Nampak Tampak 7 Seniman Bicara Tentang Lingkungan

Nampak Tampak

Bandung Side, Braga – Nampak Tampak kolaborasi 7 seniman senirupa mencoba berkomunikasi dengan masyarakat untuk dapat bicara tentang lingkungan digelar di area lobby dan meetspace foyer deBraga by Artotel, Jumat, 11 Agustus 2023 di jl. Braga No. 10 Kota Bandung.

Pameran bersama yang dikuratori oleh Teguh Agus Priyanto mengenal 7 seniman Kota Bandung yang mempunyi keunikan tersendiri dalam karakter karya saat mengeksplor objek lingkungan yakni Gemma Guardi, Lutfi Yanuar, Patra Aditia, Periangga Irianto, Prabu Perdana, Sumastania Widyandari dan Tennesse Caroline.

“Dunia seni adalah dunia yang tidak mudah dipahami oleh banyak orang. Kondisi ini semakin dipertajam dengan komunikasi antara seniman dan masyarakat yang sering tidak berada difrekuensi yang sama. Seniman dinilai terlalu asik dengan imajinasinya,” kata Teguh Agus Priyanto.

Begitupun yang terjadi dalam masyarakat umum, lanjut Teguh, mereka terkesan acuh tak acuh dengan dunia seni bahkan mengganggap sebagai dunia yang asing. Dibutuhkan langkah untuk menyederhanakan cara berkomunikasi dan menghubungkan spektrum berpikir antara keduanya.

Karya PERIANGGA IRIANTO, berjudul: Affective Disorder dengan media Acrylic on Canvas, berukuran 150 x 130 cm, tahun 2023, bercerita tentang Keseimbangan Alam.

Penyederhanaan komunikasi dapat dilakukan dengan mencari padanan awal munculnya gagasan terciptanya karya seni dengan aktivitas yang sering terjadi dan dipahami dalam masyarakat sehingga menghasilkan nilai-nilai yang tak tampak dibalik sebuah karya hingga menghasilkan bangunan asumsi dan hipotesa.

Seorang seniman bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda untuk menemukan realitas baru yang akan disematkan dalam karyanya. Walaupun ketika ditelisik lebih mendalam, beberapa realitas yang dihadirkan sebenarnya sudah ada namun sering tidak disadari bahkan dilupakan.

Melalui observasi, suatu objek yang tadinya tidak berharga dan berada di luar diri akan menjadi bagian internal sekaligus sebagai pengalaman. Sehingga tidak mengherankan bagi seorang akan lebih mudah ketika harus mengungkapkan tentang objek yang diamati baik melalui bahasa lisan, tulisan maupun visual, karena objek tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman empiriknya, hal tersebut juga sama dengan yang dilakukan seniman.

“Dalam proses penciptaan terjadi ekspresi spontan yang multi-interaksi antara kerja penginderaan, pemikiran, emosi dan intuisi. Proses penciptaan yang melahirkan pengalaman artistik didominasi oleh unsur perasaan, dan inilah yang membedakan antara seni dengan bidang yang lain, karena seni pada dasarnya adalah pengaturan emosi yang punya makna,” ungkap Teguh Agus Priyanto.

Nampak Tampak
Kolaborasi 7 seniman bersama kurator Teguh Agus Priyanto menggelar karya di deBraga Hotel dengan mengusung tema Nampak Tampak yang bicara tentang lingkungan.

Setelah mengetahui cara berpikir dan bersikap para seniman melalui pendekatan observasi yang juga dilakukan oleh para ilmuwan. Diharapkan dapat menjembatani antara apresiator dengan masyarakat menjadi paham atas keberagaman pandangan dan nilai-nilai yang ada di dunia seni, terutama seni rupa, tambah Teguh.

“Pada akhirnya pemahaman ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat untuk dapat memaknai kata merdeka dan bertanggung jawab atas pilihan kemerdekaan dalam berkarya oleh 7 seniman Nampak Tampak,” pungkas Teguh Agus Priyanto.

Sementara itu, pameran bersama 7 seniman Nampak Tampak ini yang dibuka langsung oleh Reza Rarhan, GM deBraga by Artotel mengatakan bahwa kolaborasi seniman Kota Bandung yang bicara tentang lingkungan ini dapat menghasilkan spektrum yang luas ke masyarakat.

“Nampak Tampak semoga menjadi dedikasi tinggi dari 7 seminan Kota Bandung dalam menyampaikan pesan dengan menyikapi lingkungan sesuai dengan karakter karyanya yang unik berdampak positif kepada masyarakat, khususnya pengunjung pameran yang sudah dibuka dari tanggal 10 Agustus hingga nanti 30 September 2023,” ujar Reza Farhan.

Reza Farhan berharap kolaborasi 7 seniman hebat dan berbakat dari Kota Bandung ini menjadi kebanggaan dan awalan yang ditunggu-tunggu dalam rangkaian acara ulang tahun deBraga by Artotel Bandung yang ke-5, menutup perbincangan.

“Adam and Eve in front of the Kalpataru Tree”, karya Lutfi Yanuar mendapatkan perhatian pengunjung.

Lebih Dekat dengan 7 Seniman Nampak Tampak

GEMMA GUARDI, judul karya lukis: Annoy
Karya Gemma Guardi dibuat dengan pendekatan ilustratif yang cenderung lebih cepat untuk dipahami. Hal ini menjadi pertimbangan yang masuk akal apabila dihubungkan dengan pesan yang ingin disampaikan dalam karya.

Gemma ingin cepat membawa apresiator merasakan kondisi yang dia alami. Kondisi lingkungan sekitar yang jengah dan berbahaya karena lalu-lalang kendaraan bermotor terutama roda dua yang menyebabkan polusi suara dan udara.

Kondisi ini terwakili oleh penggabungan image tengkorak, mesin, knalpot dan asap yang mengepul ke udara. Kecepatan merasa dan kecepatan menyadari kondisi menjadi prioritas utama dalam karya ini, dengan harapan cepat pula terjadi penyikapan agar tercipta kondisi yang lebih baik.

LUTFI YANUAR, judul karya lukis: Adam and Eve in front of the Kalpataru Tree,
Metode eklektik menjadi pilihan Lutfi dalam merespon fenomena kekinian. Lutfi memenuhi lukisannya dengan tumpukan simbol-simbol yang diambil dari tiga idiom dan diintegrasikan menjadi satu untuk membangun makna baru.

Idiom relief candi, seni lukis dan budaya populer dilebur dalam image pohon kalpataru sebagai simbol pengharapan, dua sosok manusia laki-laki dan perempuan yang diidentikkan dengan Adam dan Hawa, dan dibalut dengan ornamen dan warnawarna mencolok.

Melalui kehadiran ikon-ikon yang identik dengan nilai-nilai etik dan estetik Lutfi ingin mengajak apresiator memahami posisi manusia dalam siklus kehidupan dan berperan menjaga keseimbangan alam semesta.

TENNESSEE CAROLINE, memunculkan tokoh ITEN yang memiliki pipi tembem pada karya lukis memparodikan kisah Disney dengan paradok.

PATRA ADITIA, judul karya lukis: 2500 Tons of Awesome
Karya Patra terkesan ilustratif namun tidak langsung dapat dimengerti maknanya. Untuk memahaminya harus menelisik lebih dalam dan mengurai unsur-unsur yang ada.

Contohnya karakter kartun (komik) yang hadir dalam karya; karakter tersebut dibuat dengan cara menggabungkan unsur-unsur yang ada dalam kebudayaan Sunda, budaya populer Jepang, Amerika, dan lain sebagainya.

Penggabungan ini adalah bentuk interpretasi akan fenomena cross- reference dan lahirnya ideologi baru dari percampuran banyak ideologi yang sudah lazim dan organik terjadi saat ini.

Fenomena kehidupan yang dipengaruhi oleh percepatan dan tumpang tindihnya informasi.

Tidak Hanya itu, Patra juga berani merubah kebiasaan gambar komik yang biasanya dibuat di atas kertas digeser ke media kanvas untuk memayungi kelahiran ideologi-ideologi baru.

Kenangan masa kecil yang Nampak pada Patra Aditia yakni sebuah robot yang bernama Votus V atau Voltus Lima, yang memberi kisah 5 tokoh superhero melawan monster-monster raksasa.

PERIANGGA IRIANTO,
1. Judul karya lukis: Affective Disorder
2. Judul karya lukis: Tenggelam Dalam Warna I, II, III (3 series)
Pareidolia menjadi kata kunci untuk memahami karya Periangga Irianto. Pareidolia adalah fenomena psikologis yang menyebabkan seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang samar serta acak menjadi sesuatu yang signifikan, contohnya ketika melihat awan seperti bentuk kelinci.

Dalam proses berkarya Periangga tidak menggunakan sketsa, dia mengandalkan daya imajinasinya akan objek (random creating imaginary). Garis, bidang, warna, sapuan dan cipratan cat dibiarkan mengalir seolah-olah membentuk objek tertentu.

Dari bentuk inilah baru dicari potensi artistik yang akan ditampilkan. Pada tahap ini memori mempunyai peranan yang kuat dan akan mempengaruhi terciptanya bentukbentuk baru yang ada di lukisan.

Memori masa kecil yang penuh dengan suasana bermain sangat kuat mempengaruhi karya Periangga, sehingga tidak mengherankan bentuk robot, mesin, dan bentuk-bentuk imajiner dominan dalam visual karyanya.

Sehingga, apa yang Nampak pertama kali pada sebuah obyek, akan di respon pertama kali oleh Periangga Irianto menjadi jejak yang baik untuk diobservasi yang pada akhirnya menjadi karya yang fantastik bermain dengan warna.

PRABU PERDANA, Judul karya lukis: Menjelang Akhir
Dengan menampilkan landscape imajiner yang menghadirkan objek-objek hasil rekayasa yang sudah tidak lagi sesuai aslinya Prabu mengajak apresiator untuk menyelam ke dalam waktu yang tidak spesifik.

Tiang listrik, besi-besi billboard, gedung-gedung dihadirkan dengan kondisi rusak dan usang sehingga Nampak seperti didominasi oleh gambaran alam.

Kehadiran dominasi alam terhadap benda-benda buatan manusia terkesan kuat ingin mengingatkan kita akan kekuatan dan kekuasaan alam dalam membangun keseimbangannya.

Buatan manusia akan hancur seperti gedung, tiang listrik, billboard dan lain-lain sehingga tidak Tampak manusianya, namun alam Nampak yang lebih mendominasi karena dapat menyeimbangkan kondisinya dengan caranya sendiri dari pada manusia.

Nampak Tampak
Sumastania Windyandari mengusung karya senirupa Staccato Cat memberikan pesan agar menyayangi kucing.

SUMASTANIA WIDYANDARI,
1. Judul karya lukis: Hadir
2. Judul karya senirupa: Staccato Cat
Bagi Dea, sapaan akrab Sumastania Windyandari bahwa objek-objek yang hadir di depan matanya adalah sumber inspirasi yang segera akan dieksplor menjadi sebuah karya senirupa. Gedung, tumbuhan, binatang dan yang lainnya bisa dijadikan objek untuk karya-karyanya.

Contohnya adalah karya-karya yang dipajang dalam pameran ini. Deretan gedung perkotaan dan kucing-kucing yang warna-warni dalam karya Dea mengingatkan pada gambar anak-anak yang terkesan ringan namun sangat imajinatif.

Melalui karya-karya tersebut, Dea seperti ingin membawa apresiator untuk melihat kondisi saat ini dengan meminjam cara pandang anakanak yang sudah banyak ditinggalkan oleh orang dewasa. Masa ketika hidup tanpa beban yang dipenuhi dengan aktivitas bermain dan keceriaan.

TENNESSEE CAROLINE,
1. Judul karya lukis: It’s Enough
2. Judul karya lukis: Twisted
3. Judul karya lukis: Who’s The Bad Girl Now
4. Judul karya lukis: Just Ordinary Me
5. Judul karya lukis: Victim, Seriously ?
Tennessee Caroline memunculkan tokoh Iten dalam setiap karyanya. Tokoh Iten hadir mempunyai karakter sebagai sosok anak kecil berpipi tembem yang bertingkah ekspresif dengan sikap sinisnya seperti dalam karya “It’s Enough.

Semangat pemberontakan pada karakter Iten yang sama pun hadir kembali dalam pameran lukisan ini, namun dengan tampilan dua cara bercerita yang berbeda.

Kecenderungan pertama adalah tampilan karya-karya yang ingin melawan normanorma dengan memparodikan cerita rakyat yang sangat populer di masyarakat. Seperti karya “Twisted” yang terispirasi dari dongeng Putri Rapunzel, “Whos’s The Bad Girl” yang menceritakan seekor serigala yang mencuri bayi seorang ibu, namun diparodikan dengan seorang ibu yang mencuri uang dari serigala.

Karya lukis berjudul “Just Ordinary Me” terinspirasi dari kisah The Little Mermaid yang mengklaim sebagai sosok yang biasa saja untuk dikisahkan, namun dalam lukisan nampak puteri duyung mengangkat piala di podium juara 1 (satu), seperti memparadokkan diri.

Kisah disney yang diparodikan dengan paradok juga tampak pada karya “Victim, Seriuosly?” yakni kisa cinderella yang kehilangan sepatu kacanya.

Iten berperan menjadi tokoh yng melekat pada karya Tennessee Caroline, yang selalu menghadirkan sisi kemisteriusan dengan kembali pada kebiasaan lamanya yaitu tampilan background kosong agar fokus pada karakter dan atribut yang dipakainya agar obyek yang Nampak lebih menjadi Tampak.

“Walaupun menggunakan cara bercerita yang berbeda, namun Iten tetap membalut dua kecenderungan tersebut dengan suasana yang menggemaskan,” pungkas Tennessee Caroline.***

Tinggalkan Balasan