Merayakan Karakter Tamu, VOLUME HOTEL Pasteur Hadirkan Pengalaman Menginap Lewat “Music Storytelling”

Merayakan Karakter Tamu, VOLUME HOTEL Pasteur Hadirkan Pengalaman Menginap Lewat "Music Storytelling"

Bandung Side, Pasteur — VOLUME HOTEL Pasteur resmi memulai fase Soft Opening, memperkenalkan konsep boutique hotel yang menjadikan desain ruang sebagai media komunikasi personal dengan tamunya, Senin, 01 April 2026.

Berbeda dengan hotel konvensional, VOLUME HOTEL mengusung gaya Edgy Mid-Century, Estetika ini memadukan siluet furnitur klasik tahun 50-an yang ikonik dengan sentuhan kontemporer yang lebih berani.

Penggunaan material kayu yang hangat dikontraskan dengan aksen metalik dan permainan pencahayaan yang dramatis, menciptakan suasana yang tidak hanya nostalgik, tetapi juga relevan dengan gaya hidup kaum urban yang dinamis.

Karakter yang Sophisticated yet Raw yakni canggih tapi tetap ada kesan jujur/ mentah, sentuhan kontemporer memberi nilai Bold Silhouettes yakni bentuk-bentuk yang tegas dan menonjol pada ruangannya serta inovasi Eclectic Balance memberi keseimbangan antara berbagai gaya yang berbeda.

Lewat perpaduan estetika Edgy Mid-Century dan narasi Music Storytelling, hotel ini menghadirkan 135 kamar yang terbagi dalam 19 tipe berbeda—masing-masing dirancang untuk mencerminkan karakter, gaya hidup, dan suasana hati yang unik dari setiap individu yang menginap.

Korelasi antara Music Storytelling dan desain Edgy Mid-Century di VOLUME HOTEL bisa dijelaskan melalui benang merah “Karakter dan Ekspresi”. Keduanya bukan sekadar dekorasi, melainkan cara hotel tersebut berkomunikasi dengan tamu.

Bila dinarasikan, Musik sebagai “Jiwa”, Desain sebagai “Tubuh” dalam storytelling, musik digunakan untuk membangun mood atau suasana hati dan desain Edgy Mid-Century berfungsi sebagai wadah visualnya.

Sudut Lobby Volume Hotel Pasteur, Bandung
Sudut Lobby Volume Hotel Pasteur, Bandung (dok: Idan/ Volume Hotel Pasteur)

Jadi sama seperti genre musik (*misalnya Jazz atau Rock) yang memiliki struktur (ritme) namun tetap punya ruang untuk improvisasi yang berani, desain Edgy Mid-Century mengambil struktur rapi dari furnitur tahun 50-an lalu “diacak” dengan elemen edgy (seperti material metal, warna kontras, atau pencahayaan neon).

Walhasil Tamu tidak hanya melihat ruangan yang bagus, tapi merasakan “irama” dari desain tersebut.

Music Storytelling memungkinkan setiap tipe kamar memiliki cerita yang berbeda (Jazz, Bossa Nova, dan lainnya). Desain edgy memberikan fleksibilitas untuk mewujudkan perbedaan tersebut tanpa keluar dari identitas utama hotel.

Misalkan kamar tipe “Jazz” mungkin menggunakan pencahayaan yang lebih remang dan material kayu yang lebih gelap (edgy-sophisticated), sementara tipe “Lo-Fi” mungkin lebih menggunakan elemen industrial dan warna-warna muted.

Memberi pesan yang ingin disampaikan bahwa desain tersebut bercerita setiap tamu adalah individu yang unik, sama seperti selera musik mereka yang personal.

Industri perhotelan sering kali terjebak dalam desain yang seragam dan membosankan. Volume Hotel melawan Monotonitas atau the anti generic movement berani tampil beda, unik tapi berkarakter kuat, melalui penggunaan istilah musik (Base, Mezzo, Alto, Forte) menciptakan narasi bahwa menginap di sana adalah sebuah pertunjukan atau pengalaman yang dinamis, memberikan kejutan-kejutan visual yang tidak ditemukan di hotel standar.

“Korelasi kuat antara konsep Music Storytelling dan desain Edgy Mid-Centuri di VOLUME HOTEL Pasteur terletak pada kedalaman pengalaman sensorik. Jika arsitekturnya memberikan keindahan visual yang berani, maka narasi musik memberikan ‘nyawa’ dan identitas yang berbeda pada setiap kamar,” kata Ferry Ardiansyah, General Manager Volume Hotel Pasteur.

Cara Berbicara dengan Tamu Melalui Kamar
Desain Edgy Mid-Century yang dipadukan dengan nama-nama genre musik adalah cara “berbicara” kepada tamu, bahwa “Kami mengerti kepribadianmu yang spesifik”.

Kamar Sebagai “Cermin” Identitas di saat tamu memilih tipe “Jazz” atau “Lo-Fi”, secara psikologis mereka sedang memilih ruang yang paling mewakili vibe atau state of mind mereka saat itu. Dalam komunikasi, hotel mengakomodasi sisi personal tamu. Tamu merasa “dimengerti” karena ruangannya tidak bersifat massal atau generic. Seandainya hotel bersuara, “Kamu bukan sekadar nomor kamar, kamu adalah individu dengan selera spesifik.”

Desain Edgy sebagai Simbol Kedinamisan bagi audiens yang apresiatif terhadap seni, kreatif, dan berjiwa muda secara spirit, dengan menggunakan elemen desain yang berani (tidak kaku/ formal), hotel ini berkomunikasi dengan tamu yang memiliki karakter dinamis, terbuka pada hal baru, dan tidak suka kekakuan seraya menyampaikan pesan; “Ini adalah ruang untuk kamu yang ekspresif dan menghargai detail desain yang tidak biasa”.

Musik sebagai Metafora Gaya Hidup dari komunitas dan cermin karakteristiknya, seperti warna music di kamar;
– Tipe BASE (Lo-Fi/ Amapiano) cara berkomunikasi dengan tamu yang mencari ketenangan, fokus, dan nuansa santai namun modern.
– Tipe FORTE (Opera/ Suite) berkomunikasi dengan tamu yang menginginkan kemegahan, ruang yang luas, dan pengalaman yang lebih intens atau “bertenaga”.
Seakan hotel menyediakan “panggung” bagi setiap karakter tamu untuk menjalani peran atau suasana hati yang mereka inginkan.

“Lebih dari sekadar tempat beristirahat, VOLUME HOTEL Pasteur menjadikan setiap kamarnya sebagai media komunikasi yang merayakan karakter setiap tamu. Melalui kurasi desain Edgy Mid-Century yang dipersonalisasi lewat genre musik, hotel ini ingin memberikan ruang bagi tamu untuk menemukan ‘irama’ yang paling sesuai dengan identitas dan suasana hati mereka masing-masing,” papar Ferry Ardiansyah.

Toilet Disabilitas Volume Hotel Pasteur
Toilet Disabilitas Volume Hotel Pasteur, Bandung (dok: Idan/ Volume Hotel Bandung

Lokasi Strategis & Konektivitas Terpadu
Berlokasi di Jl. Dr. Djundjunan No. 153 Kota Bandung, tepat di sebelah d’Botanica Mall, VOLUME HOTEL menjadi langkah awal dalam pembentukan kawasan terpadu di area Pasteur. Hotel ini menawarkan aksesibilitas tinggi bagi pelancong modern, yakni
~ ±5 Menit ke Gerbang Tol Pasteur.
~ ±10 Menit ke Bandara Husein Sastranegara.
~ ±25 Menit ke Stasiun Kereta Cepat WHOOSH (Padalarang).
~ Point-to-Point, terintegrasi dengan layanan Cititrans untuk kemudahan akses antar kota (Jakarta-Bandung).

“Playlist” Ruang: Menemukan Irama Menginap yang Personal
Desain Edgy Mid Century yang diusung VOLUME HOTEL Pasteur bukan sekadar dekorasi, melainkan bahasa visual yang berani dan dinamis. Setiap unit dikategorikan menggunakan pendekatan baik jenis suara atau rentang vokal (Vocal Range) maupun genre musik untuk membangun storytelling yang berbeda di setiap kunjungan, bila dinarasikan;

– BASE (Lo-Fi, Amapiano, Minyo, Enka): Untuk karakter yang mencari ketenangan dan ritme santai.
– MEZZO (Folk, Bossa Nova, Jazz, Chillhop, dll): Menghadirkan suasana yang hangat dan penuh tekstur.
– ALTO (Tango, Waltz): Menonjolkan sisi klasik yang elegan namun tetap berani.
– FORTE (Opera Suite, Yokyoku Suite): Menawarkan kemegahan ruang yang lebih luas dan eksklusif.
– ENCORE & FINALE (2-3 Bedrooms): Dirancang untuk kebersamaan keluarga atau grup dengan komposisi ruang yang dinamis.

Fleksibilitas ini didukung dengan fasilitas modern seperti Smart TV 40-50” dengan akses Netflix siap pakai, WiFi berkecepatan tinggi, serta kolam renang air hangat (±28°C) yang melengkapi kenyamanan menginap.

Menggebrak dengan Konsep No Breakfast
Konsep VOLUME HOTEL yang tidak menyediakan sarapan buffet (prasmanan) sebenarnya adalah strategi yang sengaja diambil untuk menyesuaikan dengan dinamika zaman sekarang.

Menurut pandangan bandungside.com ada beberapa alasan mengapa konsep No Breakfast atau “tanpa sarapan” ini justru menjadi bagian dari efisiensi modern, yakni;

1. Menghindari “Food Waste” & Inefisiensi Biaya
Sarapan buffet adalah salah satu penyumbang limbah makanan (food waste) terbesar di hotel. Selain itu, biaya operasional untuk menyediakan puluhan menu sangatlah tinggi (tenaga koki, bahan baku, listrik).

Logika Efisiensi bila meniadakan sarapan, hotel bisa menekan harga kamar agar lebih kompetitif atau mengalihkan anggaran tersebut ke fasilitas yang lebih krusial bagi tamu modern, seperti WiFi super cepat atau Smart TV dengan Netflix gratis.

2. Tren “Local Experience” Wisata Kuliner
Bandung adalah Ibu Kota Kuliner, tamu yang datang ke Pasteur biasanya adalah traveler yang justru ingin mengeksplorasi makanan lokal (seperti batagor, lomie, atau kopi kekinian di sekitar hotel).

Menjadi pilihan strategi bahwa hotel memposisikan diri sebagai “rumah” untuk tidur, sementara Kota adalah “ruang makan”-nya. Apalagi lokasi VOLUME HOTEL menempel dengan d’Botanica Mall, di mana pilihan makanan sangat melimpah dan tersedia sejak pagi.

Kolam Renang Volume Hotel Pasteur, Bandung
Kolam Renang Volume Hotel Pasteur, Bandung (dok: Idan/ Volume Hotel Pasteur, Bandung

3. Karakter Tamu yang “On-the-Go”
Segmen pasar yang tercipta dari perilaku konsumen, seperti Digital Nomads atau pengguna Cititrans, seringkali melewati waktu sarapan hotel karena harus mengejar jadwal atau lebih memilih brunch sambil beraktivitas bekerja di kafe.

Mereka para tamu lebih butuh akses WhatsApp yang cepat untuk pesan kopi atau sekadar air mineral yang cukup, seperti kebijakan 1 liter per tamu di VOLUME daripada antre di ruang prasmanan dengan memilih menu dari puluhan menu masakan.

4. Evolusi dari Konsep Apartemen (`youre.at`)
Karena akar VOLUME HOTEL adalah Thematic Rental Apartment, mereka membawa budaya “Apartment Style Living” ke dalam hotel. Di apartemen, tamu terbiasa mandiri atau memesan makanan via aplikasi online.

Tamu yang sudah kenal brand `youre.at` biasanya tidak berekspektasi ada sarapan mewah, mereka lebih mengejar estetika desain dan privasi saat menginap.

VOLUME HOTEL memberikan kebebasan bagi para tamu untuk mengeksplorasi kekayaan kuliner Kota Bandung tanpa terikat jadwal sarapan hotel. Terintegrasi langsung dengan d’Botanica Mall dan kawasan Pasteur yang strategis, tamu memiliki akses tak terbatas ke berbagai pilihan F&B lokal maupun internasional hanya dalam beberapa langkah.

Dengan kata lain VOLUME HOTEL memberikan ruang bagi tamu untuk bereksplorasi kuliner secara mandiri di Kota Bandung yang sudah menjadi kota trend kuliner local yang kesohor.

Bagi para profesional, VOLUME HOTEL menawarkan konsep Smart Business Stay. Dengan lokasi strategis di pintu masuk Kota Bandung dan integrasi layanan transportasi point-to-point, hotel ini memastikan produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan kenyamanan dan estetika ruang kerja yang inspiratif.”

Untuk tipe tamu bisnis yang spesifik yaitu “The New Generation of Business Travelers” atau sering disebut Bleisure (Business + Leisure) sangat cocok dalam berpetualang kulinernya.

Bagi tamu bisnis konvensional yang kaku, mungkin tidak adanya sarapan akan terasa aneh. Tapi bagi pelaku bisnis era sekarang, VOLUME HOTEL justru punya daya tarik “efisiensi” yang kuat.

Ruang yang Berbicara
Fase Soft Opening ini menjadi tahap penyempurnaan bagi VOLUME HOTEL menuju peresmian Grand Opening mendatang. Dengan visi menjadikan setiap sudut ruangan sebagai representasi identitas tamu, VOLUME HOTEL ingin memastikan bahwa setiap kunjungan bukan sekadar pengalaman menginap biasa, melainkan sebuah dialog antara ruang dan penghuninya.

Di sini, setiap tamu yang sudah berada di kamar Volume Hotel diajak untuk menemukan “irama” mereka sendiri, menjadikan setiap momen menginap terasa lebih bermakna dan personal, sebuah perayaan atas karakter individu yang beragam di tengah ritme Kota Bandung yang dinamis.***

Tinggalkan Balasan