Bandung Side, Kabupaten Karawang – Sadar bahwa internet kini menjadi jendela dunia, sebab buku yang konon menjadi jendela dunia pun sudah dapat dibaca di internet.
Transformasi mengubah segalanya, namun dari semua perubahan yang ada menurut Yousef Bani Ahmad, dosen FKIP Unsika terpenting adalah pengguna sadar mau melaksanakan aktivitas yang baik, mencari informasi yang baik, dan pilih berita yang baik.
“Jangan sampai kita terpapar hoaks, kita sebagai insan yang sadar diberikan anugerah oleh Tuhan memiliki akal dan pikiran,” kata Yousef Bani Ahmad.
“Artinya di sanalah tugas akal dan pikiran bagaimana ketika kita mendapatkan informasi di media sosial kita harus kritisi dulu apakah informasi ini valid atau tidak,” ungkap Yousef Bani Ahmad saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (04/10/2021).
Jika memang valid sampaikan dengan baik-baik. Ketika kita mendapatkan informasi jangan sampai selalu ingin menyebarkan informasi itu supaya viral atau dianggap keren.
Informasi yang baik dapat disebarkan jika tidak memiliki dampak lebih baik disimpan saja sendiri. Inilah sikap yang harus kita lakukan sebagai insan yang memiliki yang nilai-nilai Pancasila dalam diri kita.
“Sebab kita adalah warga negara sebuah bangsa yang majemuk, berbeda suku dan bangsa,” ujar Yousef Bani Ahmad.
Kita juga harus saling menghormati terkait dengan budaya, karakter insan yang berbeda-beda daerah.
Kita melihat perbedaan itu sebagai sebuah rahmat Tuhan. Jangan jadikan perbedaan itu sebagai pertentangan itulah indahnya.
Kita hidup dengan tetangga yang berbeda-beda sehingga dapat mengisi satu sama lain,” tambah Yousef Bani Ahmad.
Perubahan lain di masyarakat pada era digital saat ini ialah muncul kemasan baru baru.
Ada yang disebut dengan FOMO tau fear of missing out, pola perilaku anak muda yang selalu merasa khawatir berlebihan dan merasakan ketakutan akan tertinggal tren yang sedang berjalan.
Kita lihat di media sosial banyak anak muda yang selalu mengikuti apa yang sedang menjadi tren saat ini.
“Bagus jika memang tren yang di ikuti itu ada satu hal yang positif dapat memberikan sebuah semangat baru, motivasi baru,” kata Yousef Bani Ahmad.
Tetapi ini bisa salah jika tren tersebut merupakan sesuatu yang negatif ataupun yang bertentangan dengan budaya Indonesia,” ungkap Yousef Bani Ahmad.
Kecemasan lainnya adalah JOMO atau Joy of mlMissing Out ini kebalikannya dari FOMO.
Pola tingkah laku yang sangat tidak ingin mengikuti yang terjadi bahkan menjauhi dunia digital yang kini sedang ramai digunakan oleh banyak masyarakat.
Mereka merasa senang jika tidak ikut-ikutan dalam sebuah transformasi tentu ini bukan menjadi hal yang baik juga Karena bagaimanapun juga di contoh itu dapat mempermudah hidup kita dan memberikan banyak manfaat jika memang digunakan dengan baik.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (04/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Rubiatna Hardja (dosen LP3I), Ria Aryanie (praktisi Humas dan Komunikasi), Nurlana Sanjaya (Kepala Bidang Penelitian dan SDM RTIK Karawang dan Inayah Chairunissa sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***