Memahami Budaya Digital pada Remaja Indonesia

memahami budaya digital

Bandung Side, Kabupaten Bandung – Memahami budaya digital itu kebiasaan atau adat istiadat dilakukan keseharian oleh sebuah masyarakat. Budaya adalah hasil dari pola pikir, makanya setiap tahunnya, setiap abad budaya itu selalu berkembang sesuai dengan kebiasaan yang ada saat ini.

Saat ini yang sedang berkembang adalah digital atau dunia Internet maka, budayanya sekarang adalah budaya digital. Sebuah hasil pola pikir kreasi dan cipta karya manusia yang berbasis teknologi internet ditentukan oleh penguasaan penggunanya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan internet. Ketika kita cakap menggunakan internet maka budaya yang dihasilkan juga budaya digital yang akan semakin berkembang karena akan banyak perubahan.

Melihat survei dari Hootsuite kita dapat melihat perbandingan penggunaan media sosial tahun 2020 dan di tahun 2021. Tahun 2020 pengguna media sosial itu di Indonesia terutama itu sebanyak 160 juta jiwa sedangkan di tahun 2021 bertambah menjadi 170 juta. Itu artinya dalam satu tahun pertambahan penggunaan media sebanyak sosial sebanyak 10 juta jiwa.

Melihat data itu, Verra Rousmawati, Instruktur Edukasi4ID dan Pengajar SMK Taruna Bhakti Depok mengatakan, jika dalam satu tahun saja pertambahan mencapai 10 juta jiwa. Ada kemungkinan pengguna media sosial dalam satu gadgetnya ada 3-4 akun media sosial yang berbeda. Kita menggunakan media sosial yang bermacam-macam dan tidak hanya memiliki satu akun.

Budaya itu kebiasaan, kebiasaan itu artinya bagaiman cara kita membuat rutinitas seharian. Kini, kebiasaan para remaja yang dapat kita tangkap bagaimana hidupnya yang tidak dapat lepas dari gawai. Dari mulai bangun tidur yang dipegang ponsel pintarnya.

“Kebiasaan dalam bermedia sosial atau budaya digital itulah dari evolusi dalam kegiatan digitalisasi dimana pola pikirnya berarti kehidupan manusia dalam kesehariannya sudah hampir seluruhnya ketergantungan pada manfaat dari teknologim artinya kita bisa merasakan kemudahan dari aktivitas-aktivitas penggunaan teknologi karena kita sudah sangat dimanja saat ini dengan penggunaan teknologi,” ungkapnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (23/11/2021) pagi.

Dalam kemajuan teknologi ada tiga aspek penting dalam membangun budaya. Pertama, saat kita berbudaya itu artinya kita berinteraksi dengan orang lain berinteraksi dengan pengguna media sosial yang lain. Karena kita berinteraksi dengan orang lain berarti harus ada partisipasi atau bagaimana masyarakat berpartisipasi memberikan kontribusi untuk tujuan yang sama.

Kedua, remediation itu bagaimana mengubah budaya lama menjadi budaya baru yang lebih bermanfaat. Budaya yang tadinya harus bertatap muka, sekarang sudah dapat kita lakukan tanpa bertatap muka secara langsung seperti yang contohnya kita lakukan sekarang ini. Kita bisa melakukan komunikasi walaupun berbeda tempat.

Ketiga, bricolage yaitu bagaimana pemanfaatan hal-hal yang sudah ada sebelumnya untuk membentuk hal yang baru. Sama seperti yang kita lakukan sekarang yakni video conference sebelumnya video call tapi jumlah partisipasinya sedikit.

Sekarang kita sudah bisa lakukan jauh lebih banyak orang untuk berkomunikasi jarak jauh. Itulah tiga aspek penting yang membangun budaya digital di mana budaya-budaya yang sudah ada sebelumnya itu beralih karena perkembangan teknologi.

Penerapan budaya digitalnya itu hasil pola pikir dari masyarakat untuk beradaptasi dalam perkembangan teknologi. Artinya hasil kemampuan dari masyarakat harus meningkat dalam menerapkan teknologi penggunaan teknologi yang sekarang ini. Namun, Verra mengingatkan, jangan lupa harus mempertahankan nilai-nilai budi pekerti di Indonesia walaupun perkembangan teknologi semakin pesat.

Contoh penerapan budaya digital yang bisa kita manfaatkan itu adalah penggunaan sosial media dengan bijak dan positif penggunaannya. Misalnya, pemanfaatan media sosial untuk penjualan produk yang kita atau orang lain hasilkan. Kini kita menggunakan media sosial dengan multiplatform itu artinya adalah media-media sosial yang kita gunakan sekarang dapat digunakan di beberapa perangkat digital ada handphone yang bisa digunakan juga di laptop.

“Itu berarti aplikasi-aplikasinya bisa digunakan atau bisa diakses di beberapa perangkat secara sekaligus karena kemajuan teknologi ini semakin meningkat maka yang kita rasakan itu sekarang kita ada berada di connective world. Kita dapat dengan mudah berinteraksi dengan orang di belahan dunia manapun di negara manapun tanpa kita harus berkunjung ke negara tersebut itu yang namanya dunia berjejaring,” tuturnya.

Ada beberapa platform media sosial berdasarkan survei yang banyak disenangi atau yang banyak diminati oleh remaja yakni Facebook. Tetapi, Verra yakin, jika ada survei lagi remaja paling banyak mengakses Instagram atau TikTok. Karena banyak sekali remaja lebih senang media sosial interaksinya banyak. Lebih sering menggunakan video juga menggunakan foto-foto.

Intinya lebih visual dibandingkan pada saat sebelumnya seperti blog tidak interaktif kenapa karena visualnya lebih sedikit. Belum lagi pengeditan lebih mudah dengan banyak fitur di dalamnya yang menarik. Membuat para remaja kini betah berlama lama berada di kedua media sosial tersebut. Dua platform itu, kini digunakan para remaja berjejaring dan berkreasi secar bersamaan, mereka menambah teman juga sekaligus mengekspresikan diri mereka.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (23/11/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Sisi Suhardjo (Praktisi Public Relation), Ridho Wibowo (Instruktur Virtual Coordinator Training Jawa Barat), Wiwih Kurniasih (Wakasek Bidang Kurikulum SMPN 13 Kota Sukabumi), dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan