Kelalaian Manusia sebagai Celah Kejahatan Siber

kelalaian manusia

Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Kelalaian manusia di balik semua sistem keamanan dan segala prosedur pengamanan yang ada, masih terdapat faktor lain yang sangat penting, yaitu manusia sebagai penggunanya.

Manusia bisa saja mendorong hal positif dan negatif. Ini karena tidak ada sistem komputer yang tidak melibatkan interaksi manusia. Celah kejahatan terbesar pada manusia itu sendiri.

Dalam paparan Muhammad Arifin selaku Kabid. Komunikasi Publik RTIK Indonesia, manusia ini terdiri dari tiga kelompok.

Pertama, yang tidak tahu dan kurang memahami banyak hal terkait keamanan informasi.

Kedua, mengetahui keamanan informasi tetapi abai dan tidak mengimplementasikannya. Dalam kata lain tidak peduli.

Ketiga, mengetahui dan sengaja melakukan aktivitas kejahatan di dunia digital.
Celah-celah kejahatan digital yang harus diwaspadai berada pada keamanan kata sandi sebagai akses utama aplikasi atau akun media sosial, akses jaringan, data pribadi, dan ruang penyimpanan data.

“Ada orang yang mencantumkan password di meja atau di ruangan terbuka. Potensi kejahatan digital ini dominan karena kelalaian SDM-nya yang menaruh informasi penting sembarangan,” ujar Arifin dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (03/11/2021).

Kejahatan digital yang sering terjadi karena kelalaian manusia yaitu Phising yang dipahami sebagai jenis penipuan dengan mengelabui korban melalui email maupun media sosial, seperti mengirimi link palsu dan membuat website palsu.

Orang yang tidak bisa membedakan situs asli dan palsu menjadi korbannya.

Kemudian, jual beli data pribadi di mana kejahatan ini biasanya melibatkan oknum-oknum tertentu yang telah memiliki data-data.

Bahkan, kejahatan jenis ini telah memiliki agen untuk menghimpun data masyarakatnya.

Kita sebagai pengguna pun seharusnya tidak lalai dengan mengunggah data pribadi di ruang publik, seperti nama, alamat, nomor telepon, NIK, NPWP, tempat kerja, nomor rekening, dan nomor kontak darurat.

“Tidak ada istilah aman di ruang digital. Biasakan berperilaku waspada pada setiap aktivitas digital. Selalu pahami privasi, kenali jenis kejahatan, ubah kata sandi secara berkala,” imbau Muhammad Arifin.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (03/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Gabriella Jacqueline (Brand Activation Lead), Bambang Iman Santoso (CEO Neuronesia Learning Center), Ahmad Faqih (Dosen STIMIK IKMI Cirebon), dan Carissa Muhamartha sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan