Bahaya Internet Tanpa Etika

bahaya internet

Bandung Side, Kabupaten Tasikmalaya – Bahaya internet tanpa menilik setiap tahunnya jumlah masyarakat yang terkoneksi di Indonesia meningkat. Banyak faktor seperti paket data yang murah, sinyal yang tersedia, dan pandemi yang mengharuskan kita beralih ke digital.

Sayangnya, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Menurut UNESCO, hanya 0,001 persen masyarakat Indonesia yang gemar membaca.

Di masa serba digital ini, minat baca bisa mempengaruhi seseorang dalam menangkap informasi. Terutama pada informasi yang berisi clickbait.

Dengan minat baca yang rendah orang dengan mudah menyimpulkan isi berita hanya dari judul, tidak dari keseluruhan berita.

“Ketika kita mengambil kesimpulan tanoa membacanya, itu sangat berdampak fatal karena bisa berujung hoaks, pencemaran, dan lain-lain,” tutur Bukhori anggota relawan TIK Sukabumi dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (29/11/2021).

Karena itu, kita memerlukan etika saat memakai internet. Kita harus beretika saat menyampaikan pesan, testimoni, atau komentar.

Saat menyampaikannya, kita harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta bisa dipertanggungjawabkan. Kemudian, etika juga digunakan saat membagikan konten digital dan tautan berita.

Sebagai pengguna internet, sudah seharusnya kita menyeleksi apapun yang ingin dibagikan di dunia tanpa batas tersebut supaya tidak berdampak negatif.

“Kita dituntut untuk lebih kritis ketika mendapatkan sesuatu yang viral di internet atau informasi di sosial media,” ungkap Bukhori.

Informasi yang bisa bersumber dari manapun di internet sangat rawan akan hoaks. Dengan demikian, kita harus lebih teliti dan rajin memeriksa setiap informasi yang didapatkan.

Apabila kita tidak bisa menyaring informasi di dunia digital, dampak yang akan terjadi selain hoaks ialah kegaduhan, perpecahan, tindak pidana, cyberbullying, dan jejak digital negatif.

Sebelum membagikan sebuah informasi, pertimbangkan manfaatnya bagi kita dan orang lain. Pastikan informasi yang dibagikan itu pantas dan etis.

Mulai kritis dan gunakan otak kita untuk menyaring informasi yang masuk.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (29/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Lucia Palupi (Digital Content Music Producer), Herman Pasha (Senior Trainer), Felix Kusmanto (Dosen dan Peneliti SDM), dan Clarissa Darwin sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan