Waspada 7 Jenis Serangan Siber

waspada 7 jenis

Bandung Side, Kabupaten Cianjur – Waspada 7 jenis serangan siber yang diidentifikasi menurut data BSSN, jumlah serangan siber meningkat di tahun 2020.

Serangan siber bahkan naik 4 kali lipat lebih dari tahun sebelumnya hingga menyentuh angka 190 juta kasus serangan.

“Laporan kasus kejahatan Indonesia dari polri sebanyak 2.250 dan terbagi ke beberapa bagian,” kata Dedy Helsyanto.

Kalau dibandingkan data dari BSSN angka laporannya jauh berbeda.

“Ini sangat anomali sekali kenapa laporannya sedikit,” tutur Dedy Helsyanto, Koordinator Program Mafindo dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (12/10/2021).

Dalam paparan Dedy, hendaknya waspada 7 jenis serangan siber yang banyak terjadi di dunia digital. Di antaranya:

1. Malware
Malware adalah penyebaran program komputer yang mencari kelemahan dari suatu software.

Umumnya diciptakan untuk membobol atau merusak suatu software atau sistem operasi.

2. Cracking
Cracking adalah hacking untuk tujuan jahat. Cracker biasanya memiliki tujuan untuk mengambil keuntungan dengan menerobos keamanan komputer orang lain.

3. Phishing
Tindakan memperoleh informasi pribadi seperti user ID, password, dan data-data sensitif lainnya dengan menyamar sebagai orang atau organisasi yang berwenang.

Pelaku phishing membuat situs yang mirip dengan asli, padahal sebenarnya palsu.

4. Scamming
Penipuan yang dilakukan kepada seseorang dengan mempermainkan pikiran dan perasaan agar orang tersebut mau melakukan apa yang diminta oleh scammer.

5. Social Engineering
Sebuah trik penipuan dengan cara meyakinkan korban agar mau memberikan informasi pribadinya dengan iming-iming atau cara yang dapat membuat korban tertarik.

6. Identity Theft
Identity Theft atau pencurian identitas merupaka sebuah proses kejahatan untuk mencuri informasi identitas pribadi seseorang dengan tujuan untuk menggunakan identitas tersebut untuk hal yang ilegal

“Patut diwaspadai agar tidak sembarangan memberikan data pribadi. Misalnya, KTP, NPWP, Buku tabungan,dan lain-lain,” ungkap Dedy Helsyanto.

7. Spamming
Pemakaian alat elektronik yang digunakan untuk mengirim pesan berulang-ulang yang tidak dikehendaki oleh penerimanya.

Dampak serangan siber itu mempengaruhi penggunanya, karena bisa menimbulkan kerugian finansial, kehilangan akses, pencurian dan penipuan identitas, kehilangan kepercayaan, hingga gangguan pada perangkat digital.

Dengan itu, kita perlu melindungi perangkat keras dan lunak kita. Caranya dengan menyusun kata sandi yang sulit, menggunakan two factor authentication, atau face authentication.

Kemudian, selalu back up data kita pada perangkat, memasang antivirus dan enkripsi data.

“Selain itu, selalu ingat untuk tidak membagikan data pribadi kepada siapapun,” tegas Dedy Helsyanto.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (12/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Billy Kwananda (Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis GEKRAFS Jawa Timur), Stelita Marsha (Tenaga Ahli Kemendikbudristek), Erri Gandjar (GA Director OZ Radio Bali), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan