Bandung Side, Cimahi – Abah Landoeng diusia ke-97 merayakan hari jadinya bersama istri tercintanya, Sani Suningsih dikediaman Gg. Jampeng 5, Kampung Baru Rt.2 Rw.5, Cibabat Cimahi, Minggu (3/7/2022).
Perayaan sederhana milad ke-97, Abah Landoeng menggelar pengajian bersama dengan warga Kampung Baru yang dilanjutkan dengan Tauziah oleh KH. Saimul Apip bertemakan Makna Do’a Sapu Jagad.
Dalam tauziahnya, KH Saimul Apip berpesan bahwa do’a sapu jagad memaknai keseimbangan antara dunia dan akhirat untuk menuju ridho Allah SWT.
Di dunia, muslimin dan muslimat harus memiliki ilmu, harta, kesehatan, amal sholeh dan keluarga guna bekal dalam menjalankan ibadah agar kehidupan di akhirat menjadi seimbang.
Dalam kesempatan beramah-tamah bersama tamu undangan, Abah Landoeng menyampaikan pesan kepada generasi muda agar meningkatkan pengetahuan saat masih di akademisi.

Selain itu, Abah Landoeng juga mengingatkan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama serta menghormati orang tua dengan adab yang berlaku sebagai kearifan lokal.
Tidak lupa Abah Landoeng memperingatkan akan lingkungan yang membutuhkan perhatian agar kelestarian lingkungan dapat dinikmati oleh anak cucu.
“Sebagai warga negara yang baik, hendaknya mentaati peraturan negara yang berlaku, jauhi hoak yang dapat menimbulkan fitnah sehingga kita dapat kuat mempertahankan konstitusi siapa pun presidennya,” kata Abah Landoeng.
Sekarang ramai berita Presiden Jokowi berupaya untuk mendamaikan antara Ukraina dan Rusia, meskipun banyak hoax berseliweran di ranah digital yang isi nya dipastikan fitnah, tambah Abah.
“Upaya mendamaikan dua negara yang sedang konflik, Presiden Jokowi membawa marwah dan semangat Dasa Sila Bandung, saat digelarnya Konferensi Asia Afrika di tahun 1955,” ujar Abah Landoeng.
Tujuan utama Konferensi Asia Afrika (KAA) adalah menciptakan perdamaian dan ketentraman hidup bangsa–bangsa yang ada di kawasan Asia Afrika menjadi marwah dan semangat Presiden Jokowi saat berangkat ke Ukraina dan Rusia, tambah Abah Landoeng.
Ada tiga prinsip saat digelarnya KAA yakni Kesetaraan, Kerja sama, Hidup berdampingan secara damai guna melawan kolonialisme dan neokolonialisme.
Abah juga masih mengingat pernak-pernik peristiwa saat konferensi tahun 1955 tersebut berjalan yang dapat diambil hikmahnya.
Saat persiapan KAA, Sekretariat Bersama memerlukan bendera-bendera negara peserta untuk dikibarkan diberbagai tempat, dari lapangan udara, jalan raya sampai gedung-gedung yang ada di sekitar Gedung Merdeka.

“Hanya Negara Sudan yang belum, karena Sudan belum merdeka penuh, sehingga belum mempunyai bendera nasional,” ungkap Abah.
Roeslan Abdulgani, sebagai Sekretaris Jenderal KAA memutuskan mengibarkan sebuah bendera putih dengan tulisan Sudan warna merah ditengah-tengahnya, setelah mengirim telegram ke pemerintah Sudan.
Namun Ali Sastroamidjojo, Ketua KAA sekaligus Perdana Menteri Indonesia kaget waktu mengetahui keputusan Sekretariat Bersama tersebut.
Ali Sastroamidjojo menegur Roeslan Abdulgani dan mengingatkan dengan keras bahwa pemerintah Sudan tentu akan tersinggung.
“Menentukan bentuk bendera nasional yang merupakan atribut pokok dari bangsa itu sendiri. Bukan dari keputusan Sekretariat Bersama. Emosi bangsa terhimpun, tersimpan dan tersirat di dalamnya. Seperti halnya dengan Lagu Kebangsaannya,” kata Abah landoeng menirukan lisan Ali Sostroamidjojo saat itu.
Nada tinggi Ali Sostroamidjojo sebagai teguran tersebut membuat ngeri Roeslan Abdulgani, namun Roeslan dapat bernafas lega karena Sekretariat Bersama menerima balasan dari pemerintah Sudan yang menyetujui bendera buatan panitia tersebut dengan syarat seperlunya saja selama KAA.
“Jadi peristiwa itu menjadi kenangan juga, karena desain bendera dan dijahitan bendera Sudan dibuat di Bandung,” kisah Abah sampil tersenyum.
Dan insya Allah, perang Rusia dan Ukraina akan berhenti di akhir tahun 2022. Saat ini sedang mempersiapkan komitmen-komitmen tertentu untuk segera damai, lanjut Abah.
Di usia ke-97 ini, dalam pesan maupun menganalisa suatu peristiwa ternyata Abah mengikuti perkembangan. Bisa dikatakan bahwa Abah Landoeng peka terhadap jaman.***