Cara Menyikapi Masyarakat Multikultural di Ruang Digital

cara menyikapi

Bandung Side, Kabupaten Bandung – Cara menyikapi media digital atau media sosial konon menjadi pilar kelima dari demokrasi setelah media massa yang setiap hari dilakukan sebagai bagian dari kehidupan.

Sebab seringkali media digital menjadi corong masyarakat untuk mengungkapkan dan cara menyikapi pendapat serta menyatukan pendapat.

Pendapat yang disampaikan dalam cara menyikapi hingga membuat kebijakan berubah akibat media sosial yang gaduh.

Dudi Rustandi, dosen Telkom University mengatakan, hal ini membuktikan media digital menjadi salah satu tempat masyarakat untuk berdemokrasi.

Namun disadari atau tidak, sejak populernya media digital justru konflik horizontal atau konflik sesama masyarakat semakin meruncing.

Contoh paling fenomenal adalah cebong-kampret saat pemilihan presiden.

“Hal itu menunjukkan ketidaksiapan masyarakat Indonesia khususnya yang berada di dunia digital untuk menerima perbedaan yang beragam,” kata Dudi Rustandi.

“Padahal Indonesia dikenal sebagai negara yang banyak perbedaan dan masyarakatnya sudah terbiasa hidup berdampingan di atas perbedaan,” ungkap Dudi Rustandi saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (21/9/2021) siang.

Namun ketika masyarakat Indonesia masuk ruang digital dimana berteman lebih banyak orang dengan berbagai karakter, negara dan budaya yang berbeda.

Termasuk mereka yang senang melakukan provokatif, seorang yang bijak pun bisa saja berubah. Sebab, sifat dari media sosial ini cepat mempengaruhi.

“Kalau dilihat dari psikologi ada penyakit psikologi yang sifatnya menular. Kalau kita tidak suka dengan seseorang lalu ada yang mempostingnya dan kemudian ada yang mem-bully kita akan cenderung untuk ikut-ikutan juga melakukan yang sama,” jelas Dudi Rustandi.

Jadi sebagai warga Indonesia yang hidup dengan perbedaan kita harus bisa memahami mengenai multikulturalisme harus menyadari kita hidup di Indonesia dengan banyak suku bangsa agama.

Semua itu sudah dijamin oleh undang-undang sehingga kita tidak boleh melihat perbedaan itu sebagai sebuah masalah.

Literasi digital di masyarakat multikultural ini adalah bagaimana bisa memahami lalu memproduksi dan mendistribusikan konten mengenai budaya melalui media digital.

Mampu berpartisipasi terlibat secara interaktif dan kritis dalam lingkungan media baru seperti aktif membangun dan mendiskusikan ide-ide mengenai isu-isu budaya dalam beragam platform media.

Platform digital juga mempunyai kemampuan untuk membuat konten budaya Indonesia di media digital bersama-sama dengan pihak lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Selasa (21/9/2021) siang, juga menghadirkan pembicara Michael Syukrie (videografer underwater), Diana Balienda (Digital Trainer), Didin Miftahudin (founder Gmath Pro), dan Gabriela Citra sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan