Jajar Wanci Perjalanan Masa di deBraga by Artotel

Jajar Wanci

Bandung Side, Braga – Jajar Wanci membawa kita dalam perjalanan masa lalu dan masa depan dalam dunia pararel di de Braga by Artotel jl. Braga, Bandung, Kamis, 11 Januari 2024.

Konsep tentang dunia pararel yang merujuk pada sains multiverse menganggap semesta kita saat ini bukan satu-satunya semesta didalam jagat yang lebih luas lagi.

Keniscayaannya, kita akrab dengan konsep metaverse yang menggabungkan dunia yang kita anggap sebagai realitas kita saat ini, namun dengan realitas maya melalui teknologi digital saat ini yang semakin berkembang.

Dalam imajinasi tentang masa depan akan melahirkan gagasan perjalanan lintas waktu, membuka kemungkinan perjalanan lintas waktu tersebut tidak saja satu arah ke masa depan, namun juga kembali ke masa kini atau ke masa lampau.

Dari imajinasi tersebut, kita berpotensi bertemu dengan diri kita sendiri pada masa yang berbeda.

Sehingga gagasan-gagasan soal waktu tersebut menjadi latar belakang pameran Jajar Wanci : Realitas Pararel Dalam Masa.

jajar Wanci
Jajar Wanci kolaborasi Enam seniman Kota Bandung dalam memahami konsep visual Retro-Futuristik.

Judul dan Tema pameran yang meminjam istilah dari Bahasa Sunda yaitu kata Jajar dan Wanci yang berarti waktu atau masa yang berjajar sebagai padanan dari gagasan waktu pararel.

Jajar Wanci melahirkan gagasan unik konsep visual Retro-Futuristik yang sudah dikenal sejak tahun 1920-1930. Kemudian terus berkembang hingga pada 1950-1960 digunakan dalam industri film dalam karyanya.

Saat ini, konsep Retro-Futuristik oleh seniman Kota Bandung mengeksplorasi perpaduan kedua konsep tersebut guna menjawab pertanyaan tentang waktu dengan menampilkan karya-karya terbaru menghadirkan realitas pararel di masa sekarang.

Menampilkan 6 (enam) seniman Kota Bandung diantaranya Rangga Maulana Koto, Edwina Rismayanti, Widi Wardani, M. Nasrullah, Galih Hermawan dan Richard Williem dan Anton Susanto sebagai Kurator.

Jajar Wanci
Jajar Wanci karya Galih Hermawan dari bahan busa.

Ke-enam seniman merespon gagasan mengenai masa dengan cara dan pendekatan yang beragam dalam berkarya, baik dari sudut pandang, medium, teknik, material maupun modus dalam menyelesaikan kekaryaannya.

Anton Susanto sebagai Kurator mengatakan bahwa Retro-Futuristik memberi gaya visual yang disampaikan bukan hanya berasal dari teknologi (*masa depan).

“Seniman Kota Bandung sejak pandemi covid-19 mendapatkan tantangan pemahaman yang memiliki gaya visual estetik sendiri dalam gagasan Retro-Futuristik,” kata Anton Susanto.

Menurut Anton, gaya Retro-Futuristik mendapatkan referensi dari tahun-ketahun, khususnya sejak tahun 1970 berkembang kuat menjadi referensi tahun-tahun berikutnya.

“Saat ini, seniman dibebaskan untuk tidak dibatasi dalam memahami konsep Retro-Futuristik,” ungkap Anton Susanto.

Jajar Wanci
Karya abstrak Rangga Maulana Koto, yang cenderung melepaskan fungsi suatu obyek.

Pameran karya Enam Seniman tentang Jajar Wanci bisa dinikmati bagi khalayak kolektor dan pecinta seni di deBraga by Artotel jl Braga, Bandung ini mengambil tempat di area lobby, meetsspace foyer dan diarea kaca pada tangga lantai 2 ke 3 dimulai dari Tanggal 10 Januari hingga 29 Februari 2024.

Menurut Juwita Agatari, Marcom Manager deBraga by Artotel bahwa karya tentang Jajar Wanci memiliki perjalanan tersendiri dari seniman Kota Bandung dalam memaknai Retro-Futuristik.

“Kolaborasi unik ke-enam seniman Kota Bandung yang memiliki bakat hebat dan kami sangat antusias untuk berbagi pengalaman visual yang dapat menginspirasi semua orang,” ujar Juwita Agatari.

“Pameran yang dibuka untuk umum dapat menikmati dan sekaligus dapat dimiliki dengan cara menghubungi Front office deBraga by Artotel Hotel Bandung,” pungkas Juwita Agatari.***

Tinggalkan Balasan