Nasib Bisnis Pertunjukan di Tengah Pandemi

Nasib Bisnis Pertunjukan

Bandung Side, Kota Bogor – Nasib bisnis pertunjukan seperti musik, konser, hingga produksi film yang cenderung tidak menentu dan berhenti membuat para kreatif di industri mencari cara untuk bertahan.

Yakni dengan melakukan adaptasi, memaksimalkan penggunaan digital skills untuk mengemas pertunjukan sesuai kondisi dan standart protokol kesehatan selama pandemi Covid-19 berlangsung.

“Tapi melihat kesempatan yang ada ternyata hybrid is the next culture, di mana akan ada perpaduan antara interaksi langsung dengan interaksi secara online,” kata Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bogor, Jawa Barat.

Menurut Dino, nasib bisnis pertunjukan saat ini harus bisa beradaptasi dengan perpaduan antara offline dan online mendapat perhatian luar biasa secara engagement dan coverage.

Namun tetap ada strategi yang harus dilakukan agar event online yang digelar bisa sukses.

Yakni posisi segmentasi yang kuat dan konten harus memiliki keunikan serta nilai bagi penontonnya.

Selanjutnya ketahui sisi mengapa harus membuat suatu event lewat beberapa riset, misalnya melihat kecenderungan artis yang lagi tren di sportify maupun Google tren.

Tak kalah penting, buat materi visual yang powerful dan komunikasi yang menarik.

Diakuinya, penggunaan teknologi menjadi salah satu problem solving yang memberikan value bagi pelaku industri pertunjukan di mana dengan teknologi dapat menyelenggarakan event hybrid yang memberi dampak sangat luar biasa hingga mendapat perhatian media luar.

Bahkan untuk skala kecil pun, setiap orang yang memang ingin fokus ke dunia konten sebagai content creator bisa tetap berkarya dengan membuat produksi yang ditayangkan di berbagai platform.

“Menjual tiket lewat Zoom dan GoPlay itu bisa dilakukan di masa PPKM ini,” tutur Dino.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Mardian R.L Vice Principal Kinderhouse Pre-School, Oriza Sativa seorang Psikolog Klinis, dan Reza Hidayat CEO Oreima Films.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan