Satgat Sektor 4 Citarum Harum Bersama Warga Perbaiki Cicit Sungai Citarum

Bandung Side, Majalaya – Sungai Citarum bagi masyarakat Provinsi Jawa Barat keberadaannya sangatlah vital bagi petani yang mengandalkan irigasinya baik melalui anak sungai atau cicit sungainya.

Seperti sudah diketahui bahwa Provinsi Jawa Barat sebagai daerah lumbung padi nasional dengan memiliki lahan sawah yang sangat luas, ± 1.000.000 ha yang terdiri dari 89,6% sawah beririgasi teknis dan 10,4% sawah tadah hujan. Diwilayah Sungai Citarum sendiri luas lahan sawah beririgasi teknis kurang lebih 361.380 ha atau 37% dari luas lahan sawah di Jabar. Sedangkan di Kecamatan Majala, Kabupaten Bandung, lahan pertanian kurang lebih 1.265ha (BPS 2010) begitu tergantung pada Sungai Citarum yang mengaliri wilayah tersebut.

Sehingga apabila Sungai Citarum terganggu dengan pencemaran limbah dan sampah, maka terganggu pula irigasi yang mengairi sawah warga di Kecamatan Majalaya. Hal tersebut terjadi diwilayah Desa Wangi Sagara dan Neglasari bahwa debit air yang mengalir dari Sungai Citarum mengisi saluran air Sungai Ancol yang merupakan Cicit Sungai Citarum mengalami penurunan. Oleh warga Neglasari beredar isu bahwa yang menyebabkan debit air Sungai Ancol tersebut turun dikarenakan diambil oleh pabrik tekstil CV Purnama Tirtatex sebagai sarananya untuk berproduksi.

Sungai Ancol yang merupakan Cicit Sungai Citarum merupakan pemasok aliran irigasi yang mengaliri sawah dan sebagian mengaliri kolam-kolam ikan warga Desa Wangi Sagara, Neglasari dan Desa Padamulya. Selain itu, sebagian industri tekstil diwilayah Majalaya juga mengandalkan Sungai Ancol sebagai bahan baku mengelola proses produksinya. Satgas Sektor 4 Citarum Harum sebagai pengemban Perpres No 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengandalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum menjembatani dua desa yang saling lempar tanggung jawab akan kondisi Sungai Ancol. Akhirnya pada Hari Kamis, Tanggal 20/12/2018 diadakan kerja bakti bersama membenahi kirmir Sungai Ancol dengan memasang bronjong sebagai penahan derasnya Sungai Citarum agar dapat masuk keselokan Sungai Ancol tersebut dengan lancar.

Upaya pembenahan kembali kirmir Sungai Ancol tersebut merupakan hasil penelusuran Satgas Sektor 4 yang dikomandoi oleh Lettu Arm Syarifudin sebagai Danki dialiran irigasi dua desa tersebut hingga mencapai Sungai Citarum yang harus menuruni teras siring sawah sejauh hampir 1 km. Kondisi Sungai Ancol secara alami terbentuk oleh sayatan batu cadas penahan Sungai Citarum, dikarenakan membawa manfaat sebagai irigasi maka air yang mengalir dibuatkan selokan hingga menuju kewilayah pesawahan warga.

Kondisi Sungai Ancol yang dipermasalahkan warga denga CV Purnama Tirtatex terpecahkan sudah, yang menyebabkan debit air Sungai Citarum menjadi kecil hingga tidak dapat menjangkau wilayah dua desa tersebut bukan karena disedot habis untuk proses produksi CV Purnama Tirtatex, melainkan saat Sungai Citarum meluap dari hulu menerjang hingga merusak kirmir alami berupa batu-batu kali penahan air yang mengalir ke Sungai Ancol. Sehingga air tidak menjangkau dam yang dibuat oleh warga sebagai penampung.

Bronjong yang dipasang memang bukan satu-satunya solusi agar debit air yang masuk ke Sungai Ancol dapat tinggi lagi dan lancar, tapi upaya yang dikerjakan dengan gotong royong bersama warga dua desa yang dilakukan Satgas Sektor 4 Citarum Harum merupakan pendekatan edukasi kepada warga. Hal tersebut dilakukan karena dengan mudahnya masyarakat menyalahkan pihak lain atau mengkambing hitamkan pihak lain sebagai solusinya, tanpa menelusuri sebab-akibat apalagi turun kelapangan mengerjakan sesuatu.

Lettu Arm Syarifudin mengatakan,”Ekses yang terdapat dimasyarakat hingga terjadi pertikaian harusnya dihindari, diupayakan duduk bersama untuk mengetahui penyebab permasalahan dan mencari solusi agar kedua belah pihak dapat mengambil manfaatnya bersama-sama”.

Keutuhan dan persatuan antar warga, lanjut Lettu Syarifudin, merupakan budaya lokal yang harus diwujudkan kembali, salah satunya dengan bergotong-royong memasang bronjong untuk penahan air Sungai Ancol ini. Jangan sampai warga jadi terpecah-belah karena oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kondisi tersebut, apalagi yang sering terdengar mengatasnamakan rakyat atau warga tapi tidak mau turun kerja bakti atau bergotong-royong.

“Semoga upaya kerja bakti bersama warga memasang bronjong pada Sungai Ancol ini menjadi momen dan dapat dicontoh, khususnya dalam menjaga, memelihara dan kepeduliannya kepada Sungai Citarum,”pungkas Lettu Syarifudin.

Sementara itu Kades Wangi Sagara, Gandi mengatakan,”Memang sudah lama sekali Sungai Ancol yang hulunya langsung dari Sungai Citarum ini tidak dibersihkan, sehingga menyebabkan terhambatnya air yang mengaliri irigasi ke sawah warga. Tapi alhamdulillah, warga Wangi Sagara dan warga Negla Sari bersama Satgas Sektor 4 Citarum Harum turun langsung kehulu Sungai Ancol untuk membersihkan dan memasang bronjong kirmir Sungai Ancol. Semoga dapat kembali dimanfaatkan oleh warga setelah aliran Sungai Ancol lancar kembali”.

Kolonel Inf Kustomo Tiyoso selaku Dansektor 4 Citarum Harum saat dikonfirmasi oleh Bandung Side mengatakan,”Intinya Satgas Sektor 4 Citarum Harum hanya sebagai mediasi, bukan pengambil keputusan. Tetap saja keputusan ada dimasyarakat, maka dari itu dibutuhkan komunikasi yang baik dan duduk bersama antara warga dan pihak pabrik CV Purnama Tirtatex agar ditemukan solusinya. Bila ada kerjasama yang baik, warga serta pihak pabrik akan mendapatkan manfaatnya. Dibutuhkan kepedulian untuk menjaga dan merawat baik kebersihan maupun pemeliharaan agar Sungai Ancol tetap lestari”.***

Facebook Comments

Leave a Reply