Bandung Side, Pangalengan – Daya tarik wisata edukasi tidak hanya mengandalkan kekayaan alam atau kondisi alam yang ada di desa, namun bisa memberikan pengalaman yang luar biasa bagi pengunjungnya.
Wisata edukasi juga tidak bertujuan untuk menghibur saja, namun juga menjadi sarana pendidikan, sehingga makin banyak yang dapat dipelajari mulai dari seni, budaya, sumber daya alam baik dapat dirasakan dengan menyentuh atau interaksi.
Bagi pelajar atau mahasiswa, pelajaran secara langsung didapat di lapangan akan lebih menambah semangat dalam belajar saat mengunjungi wisata edukasi menjadi pengalaman baru tidak melulu terkait duduk di kelas sambil memandangi papan tulis serta mendengarkan guru atau dosen saja.
Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung menjadi salah satu destinasi wisata edukasi menjadi topik dalam gelaran Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti oleh mahasiswa UPI jurusan Pendidikan Pariwisata (Dikpar) pada kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).
FGD melalui daring dimoderatori oleh Ilma Indriasri Pratiwi, SE., MPPar., dengan narasumber Oce Ridwanuddin, SE., MM., Ketua Program Studi Pendidikan Pariwisata; Shandra Rama Panji Wulung, SPar., MPPar, Ketua Program Pengabdian Kepada Masyarakat dan Yosef Kurnia, Kepala Desa Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Kegiatan FGD merupakan feedback dan evaluasi usai investigasi lapangan di Desa Lamajang oleh Tim PKM Dikpar pada waktu sebelumnya secara intensif.
Menurut Shandra Rama Panji Wulung., MPPar, Ketua Program Pengabdian Kepada Masyarakat bahwa tujuan diadakannya Focus Group Discussion ini untuk mengevaluasi identifikasi potensi wisata edukasi berbasis seni dan budaya di Desa Lamajang bersama pemangku kepentingan.
” Kunjungan lapangan di Desa Lamajang oleh Tim FKM sebagai upaya mengidentifikasi potensi wisata edukasi berbasis seni dan budaya dengan berbagai pendekatan dan konsep agar keberadaan kegiatan pariwisata mampu menggerakkan berbagai aktivitas yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Shandra Rama Panji Wulung yang akrab disapa singkat Wulung.
Baik dalam pendekatan terjun ke lokasi Desa Lamajang maupun dengan daring selalu melibatkan pihak yang berkepentingan sehingga memudahkan stake holder dalam interpretasi kondisi nyata yang sebenarnya Desa Lamajang memiliki keunikan dan ciri khas yang tentunya akan menjadi daya tarik wisatawan, lanjut Wulung.
Interaksi bersama Kepala Desa maupun Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis Suryaloka sangat membantu untuk melakukan pendekatan konsep 3 A yang biasa disebut konsep Atraksi, Amenitas dan Aksesbilitas serta pendekatan Tata Kehidupan Kebudayaan Desa Lamajang.
Menurut Wulung, pendekatan Tata Kehidupan Kebudayaan Desa Lamajang diperlukan untuk memperoleh gambaran secara umum tentang kepariwisataan yang dapat dikemas menjadi ikon Desa Lamajang.
Pada kenyataannya Desa Lamajang sangatlah kental dengan Budaya Sunda yang sampai saat ini lestari diperankan oleh warga Desa Lamajang, namun masih dibutuhkan literasi dan penggalian history.
Tata Kehidupan Budaya Desa Lamajang
Tata Kehidupan merupan dasar dari kebiasaan warga saat melakukan aktifitas kehidupan dapat teridentifikasi sebagai berikut;
Masa Kehidupan saat terjadi KELAHIRAN pada usia 0 – 40 hari
Masyarakat Desa Lamajang mempunyai kebiasaan berbudaya yang dapat di interpretasikan sebagai berikut;
• Masa kelahiran bayi terhitung sampai berumur 40 hari, kerap melakukan kegiatan Beluk yakni sebuah kesenian yang lebih cenderung dengan nyanyia atau tarik suara.
• Selain itu ada yang melakukan aktifitas Ngilo yaitu baca wawacan, Nimbang yaitu baca wawacan cerita leluhur, nempas yakni bukan nyanyian tapi lebih ke ngahaleuang.
• Masyarakat Desa Lamajang juga menggelar rasulan/ syafaran atau syukuran kelahiran. Adapula syukuran dilaksanakan jikalau ada warga telah sembuh dari sakit.
• Disaat bayi hingga umur 9 tahun terdapat pamali atau pantangan yang ada di Desa Lamajang diperkenalkan yang tujuannya seorang anak dapat mengetahui bagaimana cara tata krama. Seperti: anak laki-laki yang belum baligh dilarang untuk ikut merayakan tradisi dan untuk anak perempuan harus dalam keadaan bersih.
Dari aktifitas budaya yang dijalankan oleh masyarakat Desa Lamajang dapat diidentifikasi bahwa Seni dan Budaya sebagai berikut, adanya Beluk, Wawacan Raden Barjah, Ngilo, Nimbang, Nempas, Pamali, Pepeling, Rasulan.
Masa Kehidupan saat ANAK-ANAK yakni pada usia 9 tahun
Interpretasi pada masa itu yaitu masuk dalam dunia permainan anak-anak diantaranya Engrang, Perang perangan pake bebelotakan, Bedil jepret dan Gatrik
Masa Kehidupan saat REMAJA pada Usia 15 tahun
Interpretasi pada masa menginjak remaja usia 15 tahun anak belajar seni musik Karinding dan Calung. Musik Karinding adalah alat musik tradisional khas Sunda, terbuat dari pelepah daun enau atau bilahan bambu kecil, yang bilah bambu disentil, dijentikkan, atau dipukul-pukulkan secara berulang menggunakan jari, sehingga memanfaatkan resonator rongga mulut untuk menghasilkan bunyi dengung.
Saat dimainkan ujung menimbulkan gema yang berpadu dengan suara dengungan. Begitu juga dengan alat musik Calung yang berasal dari bambu yang penggunaannya dengan cara di pukul sehingga menghasilkan suara atau irama seperti tangga nada.
Fase REMAJA juga saatnya anak diperkenalkan kepada lingkungan masyarakat oleh sang orang tua hingga lanjut ke fase dewasa.
Masa Kehidupan DEWASA menginjak Usia 18 tahun
Pada umumnya, anak yang sudah menginjak usia REMAJA sudah saatnya mengenal dunia pertanian yakni tentunya wajib belajar bertani dan sampai akhirnya bisa menggarap sawah.
Setelah sudah bisa menggarap sawah untuk pertama kalinya sampai panen lalu nabuhin (memainkan) tarawangsa untuk panen padi biasanya di sebut Mapak pare untuk dimasukkannya padi dalam bentuk satu ikat (Ranggeuyan) buat dimasukan ke Leuit.
Setelah panen raya dan semua pekerjaan di sawah sudah beres lalu satu kampung syukuran Sedekah bumi. yang diisi dengan perayaan dan hiburan seperti adanya gondang, gamelan sambil diiukuti tarian.
Interpretasi yang didapat bahwa Seni dan Budaya tampak pada aktifitas masa DEWASA teridentifikasi budaya Bertani, Tarawangsa, Mapak Pare, Leuit, Sedekah Bumi, Gondang, dan Gamelan.
Pengembangan Daya Tarik Wisata Edukasi Berbasis Seni dan Budaya
Potensi dan keunikan Desa Lamajang sangat dominan pada seni dan budaya sebagai nafas kearifan lokal yang begitu beragam, bahkan menjadi bagian dari falsafah kehidupan masyarakat yang memiliki potensi luar biasa dalam upaya menarik wisatawan.
Salah satunya adalah dengan mengemas dalam bentuk sebuah kegiatan, yaitu kegiatan atraksi wisata yang dapat menghibur serta memberikan nilai edukasi dapat menjadi daya tarik.
Budaya yang dibalut dengan kegiatan atraksi pertunjukan bisa menarik wisatawan karena memberi nilai tambah, ada nilai terbarukan, sebab tidak hanya menjalankan budaya namun juga menjalankan kegiatan wisata namun tidak menghilangkan nilai budaya tersebut.
“Sebagai catatan, perlu adanya pemisahan antara budaya sebagai tradisi luhur dan budaya yang diperbolehkan untuk diakses oleh masyarakat umum atau wisatawan. Misalnya, jika memang kegiatan budaya berhubungan dengan hari besar atau sesuatu yang sakral di masyarakat, maka bisa mengambil pilihan untuk menutup kunjungan wisata,” kata Wulung.
Jangan sampai nantinya berkesan budaya akan tereksploitasi hingga hilang nilainya, bahkan hingga hilang pelestariannya. Hal tersebut sehubungan dengan kemajuan teknologi yang memiliki sisi negatif dan sisi positif, tambah Wulung.
Sisi negatif dari teknologi, para pemuda tidak mengenal adanya seni dan budaya Desa Lamajang bila pengembangan pariwisata tidak terarah. Namun di sisi positifnya, teknologi bisa membantu menyebarluaskan informasi terkait interpretasi seni dan budaya Desa Lamajang sehingga wisatawan dapat mengambil nilai edukasinya.
Salah seorang peserta FGD, Muhamad Aqsal Nur Fadilah, Program Studi Pendidikan Pariwisata UPI, semester 7 mengatakan kepedulian dan kesepahaman warga Desa Lamajang bahwa memiliki potensi wisata yang luar biasa pada sektor budayanya harus terus ditambah literasinya.
Dalam kehidupan sadar wisata dapat ditanamkan sedini mungkin dari warga Desa Lamajang agar tidak hanya sekedar menjadi komunitas yang sudah ada, yaitu Pokdarwis Suryaloka, namun keseluruhan penduduk desa.
Dukungan sadar wisata dari penduduk Desa Lamajang akan memudahkan seni dan budaya Desa Lamajang dapat dijadikan wisata edukasi yang memiliki daya tarik wisatawan dan akan tetap lestari.
Selain mengemas kembali budaya untuk menjadi sarana pertunjukan, Desa Lamajang telah memiliki Rumah Adat Cikondang, Situs Batu Eon, dan situs lainnya menjadi faktor pendukung untuk dibuatkannya paket wisata berbasiskan wisata alam atau ekowisata.
Kemasan promosi juga akan menunjang lebih dikenalnya wisata edukasi Desa Lamajang dapat melalui teknologi, yakni bisa dibuatkan cerita, mitos atau legenda melalui media bergambar, komik digital.
Selain itu, penggalian literasi akan history, mitos, legenda atau cerita rakyat juga dapat dibuatkan cerita dalam seni pertunjukan dengan tujuan melestarikan budaya tersebut.
“Oleh sebab itu diperlukan konsep pariwisata berkelanjutan atau Sustainable Tourism untuk menekan dampak negatif dari pariwisata. Sehingga pariwisata berbasis budaya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan yakni untuk melestarikan kebudayaan, khususnya budaya di Desa Lamajang,” pungkas Aqsal.***