Satu Perjalanan Sejarah Bersama Mengikat Surabaya Bandung dalam Table Top

Satu Perjalanan Sejarah Bersama Mengikat Surabaya Bandung dalam Table Top

Bandung Side, jl. Jend. Sudirman – Satu perjalanan yang dilewati kedua kota yaitu Surabaya dan Bandung dalam sejarah dapat mengikat erat Kembali dalam kegiatan table top, di Golden Flower Hotel, jl. Jend. Sudirman, Bandung, Kamis, 11 Desember 2025.

Kegiatan table top yang diprakarsai oleh DPD PHRI Jawa Timur dengan menggandeng Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya menjadi kunjungan balasan Pemerintah Kota Surabaya untuk mempertemukan pelaku usaha pariwisata yang dilandasi oleh satu perjalanan bersama dalam sejarah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Harian Koordinator Wilayah Surabaya, DPD PHRI Jawa Timur, Firman Sudi Permana dalam kesempatan wawancara Bersama Bandung Side.

“Lawatan ke Kota Bandung dengan kegiatan table top ini diinisiasi oleh DPD PHRI Jawa Timur yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata untuk mengenalkan kembali Kota Surabaya kepada mayarakat Kota Bandung, yang tidak hanya dari sisi perhotelannya tapi dari sisi pariwisatanya juga, serta mengupdate banyak kemajuan dengan keterbukaan area Kota sehingga mudah diakses oleh wisatawan,” ungkap Firman Sudi Permana.

Seperti wilayah Surabaya Selatan ada Gedung olah raga, lapangan sepak bola, Gedung converance, sedangkan Surabaya Timur juga sudah banyak sarana yang bisa dieksplor, bahkan kawasan seperti Pantai Indah Kapuk (*PIK) pun sudah ada, tambah Firman.

Kota Surabaya juga sudah siap menjadi Kota MICE karena saat ini sudah jauh lebih bangus dari kesiapan sarana maupun prasarananya. Bahkan Surabaya dari sisi bisnis atau sector industrinya adalah pintu gerbang menuju Indonesia Timur.

Satu Perjalanan Sejarah
Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Farah Andita Ramdhani, S.Hum. membuka table top di Golden Flower Hotel Bandung, Kamis, 11 Desember 2025

Dari sector pariwisata, lanjut Firman, Kota Surabaya sudah siap melayani wisatawan dengan akomodasi seperti hotel sudah banyak, dengan wisata yang sudah terbuka pula seperti wisata religi, wisata sejarah, wisata belanja, wisata edukasi seperti museum yang salah satunya berkisah tentang kepahlawanan arek-arek Surabaya, maka dari itu Kota Surabaya disebut sebagai Surabaya City of Heroes.

Selain dapat mengekplore sejarah sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga sangat menarik dengan kebudayaannya, kuliner yang sangat variative bahkan masih ada jenis makanan sejak jaman Majapahit banyak dijumpai di Surabaya.

Kota Surabaya memiliki konektifitas dengan Kota Bandung, baik dari sudut pandang pemerintahan, maupun dalam satu perjalanan sejarah. Dapat ditarik mundur ke belakang bahwa Pulau Jawa ini mengalami masa Sriwijaya, Majapahit juga mengalami, saat tahun ’45 ada Bandung Lautan Api, ada Peristiwa Jenderal Mallaby dan Perobekan Bendera di Hotel Yamato, Sejarah arsitektur juga mengalami masa yang sama dengan gaya bangunan Ardeco banyak juga ada di Surabaya.

Bila kita perhatikan kulinernya, antara Surabaya dan Bandung ada kesamaannya yaitu banyak sekali kuliner peninggalan eropa yang patut dilestarikan.

“Bila terdapat interaksi antara Bandung dan Surabaya, ada benang merah yang dapat ditarik sehingga dapat dilakukan satu perjalanan sejarah bersama yang dapat mengikat sejarah kedua kota ini,” pungkas Firman Sudi Permana.

Kota Surabaya Fokus Sektor Pariwisata
Kota Surabaya terus menggeliat dari mulai sector industry menjadi pintu gerbang Indonesia Timur hingga Pariwisatanya yang memiliki 10 Top destinasi dari masing-masing wisatanya.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Farah Andita Ramdhani, S.Hum., bahwa Kota Surabaya sudah jauh berkembang dari sisi pariwisatanya, namun kita menyadari bahwa eksposure keluar masih kurang.

“Kehadiran Pemerintah Kota Surabaya ke Kota Bandung ini dalam rangka memfasilitasi pelaku usaha industry pariwisata untuk bisa membantu berjalannya program pemasarannya,” ujar Farah Andita Ramdhani.

Surabaya sudah jauh berkembang industry pariwisatanya, namun kita sadar untuk eksposure keluar masih kurang dan kecenderungan temen-teman industry pariwisata masih berjalan sendiri-sendiri, tambah Farah.

“Atas belum terintegrasinya dalam pemasaran pariwisata, padahal sector pariwisata tidak bisa bergantung pada satu titik cyrcle, jadi mulai dari akomodasi, transportasi, daya tarik wisata, travel agent, pusat oleh-oleh, ada rumah sakit, semua menjadi satu kesatuan, tapi sejauh ini kita juga menilai itu merupakan bagian dari kekurangan yang harus diimprof di Surabaya adalah pemasaran secara terintegrasi,” papar Farah.

Dari latar belakang tersebut Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pariwisata melakukan upaya pemasaran terintegrasi tersebut dengan kegiatan table top ini di Kota Bandung, jelas Farah.

Dengan menghadirkan 30 Seller yang merupakan kolaborasi Dinas Pariwisata bersama teman-teman asosiasi yang kurasi pelaku industry pariwisatanya diserahkan kepada mereka.

“Pada prinsipnya Pemerintah Kota Surabaya memfasilitasi siapapun yang memang bergerak di sector pariwisata dan memang berkontribusi mau memasarkan Pariwisata Kota Surabaya,” ujar Farah.

Satu Perjalanan Sejarah
Antusias peserta table top anytara 30 seller dari Kota Surabaya dengan Buyer dari Kota Bandung membuka satu perjalanan sejarah.

Kota Bandung Sasaran Pasar Terintegrasi
Dinas Pariwisata Kota Surabaya melakukan analisis pasar untuk mewujudkan table top di Kota Bandung, yakni focus pada Biro Perjalanan Wisata (*BPW). Dari history siapa pengguna jasa BPW saat pergi keluar kota dalam hal ini Kota Surabaya, kebanyakan yang menggunakan jasa BPW adalah korporat, perusahaan besar untuk melakukan gathering bersama karyawan saat akhir tahun, anak sekolah dengan edutourism yang masih banyak tergantung pada BPW.

Berbeda dengan person yang melakukan perjalanan wisata atau bisnis tidak menggantungkan pada BPW, jadi yang disasar bukan tourism yang seperti itu. Sasaran table top adalah jasa yang menggunakan BPW (*buyer) ada dimana marketnya, diantaranya karena Bandung memiliki kampus yang banyak dipastikan wajib melakukan study eksklusive setiap tahun dan Kota Surabaya memiliki lokus seperti itu.

“Bandung juga mempunyai perusahaan besar yang berpotensi menyelenggarakan gathering, mice, workshop juga besar sekali marketnya dan kami mempunyai lokus yang representative, sehingga untuk pemasaran yang terintegrasi bukan menyasar person-person tapi berasal dari BPW nya,” ungkap Farah Andita Ramdhani.

Surabaya Kota Perdagangan Internasional
Surabaya sebagai kota jasa perdagangan internasional sudah dipastikan lebih mumpuni dengan infrastruktur MICE terlebih dahulu, sehingga leisure Kota Surabaya dinaikkan oleh Walikota Surabaya, Eri Cahyadi untuk mengimbangi MICE supaya lebih unggul dan membuat Kota Surabaya lebih menarik dengan pemasaran terintegrasi.

“Pemerintah Kota Surabaya sangat terbuka dan mau membantu akan event-event yang membutuhkan dukungan berupa insentif-insentif, koordinasi-koordinasi, pada prinsipnya memudahkan apa yang mereka butuhkan secara dokumen misalnya perijinan dan sebagainya apabila skalanya besar sekali dan mempunyai impac yang bagus untuk Surabaya dengan senang hati Pemkot Surabaya akan berkontribusi pada event MICE tersebut,” pungkas Farah Andita Ramdhani.***

Tinggalkan Balasan