Membedah Waktu Fiktif “Studio di Jam 34”, Keterbatasan Menjadi Manifestasi Estetik

Membedah Waktu Fiktif dalam "Studio di Jam 34", Ketika Keterbatasan Menjadi Manifestasi Estetik

Bandung Side, Braga – Dalam lanskap seni rupa kontemporer, waktu sering kali diperlakukan sebagai variabel yang ajak: 24 jam sehari, terukur, dan mengikat di pameran kolektif bertajuk “Studio di Jam 34” yang digagas oleh kolektif STUD di ARTOTEL Artspace de Braga by ARTOTEL justru membongkar konstruksi kronologis tersebut.

Pameran ini mengangkat metafora sebuah “waktu ekstra” sebuah durasi fiktif yang tidak pernah disediakan oleh kalender kerja modern, melainkan direbut secara sadar oleh para seniman di tengah himpitan rutinitas.

Berawal dari kenangan organik di sebuah kamar kos bersahaja di Cigadung, Bandung, STUD bertransformasi dari sekadar ruang komunal mahasiswa Seni Rupa dan Desain menjadi inkubator gagasan yang matang. Dalam pameran ini, gestur merebut waktu tersebut ditranslasikan menjadi sublimasi estetik oleh tujuh seniman lintas disiplin: Dimas Budiman, Dhiya Prana Widya, Fatur Rahman, Josephine Huang, Meutia Afifah (MEU), Salwa Kamilah, dan Saskia Gita Kinanti.

Membedah Waktu Fiktif dalam "Studio di Jam 34", Ketika Keterbatasan Menjadi Manifestasi Estetik
“Studio di Jam 34”, Ketika Keterbatasan Menjadi Manifestasi Estetik

Pluralitas Medium dan Diskursus Keseharian
Penataan karya di pameran ini tidak terjebak pada narasi tunggal. Sebaliknya, artikulasi visual yang dihadirkan bergerak lincah menembus batas-batas medium:

– Lukisan dan Objek, Menjadi ruang negosiasi memori serta identitas, di mana sapuan kuas dan bentuk formal bertindak sebagai catatan harian atas tubuh yang letih namun menolak tunduk pada rutinitas.
– Instalasi dan Karya Interaktif, Mengajak penonton keluar dari posisi pasif pengamat, melemparkan wacana tentang bagaimana teknologi dan kehidupan sehari-hari membentuk ketegangan eksistensial manusia modern.
– Animasi, Menghadirkan sekuens ritmis yang mengeksplorasi proses bertumbuh, menegaskan bahwa waktu yang serba terbatas justru memicu artikulasi bentuk yang padat dan presisi.

Keberhasilan kuratorial pameran ini terletak pada kemampuannya membingkai kerentanan menjadi daya cipta. Setiap karya berfungsi sebagai artefak dari “jam ke-34” satu jam setelah jam kerja usai, sisa malam yang dipaksakan terjaga, atau akhir pekan yang dipertaruhkan demi sebentuk garis dan warna.

studio di jam 34
“Studio di Jam 34”, Ketika Keterbatasan Menjadi Manifestasi Estetik 2

Inkubasi Seni di Ruang Komersial
Menarik untuk mencermati bagaimana fungsi ARTOTEL Artspace dalam ekosistem ini. Tri Wenda Agus Setyabudi, General Manager de Braga by ARTOTEL, menegaskan peran ruang ini sebagai jembatan inklusif antara kerja artistik dan publik luas.

Ketika galeri konvensional terkadang terasa mengintimidasi, hadirnya pameran di area publik seperti hotel justru mencairkan batas-batas tersebut, membiarkan karya-karya STUD berdialog langsung dengan dinamika urban Kota Bandung.

“Studio di Jam 34” bukan sekadar pameran hasil jadi, melainkan sebuah maklumat estetik: bahwa dalam himpitan kapitalisme waktu hari ini, seni terbaik kerap lahir bukan dari kelonggaran, melainkan dari keberanian untuk merebut kembali ruang dan waktu yang tersisa. Sebuah perayaan atas daya tahan kreatif yang patut diapresiasi.***

Tinggalkan Balasan