Kebangkitan Renaissance Dihidupkan Kembali Grey Art Gallery

Kebangkitan Renaissance Dihidupkan Kembali Grey Art Gallery

Bandung Side, Braga – Kebangkitan Renaissance dalam sejara seni rupa sebagai puncak kebangkitan budaya, seni, ilmu pengetahuan, filosofi, politik dan ekonomi mengubah wajah eropa dihidupkan kembali Grey Art Gallery jl. Braga No.47 Kota Bandung

Periode Renaissance ini juga disebut periode peralihan dari Abad Pertengahan ke zaman modern yang terjadi di Eropa antara abad ke-14 hingga abad ke-17 sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama.

“Renaissance dapat merujuk pada periode perkembangan budaya, intelektual, dan seni, yang sering dikaitkan dengan minat baru atau peniruan terhadap peradaban klasik Yunani dan Roma kuno,” ujar Grace Christianti, Pendiri Grey Art Gallery, Kamis, 19 Setember 2024.

Sedangkan dalam merujuk akan kebangkitan mengacu pada kebangkitan kembali atau kelahiran kembali akan sesuatu yang sering kali menonjol pada praktik budaya, agama, atau seni rupa yang telah menurun dalam memandang sebuah keindahan, tambah Grace Christianti.

Kebangkitan Renaissance
Kebangkitan Renaissance juga pada wilayah politik

“Dalam pameran yang bertemakan Reimmaginare Renaissance hasil kerja bareng antara Grey Art Gallery dengan Holy Zpace menghidupkan Kembali dan mengeksplorasi keindahan alam konteks kontemporer dalam tiga pameran,” ungkap Grace Christianti.

Pertama, pameran tunggal Toni Antonius berjudul Reimagining The Past: Contemporary Reflection on Grandeur yang dikuratori oleh Yogie A. Ginanjar. Kedua, menampilkan karya sepuluh seniman undangan dengan mengusung tema The Grandeur of Classicism yang dikuratori oleh Wildan F. Akbar. Ketiga, merupakan pameran secara eksklusif dari Program Open Call bertajukkan Decorus Contra Mundum yang dikuratori oleh Angga Aditya Atmadilaga menyajikan 29 karya dari 19 seniman.

“Reimmaginare Renaissance sebuah upaya menghidupkan Kembali, bahkan mendefinsikan ulang nilai-nilai estetika dan filosofis yang ada dalam periode renaissance dalam konteks seni kontemporer, tidak hanya sekedar mengulang atau mereplika karya seni masa lalu, namun secara fakta dapat melihat esensi dari keindahan dapat diwujudkan oleh dunia seni yang terus berubah,” pungkas Grace Christianti.

Sementara itu, Yogie Achmad Ginanjar curator karya solo dari Toni Antonius mengatakan bahwa kesan sublim yang teredukasi tidak memiliki narasi religi dan spiritual pada karya Toni Antonius.

Kebangkitan Renaissance
Periode Kebangkitan Renaissance ini juga disebut periode peralihan dari Abad Pertengahan ke zaman modern yang terjadi di Eropa antara abad ke-14 hingga abad ke-17

“Narasi pada karya Toni A. Antonius berkaitan erat dengan ledakan informasi dan media, konsumerisme dan selebrasi budaya popular, dalam konteks “Reimagining” dapat dimaknai,” ujar Yogie Achmad Ginanjar.

Toni dalam karyanya menggunakan Teknik kolase digital dalam membuat sketsa, yakni mengekplorasi asset digital berupa gambar dan menyatukan dalam satu bidang, lanjut Yogie.

“Jejak Teknik kolase ini masih tampak jelas, sehingga makna “Reimagining” dapat membedakan dengan narasi seni Lukis Renaissance di masa lalu,” pungkas Yogie Achmad Ginanjar.

Wildan F. Akbar kurator “The Grandeur of Classicism” mengatakan bahwa sepuluh seniman yang karyanya dipamerkan telah mampu menterjemahkan ulang gagasan klasikal secara eksplsit pada karya seni rupa kontemporernya.

Kebangkitan Renaissance
Kebangkitan Renaissance sebagai pengingat akan esensi kebenaran, harmoni dan keagungan spiritual yang tetap relevan di tengah dinamika zaman

“Baik seniman dan penikmat seni rupa dapat menciptakan pengalaman mendalam yang terpusat pada ide-ide yang menginspirasi para pemikir dan visioner renaissance saat itu,” ujar Wildan F. Akbar.

Ide dan spirit renaissance sangatlah penting dalam dunia kontemporer kita, salah satu periode optimis dalam sejarah manusia, sehingga menjadikan kita dapat memahami manusia kontemporer secara lebih efektif, pungkas Wildan F. Akbar.

Sedangkan Angga Aditya Atmadilaga, kurator Decorus Contra Mundum mengatakan bahwa keindahan mempunyai fungsi pelawanan terhadap kekacauan dan relativisme dunia modern, renaissance berupaya mempertahanan, merayakan nilai-nilai keindahan yang abadi.

“Periode Renaissance sebagai pengingat akan esensi kebenaran, harmoni dan keagungan spiritual yang tetap relevan di tengah dinamika zaman,” ujar Angga Aditya Atmadilaga.

“Keindahan lebih dari sekedar estetika visual, keindahan merupakan manifestasi dari kebaikan, kebijaksanaan dan simbol perlawanan terhadap perubahan zaman yan dapat mengingatkan kita pada nilai-nilai keindahan yang abadi dan relevan,” pungkas Angga Aditya Atmadilaga.***

Tinggalkan Balasan