana-mana.

Kecantikan Alun-alun Majalaya tidak bertahan lama, kini kumuh kembali dan bertebaran sampah didalam alun-alun maupun disekitar alun-alun. Masyarakat yang menghuni Kecamatan Majalaya sepertinya belum siap merawat ikon Majalaya yang memiliki reputasi dunia akan hasil tekstilnya. Hanya karena alasan “perut” bisa semaunya mengotori dan membuang sampah tanpa memikirkan akibatnya bila sampah tersebut terus berserakan.

Seperti yang disampaikan oleh Eman (55th), Ketua RW 12C Kampung Pamagar Sari, Desa Majalaya yang wilayahnya tepat di Timur Alun-alun Majalaya mengatakan,”Sebulan sekali warga RW 12C melakukan karya bakti membersihkan sampah yang ada ditrotoar, tapi tidak menyelesaikan masalah juga bila perilaku masyarakat tidak berubah dalam memperlakukan sampah yang dihasilkannya. Lempar begitu saja”.

Ramah dalam bersinergi

Komandan Sektor (DanSektor) 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso mengatakan, “Permasalahan sampah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah tapi perilaku masyarakat juga harus berubah dalam menangani sampah, terutama sampah yang berasal dari rumah tangga”.

Setiap pribadi akan menghasilkan sampah tiap harinya minimal 800gram, lanjut Kolonel Kustomo, baik dalam aktifitas metabolismenya maupun dalam aktifitas pekerjaannya. Berdagang, berproduksi dan memasarkan dari tempat satu ke tempat lainnya dipastikan akan menghasilkan sampah.

“Perilaku masyarakat sangatlah dominan diupayakan berubah bukan menjadi cerita pagi hari diwarung kopi, kucing-kucingan dengan petugas kebersihan dan menyalahkan Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya Kecamatan Majalaya,”kata Kolonel Kustomo berusaha mengurai permasalahan.

“Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya Kecamatan Majalaya juga harus menyadari keterbatasannya dalam menyediakan sarana angkutan sampah serta keterbatasan sarana Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tersedia. Diperkirakan potensi sampah yang dihasilkan dalam satu desa kurang lebih 10 s/d 15 ton perhari, sehingga dibutuhkan formula bijak dalam mengatasi persampahan ini diwilayah Kecamatan Majalaya,”papar Kolonel Kustomo.

“Bila kapasitas sampah yang dihasilkan oleh warga melebihi TPS yang ada, maka tidak dapat dihindari masyarakat akan membuang sampahnya ketitik-titik tertentu bahkan membuang sampahnya kesembarang tempat. Dikawatirkan juga akan dibuang ke anak-anak sungai atau bahkan langsung ke Sungai Citarum. Hal demikian yang tidak berkenan, karena sebagai pengemban amanah Perpres No. 15 Tahun 2018, Satgas Sektor 4 Citarum Harum yang memiliki wilayah Kecamatan Majalaya akan menindak secara tegas bagi pelanggarnya,”tegas Kolonel Kustomo.

“Bila lingkungan bersih, Sungai Citarum bersih dapat dipastikan masyarakat Majalaya akan selalu sehat. Apalagi generasi yang akan datang yakni anak cucu dapat menikmati kelestarian dari Sungai Citarum serta manfaat yang ditimbulkannya untuk anak-cucu nanti. Hal tersebut dapat dimulai dari Alun-alun Majalaya sebagai cermin masyarakatnya,”pungkas Kolonel Kustomo.***(pamasa)

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan